Trekking ke Bekas Kampung PD II

Sukses Membuang  Stress di Bario Highlands (5)

Saat trekking di sekitar Bario, Sarawak, Malaysia, kami diajak mengunjungi sebuah situs megalit yang unik. Kami harus menyusuri padang luas dibelakang kampung yang dipenuhi oleh tanaman pakis merah liar untuk sampai ke situs megalit ini.

Jalan kecil dan sederhana serta gerbang tua berpagar sederhana dilewati. Ternyata di dalam sana masih ada persawahan yang cukup luas dan juga perkebunan nanas. Jika tidak hati-hati maka duri daun nanas akan menggores kulit.

bario5-jalanan setapak menuju trakkingSaat itu musim panen padi dan nanas sudah selesai jadi sawah dan kebun kosong melompong tanpa ada sisa panen. Perjalanan selanjutnya melewati kebun karet tua yang rimbun dan perjalanan mulai memasuki kawasan rawa-rawa.

Dengan berhati-hati kami menuju sebuah batu besar tingginya sekitar 3 x tinggi orang dewasa dan lingkarnya kurang lebih 10 kali bentangan tangan orang dewasa. Batu ini bernama Batu Narit yang merupakan salah satu dari 300 situs sejarah megalitikum di area ini.

bario5-batu naritDi bagian paling atas terdapat lukisan kuno “Upai Semaring” sebagai penanda batas wilayah kekuasaannya. Tapi semua ini masih misteri dan hanya menjadi cerita penduduk kampung. Saya sempat memanjat ke atas batu untuk melihat lebih jelas sambil mengambil gambar.

bario5-batu narit2Tentu saja dengan udara sesegar ini rasanya rugi kalau tidak melakukan aktivitas di luar. Pilihan melakukan hiking dan trekking adalah hal yang menarik dan menyenangkan untuk dilakukan.  Tapi agar memudahkan perjalanan dan tidak tersesat gunakanlah pemandu lokal.

bario6-plang nama kampung pa umorKami sudah siap diantar menuju jalur trekking yang paling mudah dari Bario menuju kampung Pa’ Umor. Masuk melewati jalan setapak yang becek berlumpur bekas dilewati kerbau membuat kita ekstra hati-hati agar tak terpeleset masuk kedalam kubangan. Selain itu kami diajak melewati rawa-rawa yang hanya bisa dilewati dengan menginjak kayu bulat.

Perlu bantuan tongkat kayu untuk memudahkan kita berjalan. Jalan mendaki dengan kemiringan 45 derajat dan puncak dataran tinggi yang terdapat savana luas yang dipenuhi kotoran sapi dan kerbau. Di dataran tinggi ini juga terdapat bekas kampung yang sudah ditinggalkan akibat Perang Dunia II. Masih ada beberapa peninggalan lubang Jepang yang tersisa di sini. bario5-hutan untuk trekking

Kami juga melewati hutan basah yang penuh dengan lintah. Jika tidak hati-hati bisa saja binatang ini menempel. Beberapa kali pemandu mengingatkan daerah mana saja yang mesti diwaspadai.

Perjalanan pun diiakhiri saat kita melewati jembatan gantung yang terbuat dari kayu di atas sungai berbatu setinggi 30 meter. Selesai menyeberang dan bergoyang di atas jembatan maka kita sampai lagi di jalan kampung menuju pintu gerbang kampung Pa’ Umor yang kami masuki tadi. (teks dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)