Urung Inap di Borong, Sampailah di Labuan Bajo

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (19)

Waktu terus melaju seakan begitu cepat mendekati tenggat perjalanan saya kali ini. Pagi hari langsung saya berangkat dari Ende dengan tujuan langsung ke Labuan Bajo karena berniat meneruskan dengan destinasi melihat keindahan iconic Flores yaitu Komodo. Kembali melewati Pantai Koka dan selanjutnya masuk ke perdesaan dan perbukitan daerah menuju Kota Bajawa.Pesisir Pantai Koka

Di tengah perjalanan ternyata saya terhadang perbaikan jalan akibat longsor, saya pun terhambat hingga satu jam. Berhasil melewati jalan berpasir akibat tanah longsor, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan sedikit terburu-buru karena langit yang biasanya cerah berubah menjadi gelap gulita.

Gerimis akhirnya turun, sekalian memandikan Si Jangkrik yang hampir dua minggu dipenuhi debu. Meski besah, tetapi saya masih paksakan untuk menerobosnya. Semakin lama ternyata hujan semakin deras. Saya dipaksa menyerah untuk berteduh. Jas hujan sudah dipersiapkan untuk perjalanan ini tetapi sepertinya tidak akan membantu menghalau hujan pada saat itu.

Si Jangkrik Bermandi LumpurTanah-tanah longsor pun berubah menjadi lumpur. Cukup lama saya tertahan oleh hujan saat itu, hampir dua jam saya hanya menunggu di bawah bangunan tak berpenghuni sambil melihat aliran hujan yang membawa lumpur mengalir menuju daerah yang lebih rendah. Mental saya jatuh cukup jauh untuk kondisi ekstrem seperti ini. Rasanya marabahaya kembali menjadi rasa takut untuk melanjutkan kembali perjalanan.

Hujan akhirnya benar-benar reda. Saya coba bangkit lalu memacu Si Jangkrik perlahan melintasi jalur Trans Flores. Saat tiba di persimpangan Bajawa, mulanya saya ingin sekali melihat Desa Megalit Bena yang tidak jauh dari sana. Tetapi kondisi fisik dan mental sudah drop mengubah rencana itu sehingga saya terus melaju munuju barat Pulau Flores.Langit Desa Cancar

Kembali meliuk-liuk di jalan yang begitu panjang menuju Aimere menjadikan energi semakin terkuras. Baru sore hari saya tiba di Kota Borong. Tapi saya putuskan tetap melanjutkan karena harga penginapan di sana cukup mahal sementara uang saku saya semakin menipis. Perjalanan hari itu saya akhiri di Kota Ruteng. Beruntung saya mendapatkan penginapan yang jauh lebih murah atau sepertiga dari harga penginapan di Borong.

Setiap pagi memulai perjalanan selalu saya awali dengan diiringi doa. Hari itu doa yang saya panjatkan begitu banyak karena mental saya harus kembali bangkit untuk melanjutkan eksplorasi ini. Menghilangkan rasa takut yang muncul saat kemarin, saya pun menyimpang menuju bukit yang menyuguhkan pemandangan susunan sawah dengan ‘garitan’ membentuk sarang laba-laba di Desa Cancar. Sawah Cancar

Pemandangan itu pun benar-benar berhasil menenangkan hati dan membangkitkan mental saya. Meski sawah di sana sudah dipanen tetapi rasa takjub saya akan sistem persawahan di sana mengaburkan rasa takut yang sempat hadir kemarin. Puas melihat pemandangan dari atas bukit, saya kembali melanjutkan perjalanan.

Kondisi jalan yang sudah terbiasa dilalui meski meliuk-liuk tajam menjadikan kecepatan Si Jangkrik cukup tinggi. Hingga akhirnya bisa tiba di Labuan Bajo pada pukul 13.00. Saya memilih mengambil penginapan saat saya tiba di kota itu, karena harganya yang sangat murah. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)