Tertawan Negeri di Atas Awan by Zahra Qomara

Hari masih cukup pagi ketika Zura melangkahkan kakinya keluar dari Bandara Kuala Namu. Bandara Sumatera Utara yang baru ini memang tampak sangat besar, kalau mau dibandingkan dengan bandara lama. Kelihatan lebih mewah, megah, dan serba wah. Bau kopi yang menguar dari beberapa kafe yang ada di sekitarnya menyentuh penciumannya dengan kuat. Dia tahu ada tugas yang lebih penting daripada menyesap secangkir kopi.

“Selamat siang. Betulkah dari Happy Travel and Tour?” tanya Zura sambil membetulkan gagang kacamata dan melihat karton yang bertuliskan namanya.

“Betul, betul. Apakah Anda Nona Maizura?” Orang bertopi dengan kaos berkerah itu melihatnya dengan lebih cermat. Seorang gadis semampai dengan kerudung putih gading, blus putih longgar dan rok jin berdiri tepat di depannya.

“Ya, saya Zura. Maizura,” jawabnya cepat.

Tidak berapa lama kemudian Zura sudah dibawa oleh sebuah kendaraan bus mini. Di dalamnya ada sekitar 12 orang. Tidak terlalu penuh, itu sudah termasuk guide dan sopir. Setelah melakukan perjalanan hampir tiga jam, minibus berhenti di depan sebuah Rumah Makan Padang. Sudah masuk jam makan siang.  Dia baru ingat kalau perbedaan waktu Malaysia dan Indonesia satu jam.

Beriringan para wisatawan lokal itu memasuki rumah makan. Rasanya cuma Zura yang berasal dari luar Indonesia. Zura, gadis asal Malaysia itu, berusaha memperhatikan satu per satu teman seperjalanannya. Memang dia bukan warganegara Indonesia, tetapi nenek moyang Zura masih keturunan Indonesia. Kakek Zura berdarah Jawa yang merantau dan akhirnya menetap di Malaysia. Begitu pula neneknya, orang Minang. Salah satu suku Indonesia yang juga sering ditemui di Malaysia. Dari merekalah Ibu Zura berasal. Sementara Ayah Zura memang orang Melayu asal Kelantan. Sebuah negeri yang berbatasan dengan Thailand.

Sudah beberapa kali Zura ke Indonesia. Tetapi, baru kali ini dia pergi sendirian dalam rangka riset kerjanya. Riset? Ah, riset sambil jalan-jalan, tukas Zura dalam hati. Zura bekerja di sebuah perusahaan makanan di Malaysia. Salah satunya mengeluarkan produk kopi. Dia ingin menikmati perjalanan yang satu ini. Tanpa harus presentasi atau terlibat dalam suatu meeting dengan klien perusahaan yang sama di Indonesia.

“Anda suka dendeng batokok, rupanya,” suara seseorang yang berada di seberang sebelah kanan memperhatikan Zura dengan diam-diam. Mereka semua berada di sebuah meja makan yang cukup panjang. Sehingga setiap orang bisa melihat yang lainnya.

Zura hanya tersenyum sambil terus mengunyah makanannya. Seorang lelaki dengan kulit cerah, berambut ikal memandangnya dengan sopan. Sok sibuk, Zura membatin. Zura berusaha tak acuh.

“Ibu saya juga selalu memasak masakan ini. Ini makanan favorit saya, lezat sangat,” jawab Zura sambil membetulkan kacamatanya dan menelan makanan yang dikunyahnya tadi. Dia menjawab sambil memandangi teman baru seperjalannya.

Beberapa dari mereka ikut tertawa. Mungkin ucapan Zura masih sangat kental berbahasa Melayu, walau yang diinginkan Zura berbahasa Indonesia.

“Oh, adik ini dari Malaysia ke?” tanya seorang wanita. Wanita itu malah berusaha mengunakan Bahasa Melayu. Mungkin belajar dari Ipin-Upin.

“Iya, “ jawab Zura lagi,” tapi saya ada keturunan Jawa dan Padang,” sambungnya lagi sambil berusaha menatap wanita itu sebagai tanda perkenalan. Zura sadar sekarang dirinya menjadi perhatian para wisatawan lokal itu.

Mereka menyelesaikan makan siang sambil diselingi tawa. Merambat hingga cerita animasi Ipin-Upin, dua pesawat MAS yang baru saja mengalami tragedi, hingga cerita lama tentang klaim Malaysia atas tarian daerah Indonesia.

* * *

Perjalanan menuju Takengon dari Medan menghabiskan waktu 9 atau 10 jam menggunakan kendaraan. Zura bisa saja menggunakan pesawat kecil Susi Air kalau mau ke sana, tanpa harus bersusah-payah menekuk kaki duduk berjam-jam. Tapi, dia ingin menikmati pemandangan selama perjalanan. Itu alasannya, walaupun harus menghabiskan lebih banyak energinya. Dia ingin menikmati kesendiriannya.

Ketika melalui kota Lhokseumawe, pemandu wisata yang bernama Rudi itu sempat menceritakan kejadian tsunami yang menimpa Kota Lhokseumawe, salah satu kota yang sangat dekat dari pantai. Lhokseumawe juga pernah dikenal sebagai penghasil gas alam dan pupuk yang menggunakan bahan baku gas alam tahun 1980-an. Namun, sayang keberadaannya semakin berkurang dari hari ke hari.

Mendekati sore, matahari yang tadinya garang berubah redup. Beberapa kota kecil telah dilalui. Mereka sempat berhenti di kota Matang. Zura merasakan sate Matang yang terkenal di daerah Aceh. Rasanya memang berbeda dengan sate Kajang asli Malaysia. Tetapi, tetap nikmat di lidahnya, walaupun potongan satenya cenderung lebih besar-besar.

Setelah Kota Bireun dilalui, kini mereka memasuki kawasan hutan. Sebagian besar masih hutan perawan. Kalaupun ada rumah-rumah penduduk, hanya beberapa, terselip di antara pepohonan. Bayang-bayang matahari seperti terjepit di celah-celah pepohonan, memberikan siluet yang menarik. Tangan para wisatawan itu dengan cekatan merekam semua kemolekan yang masih alami dengan kamera dan gadget-nya masing-masing. Sebelah kiri mereka mulai menggambarkan jurang yang curam, namun tetap hijau. Sementara sebelah kanan adalah kaki tebing yang cukup tinggi dipenuhi pepohonan. Kendaraan mereka seperti membelah gunung, merayap menaiki barisan pegunungan yang memanjang seperti tak berujung.

Hampir dua jam kemudian, dari kejauhan tampak kilauan permukaan dana tertimpa sisa cahaya mentari yang mulai mengabur. Sekelompok awan seakan-akan beriringan menyelimuti permukaan danau. Bahkan terasa kendaraan yang mereka naiki lebih tinggi daripada awan, ujar Zura dalam hati dengan takjub. “Inilah dia, Danau Laut Tawar. Atau orang Gayo, penduduk asli Takengon, menyebutnya sebagai Danau Lut Tawar. Luasnya 5.472 hektare. Keluasannya menyerupai lautan. Danau ini terletak di kota Takengon atau nama lainnya, Negeri di Atas Awan, karena mempunyai ketinggian 1200 dpl. Ikan yang terkenal dari danau ini adalah ikan depik atau Rasbora Tawarensis …,” suara Rudi terputus dan menunjuk ke satu arah: Zura.

Sesuatu seperti merambati tubuh Zura. Walaupun tadi sudah diingatkan Rudi bahwa ada plastik disediakan apabila para wisatawan memerlukannya. Pihak travel sudah mafhum keadaan rute jalan menuju Takengon memang berkelok-kelok. Tapi, ini di luar jangkaan Zura. Dia asyik mengambil foto-foto, ketika kemudian dia merasakan kepalanya pusing, berkunang-kunang, dan perutnya seperti diaduk-aduk. Tubuh dan kakinya terasa dingin dengan tiba-tiba.

Tidak lama kemudian, “ Minumlah,” kata Indra sambil menyodorkan sebotol air mineral.

Bus mini terpaksa berhenti sebentar di tepi jalan, di bagian yang cukup luas. Jalan menuju Takengon tidak sesibuk waktu malam yang dipenuhi truk dan bus-bus besar.

“Terima kasih,” jawab Zura dengan wajah memerah. Dia bernasib baik, Indra sempat menadahkan kantong plastik ketika Zura hampir saja mengeluarkan muntahnya di telapak tangannya sendiri. Zura melap mulutnya dengan tisu yang disodorkan Indra. Lagi. Dan, lagi, sehingga kotoran sisa muntah yang terciprat di bajunya tiada. Matanya terasa panas dan berair tapi perutnya sekarang sedikit lebih nyaman.

* * *

Hotel Renggali. Demikian tulisan yang terpampang di depan sebuah bangunan hotel, disorot nyala lampu yang cukup terang. Hotel itu persis di tepi danau. Bangunannya didesain penuh dengan hiasan ornamen khas kerawang Gayo yang unik dan terlihat sangat etnik. Ornamen itu seperti sulur-sulur tanaman yang melingkar-lingkar. Kelihatan sangat mencolok, sebab sulur-sulur itu berwarna merah dan hitam dengan dinding bangunan hotel berwarna putih.

“Ah, kita sekamar,” suara Tania sambil menggandeng temannya, Dea.

“Engkau tentu saja denganku,” celetuk Indra pada Fathi. Fathi hanya cengengesan memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.

“Nona Zura. Anda sendirian. Apakah mau bergabung dengan Tania dan Dea? Atau tetap mau sendirian?” tanya Rudi sambil menyerahkan kunci kamar.

“Ah, ya. Tak apa saya sendiri saja. Saya bisa dan biasa sendiri,” jawab Zura sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tiba-tiba Zura merasa kedinginan walaupun hotel tersebut tidak menggunakan pendingin udara.

Dua pasang suami istri, pasangan Bu Sucipto dan Bu Mira, meninggalkan lobi hotel menuju kamar mereka. Demikian juga para wisatawan lokal yang sudah mendapatkan kunci. Zura melihat arlojinya, pukul tujuh lebih.

“Biar saya bantu, Nona Zura,” kata Rudi. Zura terlihat masih lemah. Dengan sigap Indra meraih tas travel Zura yang tidak terlalu besar mendahului tangan Rudi.

“Biar saya yang bantu,” ucap Indra tanpa minta persetujuan Zura. Fathi berjalan di samping Indra dan Zura mengekori mereka dari belakang.

Malam itu mereka makan makanan khas Takengon. Pengat bandeng, ikan depik goreng, sambal terong belanda dan tumis pucuk labu jipang serta jus terong belanda.

* * *

Suasana pagi tanah tinggi Gayo yang sejuk itu terasa sangat menyegarkan. Udara yang masih bersih itu seakan mengisi paru-paru mereka dengan leluasa. Angin berhembus perlahan mengantarkan dingin. Permukaan danau bergerak perlahan dipermainkan angin. Pantulan sinar matahari di permukaan danau memberikan kemilaunya seperti cermin yang disinari lampu raksasa. Para wisatawan itu mulai berfoto ria di sekitar tepian danau. Mereka baru saja bersarapan di restoran hotel.

“Lihat, indah sekali jajaran pohon pinus itu!” teriak Tania pada Dea. Dea lalu mengambil foto pemandangan yang di atas bukit sekitar hotel. Memang indah, bisik Zura dalam hati. Seperti pemandangan di Eropa, pikir Zura lagi.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Indra pada Zura. Saat itu Zura mengenakan kerudung kuning muda bercorak bunga-bunga kecil, tampak lebih segar.

“Alhamdulillah, lebih baik. Terima kasih, kau sudah menolongku kemarin,” ulang Zura pada Indra. “Ah, biasa aja lagi,” jawab Indra sambil tersenyum santai. Rambutnya bergerak-gerak dimainkan angin.

“Tadi malam kau juga sudah mengucapkan kalimat yang sama,” gurau Indra sambil menyusul Fathi, kawannya yang berjalan di depan mereka.

“Awas, hati-hati Nak Zura,” bisik Bu Mira sambil melirik Indra sekilas sambil meletakkan telunjuk di bibir dan mengedipkan sebelah matanya. Bu Mira, seorang wanita setengah baya yang sempat berkenalan dengan Zura tadi malam. Suaminya, Pak Danang hanya tersenyum-senyum melihat ulah istrinya.

* * *

Aroma kopi Arabika yang pekat menguar dari pantry kecil. Masing-masing wisatawan itu mendapat satu bagian cangkir kopi. Mereka menyesap minuman panas itu dengan nikmatnya, walau tak terasa manis sedikit pun. “Kopi itu tanpa gula, supaya lebih terasa dan aroma sesungguhnya,“ ujar Pak Agus, pemilik pabrik kopi. Beliau sibuk di dalam dapur minimalis dengan perangkat roasting modern dan perkakas serba stainless steel. Mereka berkerumun menikmati kehangatan kopi dengan rasa kekeluargaan.

“Wah, sayang kopi ini tidak ada temannya,” gerutu Tania berbisik sambil melirik Dea. Pak Agus hanya tersenyum, kemudian, ”Wah, maaf istri saya pagi tadi  sibuk  dengan pendaftaran sekolah anak-anak. Jadi tak sempat membuatkan penganan untuk kali ini,” sambil melihat ke arah Rudi yang duduk bersila di lantai sebab tidak kebagian kursi. Sepertinya travel itu sering mengunjungi pabrik kopi Pak Agus.

“Ah, ini ada kok temannya,” sahut Bu Mira sambil mengeluarkan sesuatu dari sebuah kantong plastik yang dibawanya ke mana-mana. Sekotak kue.

“Bolu gulung!” seru beberapa orang spontan setelah kelihatan sebuah nama produsen bakery yang tidak asing lagi di kotaknya. Mereka pun menyantap bolu itu dengan suka cita sambil bercerita mengenai seluk-beluk kopi.

Setelah itu mereka berkeliling di sekitar pabrik kopi, tempat di mana biji-biji kopi di sortir. “Bisa kita ambil fotonya, Bu?” seru Bu Sucipto bersama Pak Sucipto, yang mendekati ibu-ibu dalam sebuah ruangan besar, khusus untuk memisahkan biji-biji kopi. Di sana ada sekitar 40 orang pekerja perempuan yang memilah dan memilih biji-biji kopi yang telah masak. Dipisahkan berdasarkan jenis, bentuk dan juga kualitas lainnya.

“Boleh! Boleh!” seru mereka serempak dan mengangguk, menyunggingkan senyum keramahan. Mereka kebanyakannya warga setempat di sekeliling pabrik kopi.

Dari kejauhan nampak Zura dan Indra banyak bertanya kepada para pekerja itu. Zura  bertanya kepada pekerja di deretan sebelah kiri, sementara Indra di deretan sebelah kanan. Mereka bertanya dengan sangat antusias. Pertanyaan yang hampir sama yang ditujukan kepada Pak Agus, ketika minum kopi tadi.

Hal yang sama terjadi lagi di tempat penangkaran luwak yang mereka kunjungi kemudian. Hewan penghasil biji-biji kopi terbaik itu menjadi sangat menarik di mata Zura, apalagi Indra. Mereka sama-sama terlihat sangat antusias, bertanya ini dan itu kepada pemilik penangkaran. Sambil memandangi luwak-luwak itu hampir tidak berkedip. Takjub. Bagaimana bisa hewan mamalia itu menghasilkan kopi luwak bermutu?

“Apakah luwak hanya diberi makanan berupa sayuran? Atau ada makanan lain?”

“Luwak jenis jantan atau betina yang bisa digunakan?”

“Umur berapa luwak bisa dipelihara untuk bisa menghasilkan kopi yang difermentasi terbaik?”

“Berapa kali sehari luwak bisa mengeluarkan biji-biji kopi?”

“Apa jenis luwak yang digunakan untuk dalam hal itu? Apakah bisa semua jenis luwak? Atau ada spesies tertentu saja?”

“Pernahkan luwak mengalami kegagalan dalam ‘menghasilkan’ biji-biji kopi-nya?”

Dan beberapa pertanyaan bernas lain yang bersangkut-paut dengan luwak. Di perut luwak, kopi yang dimakan dikeluarkan kembali bersama kotorannya dalam bentuk biji kopi yang secara alamiah sudah difermentasikan. Pertanyaan mengenai luwak bergantian ditanyakan Zura dan Indra bersambung-sambung.

Kini beberapa pasang mata memandangi mereka dengan penuh tanda tanya. Bu Mira menyikut suaminya, Pak Danang. Tania dengan segera memotret keadaan ketika Zura dan Indra sama-sama sedang merekam pertanyaan dan jawaban dari pemilik penangkaran menggunakan gadget masing-masing. Sementara Dea berbisik dan terkikik perlahan dengan Bu Sucipto. Fathi hampir saja menjatuhkan kacamatanya karena terlalu hanyut terbawa dibawa perasaanya sendiri. Dia menebak-nebak sesuatu terhadap Indra, yang dia sendiri susah untuk menjawabnya. Zura dan Indra tidak menyadari keadaan itu. Mereka berdua sangat bersemangat dan kini saling membelakangi. Mereka tidak merasa ada keanehan sedikitpun. Kemudian mereka sibuk dengan gadget-nya masing-masing.

* * *

“Ah, sudahlah kalian bertukar info saja, supaya laporan yang akan kalian buat nanti sama-sama lengkap,” ujar Fathi sambil melirik Indra di sebelahnya tanpa memandang Indra. Indra cuma tersenyum tanpa kata.

“Eh, kenapa kamu jadi tukar tempat duduk?” tanya Zura sedikit heran pada Indra. Pasangan Sucipto yang awal berangkat dari Medan berada di seberang Zura, kini pindah ke bangku depan.

“Bu Sucipto bilang. Kemungkinan kamu akan muntah lagi. Jadi aku dengan senang hati mau membantu,” jawab Indra sambil pura-pura tidak melihat wajah Zura yang bersemu kemerahan.

“Wah, Nak Indra bisa aja. Saya ndak bilang begitu, loh” ujar Bu Sucipto yang ternyata menguping dari depan dilanjutkan dengan tawanya yang khas ibu-ibu.

“Hhm, sebaiknya kita mengadakan perjalanan lagi yang kedua nih, Bang Rudi. Ada banyak tempat yang kami belum tahu,” celetuk Tania sambil mesem-mesem melirik Zura.

“Tidak masalah kalau ke penangkaran lagi,” sambung Dea diikuti derai tawa yang lain. Zura merasa tersudut dengan sindiran ala Indonesia itu. Tapi dia hanya mampu berdiam diri sambil menahan malu. Sebab dia juga tidak menyangka bahwa Indra adalah seorang researcher juga seperti dirinya. Itu dia ketahui malam tadi, Fathi yang menceritakannya. Mereka adalah researcher yang sama mengenai kopi luwak, kopi yang dihasilkan dari fermentasi di perut luwak. Kopi yang terkenal  seantero dunia. Mereka berdua sama-sama bekerja di perusahaan makanan. Cuma bedanya, Zura bekerja di Malaysia dan Indra memang tinggal dan bekerja di Indonesia.

“Zura, kamu mau sediakan plastiknya dari sekarang?” tanya Indra setengah meledek ke arah Zura sambil menyodorkan sehelai kantong plastik yang diambilnya dari tangan Rudi.

Auw!” seru Indra terkejut. Zura menimpuk Indra dengan sebutir biji kopi Arabika yang terbawa ketika kunjungan mereka ke kebun kopi organik di Bener Meriah, sebuah kecamatan di Takengon. Mungkinkah perasaan mereka saling tertawan di Negeri Atas Awan? Atau hati mereka ikut ‘terfermentasi’ di penangkaran Luwak? Hanya mereka berdua yang tahu. Bus mini itupun melaju membelah kota Takengon menuju Medan. (naskah: Zahra Qomara (*)/ilustrator: Yoes Wibowo/editor: Heti Palestina Yunani) 

(*) Nama lengkapnya Anna Permatasari tapi nama penanya Zahra Qomara. Alamat di Indonesia: Jl. Penyu no. 46, Buah Batu, Bandung, Jawa Barat. Alamat di Malaysia: C 217, Seraya Apartment, Jl. Seksyen 3/ 1A, Taman Kajang Utama, Selangor 43000, Darul Ehsan, Malaysia. HP (Malaysia): +06 03 017 3280 148.