Usai Kabut, Wae Rebo Menjelma Eksotis

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (15)

Untuk mengelola Wae Rebo sebagai desa wisata, Yosef yang dipanggil Bang Yos dan kawannya pernah ke Bandung untuk mendapat pelatihan pengelolaaan alam. Mereka diberangkatkan ke Desa Ciptagelar di Sukabumi untuk belajar pengelolaan pengadaan listrik dari biogas dan solar cell. Di sana, mereka juga belajar teknik pengemasan untuk penjualan kopi hasil olahan kebun di Wae Rebo.

Atas usahanya ini mereka pernah mendapatkan penghargaan sebagai produk kemasan terbaik pada sebuah ajang kebudayaan antar-daerah. Di luar pariwisata yang mereka bangun, managerial mereka pun sangat baik untuk mengatur kehidupan sehari-hari dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan pangan. Contoh dari managerial pendidikan yang mereka bangun adalah, seluruh anak diwajibkan mengemban pendidikan setinggi-tingginya.

15-Bersama Kru CilikMereka diperkenankan untuk merantau, tidak tertutup akan perkembangan informasi di luar desa mereka. Dekat Desa Denge, mereka membangun satu desa yang diberi nama Desa Kombo, tempat tinggal bagi anak-anak yang bersekolah. Saat hari Senin hingga Jumat anak-anak harus berada di Desa Kombo untuk bersekolah dan saat Jumat mereka diperkenankan naik ke gunung untuk kembali ke Desa Wae Rebo. Jangankan di Desa Kombo, anak Bang Yos pun disekolahkan hingga di satu desa di Manggarai Barat.

Tepat saat saya berkunjung, seorang ibu dari Wae Rebo sedang melakukan pelatihan kepariwisataan di Kota Ruteng. Sungguh saya sangat salut pada kemampuan managerial mereka dalam membangun desa. Saya membincangkannya cukup panjang hampir mencapai dua jam. Puas bercerita, Bang Yos pamit. Kesempatan itu saya pakai untuk bermain bersama anak-anak. Bercengkerama hingga sore, saya dibuat terpingkal-pingkal oleh ulah mereka yang konyol dan lucu.

Menjelang malam saat saya menikmati kopi Wae Rebo, dua orang dari Jakarta telah kembali turun. Hadir juga beberapa turis baik lokal dan mancanegara yang ikut menginap dan menikmati malam di dalam Niang Gena Maro. Asyiknya makan malam sudah disiapkan ibu-ibu. Untuk siapapun yang tidak tahan pedas jangan sampai coba-coba berani mencocol sambal kering olahan mereka.

Puas dengan perut terisi saya yakin akan bisa tidur begitu nyenyaknya tanpa harus kerepotan mencari akomodasi saat berkunjung ke Wae Rebo. Seharian penuh pada hari itu, Wae Rebo dipenuhi kabut. Tapi saat alat seperti gong dibunyikan untuk membangunkan warga keesokan harinya, saya diberikan panorama keindahan yang luar biasa.

Matahari terbit dari balik rumah Niang Gendang utama hingga membentuk awan yang begitu indah, sungguh eksotis pemandangan pagi itu di Wae Rebo. Tidak akan pernah menyesal bagi siapapun yang mencari keindahan Wae Rebo baik dari pemandangan hingga kearifan lokalnya. Senyum mengisi perjalanan turun dari pegunungan Wae Rebo. Saya kembali menuju Desa Denge menyusuri kembali hutan tropis seorang diri. Namun begitu, semangat dan mental untuk melanjutkan eksplorasi kali ini justru terisi penuh.

Tiba di rumah Pak Blasius, hari sudah siang. Badan penuh keringat dan perut kosong. Untungnya, istri Pak Blasius sudah menyiapkan masakĀ an sendiri. Setelah perut terisi, saya berpamitan meninggalkan Denge. Soal Denge, saya jamin siapapun akan merasakan hal yang sama dengan saya yang begitu sangat terkesan atas kehangatan dan kekeluargaan keluarga mereka, khas Wae Rebo. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)