Tiga Tahun Mengenang Johan Budi Sava

JBS1Pada 4 April 2014, Johan Budi Sava meninggal di Malang. Sebelum itu, Didi Cahya sempat mewawancarainya untuk edisi PADmagz cetak kala itu. Rasanya setelah tiga tahun berlalu, tulisan ini bisa dihadirkan lagi mengingat saat itu tulisan ini tak jadi dimuat. Tulisan Didi ini bisa membuat teman-teman yang mengenalnya bisa kembali mengenang sosok Johan mulai usaha toko buku yang didirikannya sampai hobi ngebut dan kulinernya.

Dari Bisnis Toko Buku hingga Wisata

Sosoknya yang kalem, tenang, dan murah senyum selalu membuat orang yang tidak mengenalnya tidak sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang pengusaha toko buku yang telah memiliki 27 cabang dan sedang mengembangkan bisnis pariwisata. Usia ke lima puluh tahun yang baru dirayakan pada 22 Februari 2014 juga tidak terlihat dari penampilannya yang selalu tampak muda. Dialah Johan Budi Java, pemilik jaringan toko buku Toga Mas yang cabangnya tersebar dari Bandung hingga Sorong.

“Saya senang, saat ulang tahun ke lima puluh kemarin semua sahabat berkumpul. Bukan perayaan ulang tahun yang saya harapkan, namun momen berkumpul seperti ini yang dinanti-nantikan. Tidak mudah mengumpulkan orang yang memiliki kesibukan beragam di satu waktu dan tempat,“ ujarnya sumringah, menceritakan perayaan usia setengah abadnya yang diperingati bersama para seniman dan budayawan di Yogyakarta akhir Februari lalu.

JBS2Tidak heran jika saat berkumpul bersama sahabat dan kerabat ini menjadi momen spesial bagi pria yang dalam sebulan bisa menghabiskan waktu berkeliling ke luar kota hingga 20 hari itu. Business travelling menjadi aktivitas yang tak terelakkan. “Tapi saya suka. Di saat melakukan kunjungan ke suatu tempat untuk urusan bisnis, apalagi sebelumnya belum pernah didatangi, selalu kulinernya yang saya incar,” katanya.

Johan selalu berusaha menyempatkan diri bertemu dengan sahabat-sahabat di kota yang didatanginya. Mengobrol sambil makan-makan adalah kegiatan yang disukainya. “Tidak harus restoran mahal. Bersama teman-teman yang sudah menjadi direktur atau CEO, saya suka makan di warung atau emperan yang makanannya memang enak. Untuk urusan bisnis mungkin memang harus makan di resto, tapi kalau kumpul-kumpul kita bisa makan di mana saja, pokoknya enak,” ujarnya.

Yogyakarta adalah salah satu kota favoritnya. Selain karena banyak teman untuk bertukar pikiran, Yogya memiliki kekayaan kuliner yang seringkali menantang penggemarnya untuk mengejar makanan enak itu hingga ke tempat-tempat yang ‘tidak lumrah’. Bukan di tepi jalan besar, melainkan masuk hingga ke pelosok desa. Bukan hal yang memberatkan bagi Johan, mengingat salah satu hobinya adalah menyetir mobil.

“Pokoknya, kalau sudah mulai stres, saya langsung ambil kunci mobil, jalan-jalan. Kalau memungkinkan untuk mengebut, saya langsung tancap gas hingga lebih dari 200 km/jam. Tapi ya tidak sembarangan. Biasanya di jalan tol baru hobi itu keturutan. Anak saya saja sering ketakutan kalau saya sudah mulai mengebut,” sambil tertawa Johan menceritakan hobinya yang bertolak belakang dengan penampilannya yang kalem itu.

JBS3Bersama keluarga, pria yang mulai melebarkan usahanya ke bisnis pariwisata ini selalu menyempatkan diri berlibur ke luar negeri pada akhir tahun. Meski sudah berkeliling ke banyak benua, Asia tetap menjadi destinasi wisata yang menarik baginya. Kekayaan budaya dan kuliner yang eksotis membuatnya tidak bosan untuk kembali mendatangi negara-negara Asia, baik untuk berbisnis maupun  berlibur.

Berbicara tentang bisnis pariwisata, sontak mata anak ke sebelas dari dua belas bersaudara ini berbinar,  “Bisnis pariwisata ini sedang bagus-bagusnya. Bisnis ini juga sebenarnya berdampak bagi industri lainnya. Di Cina, misalnya. Orang ikut tour diarahkan untuk mendatangi beberapa tempat industri yang ini sebenarnya secara tidak langsung mempromosikan produk-produk Cina melalui pariwisata.”

Kefasihannya berbicara tentang pariwisata tak perlu diragukan lagi. Bisnis pariwisata mulai dirambahnya dengan mendirikan Hotel Rio Asri di Bengkulu, tak jauh dari Kantor Gubernur dan Benteng Marlborough. Pariwisata menjadi target bisnis berikutnya setelah berhasil mengembangkan Toko Buku Toga Mas, mengingat saat ini semakin banyak orang yang menghabiskan uangnya untuk berwisata. “Perputaran uang di bisnis pariwisata saat ini sangat tinggi. Lihat saja, orang kalau punya uang pasti inginnya jalan-jalan.” Beralihnya para pembaca buku ke media-media digital juga menjadi salah satu alasan mengapa pria asli Malang ini ingin memperluas jangkauan bisnisnya di luar toko buku.

JBS4Cara Johan bercerita yang kalem dan banyak diselingi tawa membuat orang sering mengambil kesimpulan bahwa dia sosok yang tidak pernah stres. Ketika ditanya apa yang dapat membuatnya stres, lagi-lagi dia tertawa lalu menarik nafas panjang sebelum menjawab, “Saya paling stres kalau sedang banyak janji. Sehari bisa janji dengan banyak orang. Rasanya belum selesai urusan satu sudah harus pindah tempat menemui orang lain lagi. Stres saya,” katanya.

Lalu apa yang membuat Johan bisa menikmati hidup? “Bertemu banyak orang,” ujarnya terbahak. Suasana kafe di salah satu Toga Mas di Surabaya mendadak riuh dengan tawa PADmagz bersama JBS, inisial yang sering digunakan untuk menyebut nama Johan. Betapa tidak, di satu sisi dia sering stres saat memiliki janji dengan banyak orang, di sisi lain stres itu hilang saat dia bertemu dengan mereka. Ada keseimbangan yang saling mengisi, antara stres dan menikmati hidup.

Itulah Johan Budi Sava. Seorang pengusaha, pecinta seni, penggila buku, yang jika ditanya dia ingin dikenal sebagai apa, maka jawabannya adalah, “Saya ingin dikenal sebagai orang biasa. Bukan public figure, bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa.” (naskah: Didi Cahya/foto: Leo Arief Budiman/editor: Heti Palestina Yunani)