Tidur Ala Kampung di Kampoeng Djawa

Penginapan murah yang menjamur di Yogyakarta seringkali membuat pelancong seperti tebak-tebak buah manggis, apakah akan mendapat tempat yang enak atau malah zonk. Demikian juga dengan PADmagz yang sedang berkunjung ke Yogyakarta untuk kesekian kalinya. Penginapan murah di kawasan Malioboro, terutama Sosrowijayan dan Dagen sudah sering menjadi tujuan. Kali ini pilihan jatuh ke kawasan Prawirotaman.

IMG-20160215-WA0005Lagi-lagi kebingungan melanda, mengingat penginapan-penginapan di sekitar Jl. Parangtritis, termasuk di Prawirotaman, Tirtodipuran, dan sekitarnya saling menjual keunikan. Akhirnya pilihan jatuh ke Kampoeng Djawa yang berada di Prawirotaman I/40. Mengapa Kampoeng Djawa? Konon kamarnya khas kampung di Yogyakarta dan hasil foto-fotoan di sana medsosable. Oke, online reservation done.

IMG-20160215-WA0010Sesampainya di depan hotel, sempat bingung. Tidak tampak plang yang bisa dibaca jelas, apalagi PADmagz datang malam hari. Setelah dicermati, plang itu ada di atas pintu masuk yang lebarnya hanya sekitar 2 meter, pintu gebyok (pintu kayu khas Jawa) yang tetutup pula! Untung tukang ojek langganan sudah hapal, jadi tidak perlu mencari-cari. Saat pintu gebyok dibuka, baru terlihat meja resepsionis di lorong ruangan sempit memanjang. “Beneran nih tempatnya?,” batin PADmagz mulai ragu.

IMG-20160215-WA0012Ternyata reservasi atas nama PADmagz ada di situ dan langsung diarahkkan ke kamar yang ada di lantai dua. Sesampainya di atas lagi-lagi PADmagz bingung karena tidak ada nomor di pintu. Ternyata memang kamar di penginapan ini dibuat se-‘ngampung’ mungkin, hingga petunjuk nomor kamar pun tak ada. Dan sewaktu pintu kamar dibuka, ternyata suasananya kampung dan lawas banget. Mata PADmagz langsung menyapu kamar yang berisi ranjang rumahan yang nyaman dengan kasur dibungkus sprei batik nan dingin, meja rias dan lemari baju lawasan, dan bata ekspos yang dibiarkan begitu saja. “INI BARU RUMAH,” jerit PADmagz dalam hati.

Membuat minuman hangat pun menjadi mudah karena di dalam kamar sudah disediakan dispenser air dingin dan hangat beserta galonnya, serasa menyeduh teh di rumah. Apalagi cangkir yang digunakan adalah cangkir rumahan model lama. Begitu pun sendok pengaduknya. Benar-benar seperti tidur di rumah. Sebelum tidur, PADmagz memuaskan diri untuk mandi dengan fasilitas handuk dan kamar mandi bersih, lengkap dengan air hangatnya. Lelah seketika sirna, tidur pun nyaman.

Seperti penginapan murah lainnya, sarapan di Kampoeng Djawa tidak bergeser jauh dari nasi goreng dan roti bakar. Namun jangan khawatir, di seberang hotel ada cafe yang sudah menyediakan menu sarapan mulai jam 8 pagi. Tinggal menyeberang. Begitu pula malam hari, banyak cafe yang dikunjungi wisatawan-wisatawan asing yang memang lebih senang memilih kawasan Prawirotaman yang lebih tenang daripada Malioboro. Beberapa butik batik dan spa serta biro perjalanan ada juga di sekitar penginapan Kampoeng Djawa, sehingga jika PADmakers ingin berjalan-jalan dengan lebih terorganisir tidak bingung lagi.

So, jika PADmakers ingin menginap di tempat murah dan unik, masukkan Kampoeng Djawa dalam list Anda.

Tips :

  1. Biasanya petugas hotel akan mengonfirmasi pemesanan Anda. Mintalah kamar yang berada di taman belakang karena pemandangannya lebih baik dan nyaman bagi perokok.
  2. Berhati-hatilah dengan pemesanan online yang link-nya ada di artikel-artikel online. PADmagz sudah melakukan reservasi melalui Agoda dan membayar menggunakan visa, ternyata Kampoeng Djawa tidak bekerjasama dengan situs tersebut dan dialihkan ke booking.com. Terbayang kan ruwetnya? (teks dan foto: Didi Cahya)