Traveling Itu Penghayatan Jiwa Raga

Love, Art and Journey Membangun Padma (2)

Tentang cerita saya pada lori itu sangat membekas. Pada masa itu, kematian para kuli lori mengurangi laju roda besi itu adalah sesuatu yang mengerikan di mata kanak-kanak seperti saya. Rumah kami yang berada persis di depan rel lori, akan segera mengetahui berita-berita tentang kecelakaan semacam itu.

Pernah terjadi mayat diangkut dengan lori, dan berhenti di depan rumah. Seminggu lebih saya tak bisa tidur, membayangkan ngerinya jika mayat itu hidup lalu berjalan ke arah saya, atau memanggil nama sambil berbisik di antara lobang dinding kayu kamar saya.

Untung kondisi  transportasi membaik, menjelang saya tamat SD,  lori-lori itu ditarik dengan lokomotif. Maka berakhirlah penderitaan para kuli lori. Mereka beralih profesi menjadi kuli loko, yang menarik kayu-kayu dari hutan ke atas lori, lalu dibawa ke kota dengan loko.

Nah, ketika kelas 1 SMP, jalanan dari Ngasem ke Kota Bojonegoro telah mengalami perubahan. Sedikit halus walaupun belum kena aspal. Maka mulailah jalan darat ini berfungsi, kami bisa ke kota dengan angkudes. Mendadak bau bensin menjadi semacam aroma asing yang memancing rasa mual dan pusing.

Suatu hari saat pelajaran Bahasa Indonesia, seorang guru Bahasa Indonesia bernama Pak Setiadi (alm) memberi kami tugas membuat kalimat dengan kata dasar lari. Saya membuat kata pelarian sebagai kata induk.

Saat saya membacakan kalimat itu, Pak Setiadi tercengang. Dari mana seorang murid kelas 1 SMP di desa mendapat asupan kalimat semacam itu?  Kelas 1 SMP di desa, mungkin belum selayaknya tahu kalimat itu karena pelarian bisa bermakna majemuk: Penjahat yang kabur, orang yang tidak bertanggung jawab, dll.

Sementara kawan lain saat itu kalimatnya tendensi pada “lari” secara fisik. Beliau baru ngeh dari mana saya membuat kalimat setelah tahu bahwa saya banyak membaca. Bapak membaca Panjebar Semangat,  saya juga membaca majalah perempuan yang saya pinjam dari guru-guru perempuan, kadang meminjam majalah remaja dari kawan-kawan yang mampu.

Membaca ternyata membuat ‘Pelarian’ menjadi semacam kekuatan alam bawah sadar bahwa berdiam itu adalah statis. Traveling adalah bergerak, berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dari satu moda transportasi, kepada moda lainnya. Dikarenakan sejak kecil saya suka menari, berdeklamasi dan menabuh gamelan, maka seluruh konsep traveling saya mengalami apa yang disebut: penjelajahan.

Ibarat orang melihat peta, saya ingin masuk ke dalam noktah-noktah peta itu bukan sekadar membaca, tapi melebur di dalamnya. Dari pengalaman itu saya menyimpulkan traveling bukan hanya packing, mengendarai sesuatu, berfoto, lalu berpuas-puas memandangi hasil kerja kamera. Sama sekali bukan.

Traveling adalah menikmati perubahan udara, membaui detak jantung sebuah kota, mencatat hal-hal detail yang luput dari perhatian, menikmati sudut sederhana yang menyimpan dialek berbagai irama. Maka traveling bagi saya adalah sebuah penghayatan jiwa dan raga. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)