Tongseng Sedap Berdaging Impor

Tongseng, makanan khas Solo, Jawa Tengah, ternyata juga disukai para tamu manca negara yang menginap di Hotel Singgasana Surabaya. Rasa dan tekstur daging yang diolah menjadi kelebihan menu ini. “Aslinya resep tongseng itu memakai daging kambing atau sapi lokal. Tetapi, di hotel kami memakai daging impor,” kata Public Relations Manager dan Executive Secretary Hotel Singgasana Surabaya.

Nama tongseng pun muncul diperkirakan karena dulu daging kambing dan sapi tersebut dimasak dalam tong yang terbuat dari seng. Sedikit modifikasi, untuk menjaga kualitas penyajian, pihak Singgasana memilih bagian daging kambing, sirloin, dan daging buntut sapi impor dari Amerika Serikat. “Bagian kambing yang dipakai lamb chop yang lembut dan juicy itu, serta paha kambing,” ucapnya.

Namun, khusus daging buntut sapi, sebelum dicampur dengan bumbu, direbus dahulu sampai dagingnya empuk. Lamanya satu jam kalau daging impor dan bertambah 20 menit kalau lokal. Begitu pula dengan iga kambing, yang memerlukan waktu merebus selama 10 menit untuk impor dan 30 menit untuk lokal. Iga kambing ini dipilih yang terdapat banyak lemaknya.

Bahan tersebut dicampur dengan bumbu khas masakan nusantara seperti kunyit, ketumbar, daun jeruk, jahe, ketumbar, bawang merah, bawang putih, cengkeh, jinten, dan kemiri. “Tidak lupa kecap sebagai pelengkap rasa manis, asin, dan pedas tongseng,” ujarnya.

Masakan tongseng yang asli sebenarnya daging diolah seperti sate. Diiris dadu kecil, lalu dicampur kecap, perasan air lemon, dan minyak goreng. Setelah direndam dan ditusuk seperti sate, daging dibakar. Daging matang tersebut lalu diracik dengan bumbu. Air perasan lemon yang dipakai bisa menghilangkan bau prengus kambing.

Lain dengan daging sirloin sapi. Cukup ditumis saja bersama bumbu tanpa dibakar terlebih dulu sudah empuk teksturnya. Tongseng itu sendiri mirip dengan kare tetapi tanpa santan dan memakai kecap, ditambah sayuran seperti kubis dan tomat. (naskah dan foto: Heti Palestina Yunani/editor: HPY)