Yes, ke Bandung Tanpa Shopping

bandung-villa-isolaKe Bandung kali ini sudah saya pasang niat: no shopping at all. Niat saya ini sempat diragukan oleh banyak teman. “Ke Bandung tanpa ke FO (factory outlet), ah nggak mungkin,” begitu kata sebagian besar mereka. Tapi ini buktinya.bandung-1

Seperti biasa, setiap menuju Bandung saya tak langsung terbang ke sana. Saya selalu memilih landing di Soekarno Hatta Airport. Alasannya, saya ingin menikmati keindahan jalan tol Cipularang. Perjalanan dari bandara sampai keluar tol Pasteur biasanya saya tempuh selama 2 jam.

Tujuan pertama saya ke Villa Isola di Setiabudi yang sekarang jadi Gedung Rektorat UPI. Saya kagum dengan bangunan bergaya art deco ini. Villa Isola yang dibangun pada 1933 adalah milik seorang hartawan Belanda bernama Dominique Willem Berretty.

bandung-majabandung-4Puas menikmati kemegahan Villa Isola saya pun meneruskan perjalanan ke Lembang dan menuju ke Planetarium Boscha. Kabarnya ada wacana memindahkan Planetarium Boscha ke Nusa Tenggara Timur. Ini karena dianggap lingkungan Lembang sudah mengalami pergeseran jumlah bangunan dan kurang efektifnya sebagai pusat penelitian angkasa.

Biaya tiket masuk ke Planetarium Boscha hanya Rp 15 ribu/orang. Murah, tapi informasi dan pengetahuan yang bisa didapat banyak sekali. Nggak rugi deh berkunjung ke sini.

Puas belajar ilmu astronomi di Planetarium Boscha saya merasa lapar. Mampirlah saya ke Maja Restaurant di Lembang untuk late lunch. Selain Maja, banyak resto dan kafe di Lembang yang keren dan mempunyai view yang keren.

bandung-5Di Maja saya memilih duduk di area outdoor sambil menikmati pemandangan alam yang begitu indah. Setelah late lunch, perjalanan saya lanjutkan menuju ke NuArt Sculpture Park, sebuah galeri seni milik seniman besar Nyoman Nuarta. Banyak karya-karya spektakuler Nyoman Nuarta yang dipamerkan di sini.bandung-6

Selain memajang koleksi seni, terdapat kafe dan restauran di dalam kompleksnya yang luas. Saya sempat singgah di kafenya untuk meminum kopi sambil menikmati karya seni.

Menjelang senja dan matahari terbenam saya pun bergegas menuju ke hotel tempat saya menginap yaitu di Noor Hotel. Hotel ini sebenarnya moslem hotel tetapi banyak juga yang non moslem yang menginap disini.

Saya suka banget dengan hotel ini karena lokasinya di tengah kota, banyak kafe, restauran dan warung kaki lima di sekitarnya. Bahkan beberapa FO bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Tapi seperti niatan saya, nggak ada mampir ke FO.

bandung-7Tapi saya memilih nongkrong di warung mobil yang berjualan kopi. Pengelolanya anak-anak muda. Waduh, kopinya sungguh enak. Pssttt yang jual keren-keren hehehe. Kemudian saya menuju ke Jalan Braga yang legendaris itu. Saya parkir mobil di Braga City Walk lalu berjalan kaki menelusuri The Legend Braga. Sampai ke Jl Asia Afrika, saya temui banyak seniman berkostum macam-macam.

bandung-9Mereka ini siap untuk diajak foto bersama dengan memberikan uang sukarela. Ada yang berdandan ala negarawan peserta Konferensi Asia Afrika, ada yang berdandan pocong dan sejenisnya, ada yang berdandan tokoh superhero seperti Batman dan sejenisnya. Saya pun memilih berfoto bersama kuntilanak, hihihi. Salut deh dengan kreativitas para seniman Bandung.

Hari kedua di Bandung, setelah salat Subuh saya bergegas berangkat menuju Tebing Keraton di Taman Hutan Raya Ir H Juanda. Di sana, saya ingin menikmati sunrise di Tebing Keraton. Perjalanan ditempuh sekitar 20 menit dari pusat Kota Bandung. Untung pas saya sampai pas sunrise muncul.

Untuk melihat sunrise di Tebing Keraton, ada tiket masuk yang dibanderol Rp 11 ribu/orang. Sungguh sebuah sunrise yang sangat indah. Nggak nyesel deh bangun pagi-pagi dan sedikit melaju cepat dengan kendaraan pribadi.

bandung-2Selepas sunrise saya kembali ke kota dan mampir sarapan kupat tahu di Jl Gempol yang legendaris itu. Disana juga ada roti bakar yang juga legendaris. Setelah kenyang barulah saya kembali ke Noor Hotel dan mandi terus check out. 

Tujuan terakhir saya di Bandung adalah ke Selasar Sunaryo Art Space di kawasan Dago atas. Selasar Sunaryo Art Space adalah sebuah galeri seni dan kafe seperti di NuArt. Puas menikmati karya karya seni koleksi seniman Sunaryo sayapun duduk dan menikmati kopi di kafe Selasar.

bandung-8Dari sana, selesailah sudah perjalanan saya di Bandung tanpa shopping sedikit pun. Berhasil kan? Sampai kembali ke Soekarno Hatta Airport, saya yakinkan teman-teman kalau saya berhasil membuktikan niat saya. Kesimpulannya, banyak sekali kok yang bisa kita lakukan di Bandung selain shopping. Lebih hemat dan banyak ilmu yang bisa saya dapatkan pula. (naskah dan foto: Sylvi Mutiara/editor: Heti Palestina Yunani)