Traveling: Hobi Potensial Mengajak Miskin

Love, Art and Journey Membangun Padma (4)

Saya telah menjadi karyawan Telkom sejak tahun 1983, memulai pekerjaan sebagai tenaga honorer yang dibayar Rp 50 ribu sebulan. Karir saya tidak fantastis, tetapi saya menikmati pekerjaan sebagai karyawan sebuah BUMN yang mengalami berbagai transformasi organisasi ini.

Gaji bukanlah satu-satunya alat pemuas bagi karyawan seperti saya. Tetapi side bennefit-nya: baik dari pembelajaran keilmuan, tataran dunia praktik, hingga network yang kelak sangat berguna ketika saya akhirnya berani melepaskan diri.

BUMN raksasa yang menjadi idola banyak pencari kerja ini, dalam perkembangannya harus mengambil keputusan realistis: pengurangan karyawan. Bagusnya, Telkom tidak melakukan PHK massal, melainkan melalui mekanisme tawaran.

Perusahaan memberikan peluang, karyawan mengajukan diri, panitia membuat penilaian, barulah keputusan keluar. Pada 2009, saya memberanikan diri mengajukan pensiun dini. Tetapi tidak lolos.

Sebenarnya pada tahun itu saya masih setengah hati untuk membuat keputusan. Dan Tuhan tahu bahwa saya sebenarnya belum siap lahir bathin. Keputusan ini lebih berpijak kepada upaya saya melepaskan diri dari jatah cuti yang hanya 12 hari kerja.

Sementara kebutuhan saya akan cuti melebihi jatah kantor. Kenapa saya perlu banyak cuti? Ialah untuk melaksanakan hobi. Hobi yang berbahaya, karena potensial menghabiskan uang atau mengajak miskin yaitu: traveling.

Kemudian pada tahun 2011, kembali saya mengajukan diri. Pertimbangannya: selain saya  memiliki pengalaman sebagai event organizer,  saya punya bisnis sampingan yang saya kerjakan sejak tahun 2002.

Dimulai dari di garasi rumah hingga akhirnya punya gerai di Resto dan Mall di Surabaya. Toko batik dan handicraft ini saya beri nama: Talita Ethnica ®. Bisnis inilah yang membawa saya keliling Indonesia dan ASEAN berkat Dinas Perindustrian Kota Surabaya, Dinas Koperasi dan Pemerintah Provinsi Jatim.

Jadi dalam kepala saya, kalau pensiun dini saya dikabulkan, maka pekerjaan pertama yang akan saya serius jalankan adalah Talita Ethnica® Batik&Craft. Selain punya misi berdagang antar daerah, maksud terselubungnya adalah: traveling! Tentu saja menjalankan bisnis yang satu lagi event organizer.

Proses pengajuan pensiun dini berlangsung berlapis-lapis. Wawancara demi wawancara saya hadapi. Tetapi yang paling berkesan dan nempel di kepala saya adalah, wawancara dengan Serikat Karyawan, yang mengabarkan bahwa 80 persen bisnis para peserta pensiunan dini itu gagal!

Fakta kegagalan ini seringkali membuat banyak pihak miris, sebab memang tidak mudah menjadi entreprenur di saat usia tak muda lagi. Usia saya 48 saat itu. Amat sangat terlambat untuk memulai bisnis. Benarkah atau salahkah keputusan saya akhirnya? (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)