Tiara Craft Berdayakan Tunadaksa Berkarya

Siapa sangka tas-tas cantik, pakaian dan pernak-pernik maupun produk fashion lainnya yang unik dan menarik dari Tiara Craft ini dikerjakan oleh para tunadaksa? Jahitan yang halus serta desain menarik, yang selama ini biasa dikerjakan oleh mereka yang memiliki anggota tubuh normal dan lengkap, kini bisa dikerjakan dengan hasil yang tidak kalah kualitasnya oleh mereka yang memiliki ketidaksempurnaan pada tubuhnya.

Adalah Titik Winarti, 43, memberikan hidupnya untuk tunadaksa. Dia mampu mengubah nasib para tunadaksa ini untuk membuat hidup mereka lebih bermanfaat. Mereka tidak hanya diberikan pelatihan, tapi juga dibukakan lapangan pekerjaan supaya apa yang dipelajari bisa dipraktikkan langsung dan menghasilkan. Sebelumnya, Titik menekuni usaha mengolah barang bekas seperti toples, kaleng susu dan tekstile menjadi lebih cantik dan menarik yang dirintis sejak tahun 1994. Tanpa disadari, di antara para karyawan yang bekerja padanya selalu ada penyandang tunadaksa, dan selama ini hanya dianggap sebagai tenaga tambahan saja.

Setiap lebaran para karyawan selalu pulang kampung dan celakanya, seringkali mereka tidak kembali. Ini yang kemudian membuat Titik kebingungan dan sempat ingin menutup usaha karena kesulitan mendapatkan karyawan. Namun, salah seorang karyawannya meminta agar dia tetap melanjutkan usahanya, dan memberikan kesempatan pada sesama penyandang tunadaksa agar mereka bisa melakukan kegiatan yang lebih berarti.Hati kecilnya terketuk. Ia lalu membulatkan tekad untuk memberikan kesempatan pada para penyandang tunadaksa. Tidak setengah-setengah, Titik bahkan menjadikan tunadaksa adalah syarat utama menjadi karyawannya.

Tentu saja hal ini mengorbankan omset bulanannya. Bekerja dengan orang normal saja terkadang masih ada kekurangan, apalagi dengan tunadaksa. Di awal-awal menjalankan usahanya yang baru, banyak yang harus dikorbankan. Biaya operasional yang tinggi karena semua karyawan makan dan tinggal di rumahnya, ditambah lagi waktu yang lebih lama untuk mengajarkan keterampilan pada mereka. Belum lagi pandangan miring orang lain yang menganggap Titik mengeksploitasi karyawannya demi sebuah keuntungan. Dengan bekal tekad bulat dan niat tulus untuk membantu para tunadaksa, ibu lima anak ini terus maju menerjang semua hambatan itu. Prinsip yang dipegang hingga kini adalah, kalau tidak ada yang mau memberi kesempatan pada mereka, siapa lagi yang harus peduli.

Bagi Titik, tunadaksa bukan hambatan untuk berkarya, mereka tetap manusia yang berakal dan mampu memberi manfaat baik untuk diri sendiri dan lingkungannya. Dengan prinsip itu, banyak hal yang diberikan Titik pada karyawannya. Bukan hanya kesempatan untuk menjadi lebih bermanfaat, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri pada mereka. Sebagai orang yang sehari-hari bersama para tunadaksa, dia menyadari betul permasalahan utama karyawannya bukan pada kemampuan melainkan mental mereka yang memerlukan dukungan terus-menerus. Tak kenal lelah Titik mensupport anak didiknya agar mereka berani mengeksplor kemampuannya.

Saat ini kita sudah bisa menemukan karya-karya mereka baik di galeri Tiara Craft yang beralamat di Jl Sidosermo Indah II/5, Surabaya, atau pun di tempat lain. Kerajinan yang unik dan layak dijadikan oleh-oleh bagi pengunjung kota Surabaya. Semua produk keluaran dari Tiara Craft tidak menggunakan merek karena mereka juga menyuplai untuk brand-brand lain. Lebih dari itu karya para tunadaksa bimbingan Titik Winarti ini sudah diekspor hingga manca negara seperti Singapura, Belanda, Amerika. Jadi apakah Anda akan tetap mengatakan karya tunadaksa tidak lebih baik dari mereka yang normal? Ada baiknya Anda membuktikannya dengan berkunjung ke Tiara Craft, dan Anda akan terkagum-kagum dibuatnya. (pad)