Tertambat di Kampung Air Bandar Seri Begawan

kampung air, BSB (1)Brunei, negara mungil nan kaya itu sedang menggenjot pariwisatanya. Maklum, menurut saya, tak terlampau banyak yang dapat dilakukan di sana untuk berwisata sih. Makanya para pelancong harus pintar-pintar menikmati negeri ini. Di ibukota Brunei, Bandar Seri Begawan, saya sendiri juga bingung harus ke mana lagi usai menyinggahi sederet bangunan masjid yang super duper megah, museum dan sempat memberanikan diri memasuki hutannya yang lebat.

Tapi beruntung, akhirnya saya ‘tertambat’ pada satu pilihan wisata di tengah kota, secara tak sengaja. Kebetulan tempatnya tak seberapa jauh dari hotel tempat saya menginap. Kampung Air, demikian area ini disebut. Siapapun yang ingin kemari dapat memakai jasa ojeg perahu yang mangkal di sepanjang dermaga kecil di tepian Sungai Brunei, Pasar Tamu Kianggeh maupun di dekat Mall Yayasan Sultan. Perahu tersebut bisa digunakan untuk sekali antar ataupun disewa seharian, sesuai keperluan.

Perkampungan yang terapung di atas sungai dan dibagi dalam sekian distrik ini terbilang luas. Kabarnya, bila diukur, panjang jembatan yang menghubungkan antar rumah ke rumah bisa mencapai 36 kilometer! Fantastis bukan? Kalau seharian mengelilingi perkampungan terapung ini bisa-bisa ampuh membakar lemak di tubuh deh! Tapi itu sesuai dengan view yang kita dapatkan. Beda dan unik.

Yang menarik, kehidupan warga di sini tak ubahnya kehidupan mereka yang di darat. Bila yang di darat punya kendaraan, warga Kampung Air punya perahu kampung air, BSB (3)sendiri lho sebagai kendaraan. Perahu biasanya ditambatkan pada tiang di kolong rumah. Di tengah perkampungan, lengkap tersedia sarana umum seperti masjid, museum, balai tempat warga berkumpul, toko kelontong, juga sekolah dan rumah sakit.

Jadi tidak setiap hari warga turun ke darat karena mereka dapat melakukan aktivitas sehari-hari di dalam kampung. Ada yang memakai satu bagian rumahnya sebagai warung. Bagian teras depan dapat pula dimanfaatkan sebagai kedai kecil untuk berniaga. Anak-anak kecil masih bisa bersepeda di jalanan depan atau samping rumah dengan nyaman seperti di daratan.

Kalau melihat sekilas, -dengan menyampingkan tipe dan luas rumah, ada dua jenis rumah yaitu yang berbahan kayu dan non kayu. Tapi biarpun yang berbahan non kayu itu tampilannya lebih cantik dan rapi, menurut warga, daya tahannya justru tak sekuat rumah yang berbahan dan berpenyangga dari bahan kayu. Namun semua terkesan asri dari tampilan tanaman dalam pot yang tertata rapi dalam jarak tertentu di atas jembatan penghubung.

kampung air, BSB (4)Sayangnya kalau siang hari, panas matahari di kampung ini membuat tak nyaman saya yang berkeliling. Itu sebabnya, sang empunya rumah yang menyilakan saya masuk, menyalakan keempat fan bersamaan. Rumah yang saya sambangi cukup mewah. Itu terlihat dari ruang tamunya yang sangat luas. Saya bahkan diajak ke lantai dua, menengok empat buah kamar tidur dan ruang keluarga yang lapang.

Usai menilik rapinya perkampungan ini, saya jadi berangan-angan betapa indahnya bila Jakarta tercinta juga punya Kampung Air yang membentang di atas Sungai Ciliwung. Seperti di sana, pasti layak ‘dipamerkan’ pada turis mancanegara. Bagi yang masih punya satu hari di Bandar Seri Begawan dan bingung mau ke mana lagi, singgah saja ke Kampung Air! Penduduknya ramah kok! (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/Heti Palestina Yunani)