Tertambat di Lautan Pagoda

Pesona Magis Bagan (4)

Setelah meninggalkan Candi Ananda, saya menuju Dhammayangyi, candi ini dibangun pada tahun 1167 oleh Raja Narathu yang diselesaikan hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Jika Ananda adalah seorang ratu, maka Dhammayangyi adalah rajanya, kokoh dan perkasa.

Dua patung Buddha yang duduk berdampingan di dalam Candi Dhammayangyi
Dua patung Buddha di dalam Candi Dhammayangyi

Sekilas, bangunan Candi Dhammatangyi tampak seperti piramid di Mesir, dengan puncak yang tumpul. Dan, tidak seperti yang lainnya, Candi ini tidak memiliki stupa di atasnya. Bentuk dasarnya menyerupai Candi Ananda, kubah persegi empat dengan patung Buddha sebagai porosnya. Setiap sisinya menghadap ke arah mata angin yang berbeda.

Keunikannya, di sisi barat candi ini, terpampang dua patung Buddha yang sedang duduk berdampingan. Hal yang tidak saya temukan di candi-candi lainnya. Sebagai candi dengan label terbesar, Dhammayangyi menyimpan cerita kelam. Raja Narathu membunuh ayah, saudara, dan istrinya sendiri demi mendapatkan tahta raja. Akhirnya, ayah dari sang putri mengirimkan orang untuk membunuh sang raja di kastilnya sendiri.

Sejak saat itu, candi ini menyimpan kegelapan nan mistis. Energi magis seakan memenuhi raga ketika saya memanjat lorong-lorong kecil di candi ini. Bagian atas sudah tertutup bagi para pelancong. Namun jendela-jendela kecil yang terbuka dapat diakses dan mengantar saya ke serambi kecil yang dimiliki Candi Dhammayangyi.

Seorang turis yang sedang menjelajahi BaganLayaknya pasangan raja dan ratu, tentunya belum lengkap tanpa seorang perwira yang diagungkan. Thatbyinnyu, candi yang memiliki ketinggian 61 meter ini menyambang gelar sebagai perwira yang paling ditakuti di Bagan. Sama seperti yang lain, bangunannya megah dengan empat sisi di bagian dasar dengan tiang-tiang runcing yang menghunus langit sebagai penyangga.

Lagi-lagi kehebatan arsitektur kuno Myanmar terlihat di candi ini. Dibangun pada tahun 1144 oleh Raja Alaung Sithu, candi ini dilengkapi dengan wihara dan perpustakaan. Bangunan ini juga dilengkapi oleh tujuh buah teras yang semuanya menghadap ke timur.

Di teras, terdapat sebuah pahatan patung Buddha yang terbuat dari batu bata dan plaster, sedang duduk di atas duri lotus. Di langit-langit dan dinding koridor berkubah dihiasi oleh mural yang bercerita mengenai perjalanan hidup Sang Buddha yang akan mencapai pencerahan. Sesuai dengan arti namanya, Thatbyinnyu. Tenggelam di lautan pagoda ini membuat perut saya keroncongan.

Saya mengisi perut dengan makanan khas Myanmar yang sekilas terlihat seperti makanan Padang. Piring-piring kecil berisi lauk dengan berbagai macam jenis disajikan di meja. Daging ayam, babi, ikan, kacang-kacangan, dan sayuran lengkap tersaji.

Pagoda Bu Paya, salah satu pagoda yang ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal
Pagoda Bu Paya

Sebagai makanan penutup, gula merah yang berbentuk balok layaknya cokelat ikut melengkapi. Kembali meneruskan perjalanan di tanah Bagan, kaki ini seakan tak ingin berhenti untuk melangkah. Lilian, sopir andong yang saya tumpangi, kembali memacu kudanya.

Sambil mengunyah sirih, sesekali menunjuk dan menjelaskan nama pagoda dengan bahasa Inggris yang tidak fasih. Saya menghabiskan sisa waktu dengan menikmati pagoda dan candi lainnya seperti Shwe Zi Gon, Bu Paya, Htilominlo, Mahabodi Paya, dan akhirnya menjemput matahari terbenam di Pagoda Shwe San Daw.

Salah satu pengalaman memandang matahari terbenam favorit saya berlangsung di pagoda ini. Walaupun sesak, penuh dengan turis, saya berhasil memanjat sampai sisi paling atas pagoda ini. Membekukan kaki yang lemas untuk diam dan terus memandang alam. Seraya lenyap di belahan dunia lain. Meninggalkan saya, matahari, dan ribuan pagoda. (naskah dan foto: Irene Barlian/editor: Heti Palestina Yunani)