Zona Aman, Sebuah Kemahalan Hidup By Heti Palestina Yunani

If you just work on stuff that you like and you’re passionate about, you don’t have to have a master plan with how things will play out. (Mark Zuckerberg)

Semua ada masanya. Saya tak bermaksud berlindung pada kalimat itu atas pilihan-pilihan saya yang bisa keliru atau benar. Tapi jika itu saya terapkan itu saat menjalani sesuatu, sebuah penerimaan luas dalam dada akan tiba-tiba datang membantu saya ikhlas. Seperti terapi, kata-kata bijak yang saya rangkai sendiri sering berguna membuat saya bertahan pada sesuatu. “Oiya, ini memang sudah waktunya,” begitu selalu kira-kira hati saya berkata pada diri sendiri.

Pun ketika saya akhirnya dua kali resign dari dua perusahaan media besar di grup Jawa Pos, pada Februari 2014 lalu berpindah kantor di media lain, lalu resign lagi pada April 2015. Dalam kaca mata saya keduanya adalah media hebat dalam sejarah saya sebagai jurnalis sejak belia yang saya awali di Surabaya Post. Sebenarnya tak akan ada yang ‘tega’ mengambil keputusan berpisah dari tempat kerja yang dijalani belasan tahun dengan passion dana man dalam pendapatan. Tapi saya ingat, semua ada masanya. Sudah waktunya saya harus berhenti. Toh bukan berhenti menjadi jurnalis, tapi tidak berkantor di sana lagi.

Ibu Profesional; Alasan Seksi

Untuk mendasari setiap tindakan, konon perlu alasan, bukan beralasan. Alasan pribadi pun saya buat. Harus ada, karena itu sebagai penguatan diri bahwa keputusan saya tepat. Motivator bilang itu alasan itu motivasi. Salah satu alasan terbesar saya adalah ingin menjadi ibu yang baik (profesional) untuk dua anak saya; Syamsiah Naqsya Afghanistan dan Muhammad Baqi El Vatikan. Terlalu normatif? Alay? Lebay? Ndakik? Klise? Tak saya abaikan sanggahan suara hati saya yang bermain-main dan mungkin dari orang lain yang mencibir, agar saya mantab memilihnya.

Lho apakah selama dulu bekerja belum menjadi ibu yang baik (profesional)? Pertanyaan gugatan saya sendiri itu saya jawab sendiri. Bagi saya, setiap peran itu ada nilai kemahalannya. Maka kalau saya ingin membuat nilai kemahalan saya sebagai ibu naik, maka saya anggap resign sebagai orang bayaran adalah dalam rangka mengejar nilai itu. Saya rasa itu sah bagi seseorang yang sudah tahu apa pilihan utamanya dalam hidup.

Sebagai latar belakang saja, selama menjadi ibu sejak 2001, saat Afghanistan lahir, saya ini sungguh tertolong peran seorang partner mengurus rumah tangga yang bernama asisten rumah tangga (ART) atau pembantu rumah tangga (PRT). Ya dialah yang saya akui berlega hati mengambil alih segala macam tugas yang saya lakukan sebagai ibu; mengantar jemput sekolah, memasak, sampai menemani anak-anak berangkat tidur karena saya selalu pulang kerja di atas pukul 22.00. Jadi, saya akui saya belum ibu profesional.

Tidak beralasan pada jenis pekerjaan atau profesi yang saya jalani, tetapi irama saya sebagai ibu dan pekerja sebuah media memang ada sedikit selisih. Contoh saja; kalau saya berangkat kantor, anak-anak belum pulang sekolah, sebaliknya saya pulang anak-anak sudah tidur. Jelas ada hal-hal yang saya harus ‘relakan’ tak bisa dijalani sungguh-sungguh demi menyeimbangkan itu semua. Ini retorika personal, tak ada debat, tapi seksi. Saya tahu ada ibu pekerja lain yang berpikir berbeda tentang kriteria ibu profesional itu.

Cuma sebagai ibu saya mungkin belum puas banget karena tak mirip-mirip figur ibu almarhum saya yang ibu rumahan kuno betul; merawat anak, meladeni suami, menata rumah tangga . Yang ketika saya pulang sekolah, beliau yang membuka pintu lalu tersenyum, dan saya salim serta mencium pipinya. Namun untuk saat itu –ketika saya kerja kantoran-, tak menjadi ibu macam begitu ya saya merasa tetap jadi ibu fine-fine saja dengan bantuan PRT. Prinsip saya, apa yang sedang terjalani adalah yang terbaik. Simpulannya; saat itu tetap masa yang terbaik untuk saya.

Baru pada Oktober 2014 ketika saya ditinggalkan PRT karena mengurus ibunya yang menderita kanker lalu meninggal, saya mulai menyadari bahwa kekuatan saya sebagai ibu di mata anak-anak, kurang ‘kemahalannya’. Tercetuslah evaluasi diri sebagai ibu dalam diri saya yang datang makin hari ke hari seiring pekerjaan kantor saya yang keteteran. Saya mulai resah dan memecah pikiran untuk bagaimana menyeimbangkan diri sebagai ibu pekerja tanpa PRT. Tapi seperti yang saya bilang di awal; semua ada masanya kan? Masa saya yang baru telah datang dengan keputusan kedua untuk resign. Maka ketika saya tak lagi menjadi pegawai berbayaran rutin, saya juga menganggap itulah yang terbaik untuk saya.

Karena melihat-melihat semua ada kebaikannya, maka kemahalan hidup sebagai ibu yang saya capai pun berbeda. Saya sebut kemahalan hidup karena banyak yang tak ternilai dalam hidup ini selain uang, harta, benda kepemilikan, tas Gucci, sepatu Channel, bra Victoria’s Secret atau entah bentuk materi lain. Setiap orang punya kemahalan hidupnya sendiri-sendiri, yang membedakan pula mana yang membuat bahagia. Sebagai ibu, kemahalan hidup saya bertambah. Paling tertampak ya waktu yang lebih banyak dengan anak-anak; Afghanistan dan Vatikan. Yang tak tertampak ya ketenangan batin sebagai ibu rumahan.

Tidak muluk-muluk. Kemahalan hidup sebagai ibu itu pahit-pahit sedap. Hahaha. Semua orang tua pasti merasakan dua paduan rasa itu. Ada contoh termahal versi saya bagaimana menjadi ibu itu sedap. Ketika tahu-tahu Afghanistan dan Vatikan meniru apa yang saya sukai; membaca buku. Menggiring mereka ke toko tak susah-susah karena mereka punya niatan sendiri. Saya pernah merasa sedap-sedap pahit karena suatu ketika harus membayar dua pilihan buku yang tergolong mahal di tanggal tua; Afghanistan dengan Rindu by Tere Liye, pemenang Islamic Book Award 2015 tentang perjalanan haji di zaman kuno pada1938, dan Vatikan memilih koleksi lengkap Sherlock Holmes by Sir Arthur Conan Doyle.

Karena saya berpikir ada kemahalan hidup di kemudian hari dibandingkan harga buku yang membuat saya langsung bokek lalu terasa ‘pahit’ di kantong, saya berani memenuhi permintaan mereka. Kelak, bacaan-bacaan masa kecil pasti mempengaruhi cara berpikir mereka, kemudian. Kalau tidak, yang membekas adalah sebuah pengalaman tentang alam pikiran orang hebat yang menulisnya. Apalagi mendorong anak-anak suka membaca di era digital sekarang sudah sulit. Dulu kita baca karya Enid Blyton (Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga) bisa khusyuk karena tak terganggu gadget.

Begitu tahu membaca novel sudah jadi tradisi anak-anak tanpa saya harus memaksa atau bersuara keras, itu kelegaan saya jadi ibunya. Soal kemahalan hidup itu, banyak. Saran saya, selalu carilah. Jika hidup tak memberi kemudahan dalam sisi materi, kepuasan batin yang lebih rupa-rupa bentuknya menjanjikan sebuah ketahanan diri yang melebihi apapun. Bagi saya, kemahalan hidup diandaikan seperti sekalung berlian yang tersematkan di leher oleh kekasih yang mabok cinta; rezeki. Yang tahu rasa enaknya dihadiahi begitu tentu tak akan mau kehilangan kesempatan mencari kemahalan-kemahalan hidup. Saya, cukup jadi ibu profesional.  Itu seksi.

Survival = Pelajaran Entrepreneur Dadakan

Saya anggap semua pasti ada hikmahnya. Saat tak lagi menjabat posisi kece di sebuah perusahaan media besar, survival saya diuji coba, padahal hidup sudah lama. Bisa dibilang; naik mobilnya sudah, tapi test drive-nya belakangan, hihihi. Saat itulah jiwa entrepreneurship saya tumbuh begitu saja. Banyak yang tiba-tiba terpelajari. Kalaupun ada yang mendadak saya putuskan tapi ada sadar kalau saya punya strategi untuk menghadapinya. Itu penting karena seseorang tak akan bisa menjalani sesuatu setangguh seseorang yang tahu apa yang dilakukannya atau tahu apa yang di hadapinya di depan, dengan bermodalkan kemampuannya sendiri. Dan saya tahu itu.

Inilah pelajaran pertama entrepreneurship saya mula-mula; bahwa kewirausahaan adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil risiko yang bersumber pada kemampuan sendiri (pendapat S Wijandi, penulis buku tentang entrepreneur). Dengan pilihan itu, maka strategi saya berbalik. Kalau dulu saya ingin dibantubereskan tugas sebagai ibu, agar peran publik saya sukses, maka saya ingin membereskan tugas saya sebagai ibu (pekerjaan domestik) dahulu, baru pekerjaan publik akan saya lakukan. Semua demi survival.

Maka peran publik saya yang juga utama sebagai pencari nafkah utama bagi keluarga kecil saya tiba-tiba saja seperti disesuaikan dengan segala kondisi yang ada. Singkatnya saya merasa tak pernah berhenti menjadi jurnalis yang menjadi profesi ‘warisan’ ayah saya alm yang wartawan senior di Jatim. Kebetulan saya bisa mengelola keredaksian sebuah media online yang menyilakan bekerja lebih banyak dengan internet daripada harus mengantor rutin. Yang mewah dan mahal lagi; pekerjaan itu bisa sembari saya lakukan dengan membereskan pekerjaan domestik di rumah, bahkan sambil bepergian atau momong anak-anak.

Asal ada perangkat elektronik dan wi-fi, saya bekerja. Dari formula ini, saya sampai punya tagar sendiri seperti mantra penyemangat diri; #kerjamomongjalanjalan. Rasanya kalau bekerja sambil bisa momong anak-anak, saya jadi tenang. Karena bisa bekerja di mana pun maka kalau ingin ke luar kota mengurus pekerjaan saya pun saya tak takut meninggalkan pekerjaan. Jadi kalau saya bekerja senang dan tidak dikejar-kejar tagihan bos, saya serasa jalan-jalan setiap saat. Itu menyenangkan. Ah, pokoknya bisa-bisanya saya membuat ‘adonan’ sebagai ibu pekerja (womenpreneur) biar happy. Ini tentu sebuah kemahalan hidup bukan?

Karena waktu saya lebih fleksibel, mengambil pekerjaan sebagai editor buku termasuk siasat yang makin bisa saya maksimalkan mengikuti kondisi. Waktu saya lebih banyak dan bisa diatur sendiri. Tak dinyana, saat ada waktu lebih, saya diminta mengajar mahasiswa FISIP Jurusan Ilmu Komunikasi di sebuah universitas swasta ternama di Surabaya untuk mata kuliah yang saya kuasai sesuai latar belakang saya bagai jurnalis. Ini pacuan dan picuan saya untuk meningkatkan jiwa entrepreneurship.

Yang terseksi lagi ada. Wirausaha saya di bidang art management (Little Sun Art and Media Management) bisa saya jalankan dengan suka. Isinya senang-senang dalam bekerja karena saya bisa mengatur target sendiri setelah pekerjaan saya yang utama sebagai ibu selesai. Duh, itu benar-benar delicious bagi ibu cap apapun! Selain jurnalistik, passion saya yang lain memang art. Saya art lover berat. Semua rupa seni saya sukai. Terkait art, katanya pekerjaan terbaik di dunia itu adalah hobi yang menjadi duit. Bekerja dan berhobi itu yin yang istilahnya, berimbang!

Nah, di bidang art ini saya seperti dipaparkan kenyataan itu. Ada profesi yang saya buat sendiri karena hanya hobi, karena hanya suka; art manager. Ikut kata Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, media sosial favorit saya itu bilang; if you just work on stuff that you like and you’re passionate about, you don’t have to have a master plan with how things will play out. Cocok lah; saya juga mendirikan Little Sun karena ada passion. Entah apa lazim disebut art manager, saya menganggap pekerjaan baru yang lahir dari upaya saya survival itu memiliki keunikan yang tak mudah dimasuki orang dengan mudah.

Artinya peluangnya besar, persaingannya kecil, kebutuhannya khas, dan wilayah garapannya luas. Pikir saya, ya ini salah satu bentuk entrepreneur yang bisa digarap sebelum orang banyak bermain di dalamnya; hanya mengurus artist/seniman khususnya perupa/pelukis. Apalagi mereka yang sudah saya kenal sejak berminat menulis art saat jadi wartawan di lapangan dahulu, ternyata butuh sekali sentuhan dukungan manajerial. Sepelenya begini; biar mereka berkarya, saya mengurus tetek bengek-nya. Konsep sepele ini jadi business deal untuk beberapa art project bersama perupa-perupa ternama Indonesia. Karenanya, saya menemui orang baru, lingkungan baru, dan ilmu baru.

Banyak hal saya perankan sekaligus mulai one women show sampai kini punya tim kreatif sendiri; soal media relations, soal marketing, soal promosi, soal menulis portofolio, soal exhibition, sampai soal menciptakan link dan relasi para pelukis ini di luar lingkungan seninya. Yang menyenangkan dari bisnis art management atau bentuk kemahalan ngglibet di dunia seni buat saya; koleksi lukisan saya sudah puluhan mendekati seratus tanpa dibeli alias hanya diterima sebagai tanda mata. Ah Tuhan memang ada-ada saja membuat saya bahagia.

Bukan Keluar, tapi Masuk

Pelajaran entrepreneur yang lainnya adalah; saya menemukan sebuah pemahaman baru tentang yang mana sih zona aman dalam hidup kita. Sering orang bilang, mereka yang keluar dari pekerjaannya atau resign adalah ke luar dari zona amannya. Bagi saya justru itu terbalik kalau tidak bisa saya mengatakan itu keliru berat. Jika ia resign sebagai pegawai atau orang bayaran, lalu menjalani usahanya sendiri, maka ia sejatinya justru masuk ke zona amannya sendiri, bukan justru keluar dari zona aman deh. Masuk akal nggak?

Sebab betapa meruginya keluar dari zona aman karena itu berarti kita masuk ke zona tak aman dong. Bukannya yang lazim, mereka yang memutuskan resign karena mereka ingin lebih aman dan nyaman? Orang bilang ia merasa lebih merdeka, merasa lebih punya kebebasan, merasa lebih kreatif, merasa lebih bahagia saat ia tidak lagi menjadi pegawai di kantor orang lain. Kalau begitu, apa yang tak menyenangkan menjadi orang kantoran di kantor sendiri yang itu jelas sebuah zona aman, bukan? Ini juga kemahalan hidup itu.

Saya kira ini soal sudut pandang saja tentang mengartikan zona aman mana yang mau kita ambil. Cuma butuh melapangkan dada sendiri untuk melihat sudut pandang itu berubah. Sebaliknya saya juga tak menganggap apa yang saya jalani dulu sebagai pekerja bayaran adalah zona tak aman. Dulu tetap zona aman saya! Sebab kalau dulu zona tak aman, betapa sia-sia dulu saya bekerja belasan tahun, sementara selama itu saya memperoleh pelajaran hidup yang luar biasa dan juga bayaran lumayan. Bisa jadi apa yang saya jalani dahulu sebagai pekerja bayaran adalah yang membentuk mental saya sekarang sebagai womenpreneur (katanya).

Maka, entrepreneurship tak hanya dipelajari saat orang itu tak lagi menjadi orang bayaran. Sayang, banyak entrepreneur mengira dirinya lebih entrepreneur ketimbang orang-orang di dalam kantor yang digaji orang lain hanya karena ia sudah berwirausaha. Kalau bisa sih, menjadi entrepreneur bukanlah ketika resign. Hanya saja memang, jiwa entrepreneurship itu biasanya jauh lebih berkembang saat kita tak lagi bekerja pada orang lain atau berwirausaha sendiri. Ini mengingat situasinya otomatis menuntut kita jauh lebih mandiri, tergerak mengasah kemampuan sendiri, dan dipaksa tak bisa lagi tergantung oleh orang lain (perusahaan).

Memang siapa saja mengakui, keluar dari zona atau tradisi sebagai bukan pekerja bayaran sangatlah tak mudah. Itu terkait perubahan mental mendasar. Bisa jadi seseorang justru (bahkan pasti) dihadapkan pada sejumlah risiko-risiko yang jauh lebih ngeri yang tak pernah diduga saat ia menjadi entreprenuer. Tetapi dalam prinsip entrepreunership ada poin tentang keberanian menanggung risiko. Seperti yang saya tahu dari pendapat dari pemikir manajeman Amerika Serikat Peter Drucer bahwa entrepreneurship adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda sekaligus risikonya.

So, saya harus menganggap apa yang tengah saya tempuh kini dengan pertimbangan utama menjadi ibu profesional sebagai zona aman atau zona nyaman saya. Zona itu salah satu kemahalan hidup buat saya. Kan, zona ini menuntun saya menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dalam hidup saya seperti yang saya bilang tadi. Risiko? Tetap ada, sama seperti risiko yang ditanggung jika saya tetap sebagai pekerja media di perusahaan saya dulu atau di mana pun. Yang penting, kita tak pernah berhenti menemukan kemahalan-kemahaln hidup kita sendiri.

Sekali lagi, semua ada masanya, bukan? Kapan? Kalau saya sekarang. Anda? Mana saya tahu. Ya tentukan sendiri kapan Anda ingin memulai atau mengakhirinya karena semua masa adalah yang terbaik dan mahal. Grab it fast! (naskah: Heti Palestina Yunani (*)-diambil dari buku Otot Kawat Balung Wesi/editor: HPY)

Bagi Heti Palestina Yunani semua bisa dipelajari. Saat bekerja, lulusan Antropologi FISIP Unair ini selalu menyelinginya dengan berdekat-dekatan dengan dunia seni seperti menulis puisi. Beberapa ia titipkan di tiga antologi puisi yaitu Teruntuk Ibu, Puisi Menolak Korupsi 5, Kamus Kecil tentang Cinta dan . Keterlibatan lulusan John Robert Powers itu di seni memang besar. Tapi Heti mengaku ia cuma art lover berat. Jadi kalau pernah main teater, melukis, menyanyi, menulis dan mengorganizer beberapa pameran seni rupa, perempuan kelahiran Lumajang, 15 Agustus 1976 itu menganggap hanya karena cinta. Teman dan lingkungannya yang membuat nyaman lebih banyak seniman. Karena cinta seni, putri seorang jurnalis senior, penggurit dan budayawan Jatim, RM Yunani Prawiranegara itu lalu nekat mendirikan jasa art event organizer berlabel Little Sun Art and Media Management. Kalau pun sekarang getol berbisnis, Heti tak akan rela meninggalkan passionnya di bidang jurnalistik. Mantan reporter Surabaya Post, redaktur Radar Surabaya dan Tabloid Nyata itu, kini mengelola media online PADMAgz.com sambil terima orderan sebagai editor. Tapi dari semua label, pengajar di bidang Ilmu Komunikasi di universitas swasta Surabaya itu hanya mau disebut ibu saja untuk Syamsiah Naqsya Afghanistan dan M Baqi El Vatikan. (heti_palestina@yahoo.com)