TITIE SURYA; Menulis untuk Kartasis Jiwa

Titie Surya hapal betul rasa sakit karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Tak ingin tenggelam dalam lara, Titie memilih berdamai dengan duka. Dengan menulis kisah hidupnya dan menebar inspirasi kepada masyarakat, ia menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Saat menceritakan itu semua, kelopak mata Bunda Titie –sapaan karibnya- sedikit berembun karena air mata. Bukan karena sedih, melainkan rasa bangga dan bahagia yang luar biasa. Beberapa anggota komunitas Cerita Nulis Diskusi Online (Cendol) yang dia bina telah berhasil menerbitkan buku dari berbagai genre. Ditambah anggota Cendol kian hai terus meningkat hingga mencapai 7.648 di seluruh Indonesia.

“Rasanya sangat bahagia melihat mereka berkembang dan semakin banyak yang antusias belajar menulis,” kata Titie yang pernah menjadi Koordinator Cendol Chapter Jatim  yang dijuluki Bondo Cendol Eksklusif Jawa Timur (Bonektim) itu.

Perempuan murah senyum kelahiran Jakarta, 12 Januari 1970 ini memang gemar menulis sejak kecil. Tekadnya untuk terus menggiatkan budaya menulis di masyarakat pun tidak serta merta menjalani proses yang instan.

Perempuan yang baru empat tahun tinggal di Kota Pahlawan ini harus melewati saat terberat kehilangan orang terkasih untuk selama-lamanya dalam waktu yang hampir bersamaan. Tepatnya di penghujung tahun 2006, Titie yang sedang berbadan dua harus merelakan kepergian suami tercinta.

“Tahun 2007 anak saya lahir. Tapi tahun 2008 putra semata wayang saya harus menyusul ayahanda, kakek dan neneknya,” urainya menerawang. Daur kehidupan yang berat dan kata orang menyakitkan, perlahan tapi pasti berhasil dia lewati. Alumnus sekolah akupuntur di Singapura itu mulai menghidupkan kembali hobi menulis yang sempat luput dari perhatiannya.

Titie menyadari, di dalam ritual menulis ada semacam proses katarsis jiwa. Segala emosi dan perasaan entah sedih, bahagia, galau, kecewa dan apa pun dia lepaskan semua dalam bentuk tulisan. Terhitung, sudah 12 buku bertema kesehatan dan sastra yang telah dia tulis. “Saya menulis apa yang saya lihat, apa yang saya dengar dan apa yang saya rasakan. Saya juga jadi semakin percaya rahasia Tuhan, bahwa di balik kesedihan pasti ada kebahagiaan,” cetusnya.

Sebagai sumbangsihnya di dunia penulisan, penulis antologi cerpen Surabaya Whatever I Love (2012) ini semakin giat berburu bibit-bibit penulis muda unggul. Titie aktif mengadakan workshop menulis di taman bacaan masyarakat (TBM) Kawan Kami di area lokalisasi Dolly dan di beberapa sekolah. Tak jarang, Titie dibuat terkesan dengan hasil kreasi yang dibuat oleh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD).

Titie sangat percaya dunia kepenulisan di Jatim akan semakin berwarna oleh kehadiran penulis muda yang siap menjadi rising star. “Intinya mereka tidak boleh takut salah ketika menulis. Kalau mau nulis ya nulis saja. Asal secara kontennya tetap benardan terarah,” pungkasnya. (naskah dan foto: Fikri Angga Reksa/editor: Heti Palestina Yunani)