Terpikat Tiga Biru dari Turki

Di suatu pagi yang dingin. Hari masih gelap, mentari belum menampakkan cahaya jingganya. Pesawat yang membawa kami, mendarat mulus di bandara sebuah kota besar di daratan Eropa, Attaturk, Istanbul, sebuh negara di Asia. Pelancong dengan beragam tipe wajah dan postur tubuh dari mancanegara tampak bergegas melangkahkan kaki menuju imigrasi.

Turki sebuah negeri unik, cantik dan historik. Secara geografi mempunyai berada di dua benua, Asia dan Eropa, dihubungkan Selat Bhosporus yang terkenal. Secara etnis Turki mempunyai akar Asia tapi secara kasat mata tampak sangat Eropa. Cantik, karena proses geologi puluhan juta tahun yang lalu telah mengukir alamnya dan menghasilkan mahakarya alam yang sangat menakjubkan, seperti dijumpai di Cappadocia.

Historik, karena sejarah panjang negara Turki telah mewariskan peninggalan arkeologi, seni dan budaya dari sejak peradaban para dewa, Nasrani hinggga Islam. Bercampur dan menyatu layaknya adonan serta kaya warna, itulah gambaran negara Turki. Ketika tarian mistis sufi berputar berada satu panggung dengan goyangan penari perut. Ketika para dewa sejak zaman Yunani Kuno dan Romawi Kuno bertemu monoteisme Nasrani dan Islam. Ketika Asia di timur bertemu Eropa di sebelah barat. turki-2

Beraneka ragam warna dan motif, seperti aneka ragam corak dan warna lampu hias yang bergantungan di kios-kios di Grand Bazaar, atau meriahnya dekorasi piring-piring hias dengan aneka warna bunga dan pola nan cantik. Tetapi ada satu warna yang rajin menyelinap di gendang telinga, sering disebut pemandu tur selama perjalanan. Warna biru. Warna yang menurut tradisi lokal bermakna menyembuhkan, membawa rezeki dan penangkal roh jahat. Biru yang terasosiasi dengan Turki.

Masjid Biru (Blue Mosque)
Gerimis pagi langsung menyambut kedatangan kami begitu menjejakkan kaki di kawasan kota tua Konstantinopel, tepatnya di Hippodrome distrik Sultan Ahmad. Ali, pemandu tur yang lancar bercakap Bahasa Indonesia mengingatkan untuk mengeluarkan payung yang kami bawa. Payung berwarna warni mulai terkembang untuk menghalangi air membasahi tubuh dan kamera.

Distrik Sultan Ahmad merupakan kawasan yang masuk ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Kawasan yang ramai dikunjungi oleh para pelancong yang ingin menyaksikan bangunan bersejarah peninggalan zaman Bizantium dan Konstantinopel. Dan satu yang istimewa diantaranya adalah masjid Sultan Ahmad atau yang lebih dikenal dengan julukan Masjid Biru. Inilah biru pertama yang kami jumpai.

Masjid Biru adalah julukan popular bagi masjid bersejarah ini. Sebelumnya tidak yakin jika masjid yang ada dihadapanku, sebuah masjid dengan kubah besar yang dikitari delapan kubah kecil dan dilengkapi dengan enam menara yang runcing menjulang serta jendela kaca berwarna-warni adalah Masjid Biru yang terkenal itu. Masjid ini sama sekali tidak berwarna biru, bahkan tampak luarnya berwarna abu-abu. turki-1

Ternyata julukan Masjid Biru didapat dari warna biru puluhan ribu keping keramik yang menghiasi interiornya. Keramik-keramik ini diproduksi di Iznik, area penghasil keramik yang terkenal pada masa Kesultanan Ottoman (Turki Usmani).  Masjid dibangun pada tahun 1609-1616 M semasa penguasa Sultan Ahmad I, hingga sekarang masih kokoh berdiri dan tetap difungsikan sebagai masjid. Masjid Biru juga boleh dikatakan sebagai masjid yang paling banyak menerima kunjungan pelancong dari berbagai keyakinan dan ras.

Waktu kunjungan terbuka setiap hari sepanjang tahun, hanya ditutup selama 90 menit pada waktu shalat wajib. Sebagaimana memasuki masjid pada umumnya, pengunjung diminta untuk melepas alas kaki dan dimasukkan ke dalam kantung plastik yang disediakan. Untuk wanita disediakan penutup kepala, yang dikembalikan lagi saat berada di pintu keluar.

Mata Biru (The Evil Eye)
turki-4Di dalam bus yang terus melaju kencang di jalan bebas hambatan, Ali pemandu tur menggenggam sebuah bungkusan kecil di tangannya. Sambil berdiri di bagian depan bis dia terus bercerita.
“Saya mau kasih hadiah semua yang ada di dalam bus ini, satu orang satu” katanya.
“Apakah gerangan yang akan diberikan olehnya” tanyaku dalam hati dengan rasa ingin tahu.

Ali berjalan dari depan ke belakang dan masing-masing dari kami diberi satu benda kecil. Ternyata benda itu adalah sebuah peniti kecil yang dihiasi dengan bulatan kecil benda yang sangat terkenal di Turki. Bukan tanpa alasan Ali membagikan peniti kecil itu, karena ia akan bercerita tentang Mata Biru. Mata biru yang dalam bahasa lokal disebut Nazar Boncugu adalah sebuah benda berbentuk bundar atau lingkaran, dengan lingkaran biru gelap berbentuk mata di bagian tengahnya.

Ia merupakan sejenis azimat yang sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno. Sebagaimana berbagai bangsa punya takhyulnya masing-masing yang telah berjalan turun temurun berabad-abad, maka Mata Biru adalah takhyul yang paling terkenal di Turki. Mata biru dapat dijumpai dimana-mana di Turki, di mobil, di pakaian bayi, di gaun pengantin, di perkantoran, di tempat usaha, dan di banyak tempat lainnya.

Tentu saja mata biru ini tidak ada hubungannya dengan Islam, meskipun mayoritas penduduk Turki adalah muslim.  Mata Biru dipercaya membawa pengaruh baik, warna putih bermakna keberuntungan dan warna biru bermakna pengusir roh jahat. Dan kini, ia sudah menjadi ciri khas bagi negara Turki, mata biru sudah menjadi souvenir yang memikat para pelancong, dijual dengan harga yang sangat terjangkau, sekitar 1 atau 2 lira untuk sebuah gantungan kunci.

Selain gantungan kunci, ia dijumpai dalam beragam bentuk lain, mulai dari peniti kecil, magnet kulkas, gelang, kalung, bandul kalung, hingga piring-piring keramik yang dapat menjadi pajangan di dinding rumah. Ke manapun pergi, di setiap kios penjual souvenir dapat dipastikan ada mata biru. Di Grand Bazzar Istanbul mata biru akan terlihat di sudut manapun pandangan diarahkan. Dan jika berkunjung ke suatu tebing dan memandang bentang alam Cappadocia ada satu pohon kering tanpa daun yang ramai dihiasi mata biru bergelantungan di ranting-rantingnya.

Batu Biru (Turqoise Gemstone)
turki-5Senja menjelang gelap di Cappadocia. Siang di musim dingin menghilang dengan cepat. Matahari telah terbenam ketika kami tiba di sebuah bengkel kerja dan sekaligus merangkap toko batu mulia. Gemerlap cahaya lampu dan pantulan batu-mulia yang dipajang berpendaran. Kotak-kotak kaca di dinding dan etalase didominasi oleh bebatuan opak berwarna biru hingga biru kehijauan terkadang disertai urat-urat berwarna kecoklatan.

Berada di ruangan yang hangat di kelilingi aneka perhiasan dan dijamu secangkir teh hangat sangat kontras dengan keadaan di luar ketika kami datang, temaram, dingin dan gerimis.
“Ayo-ayo mari mendekat kemari”, sembari tangannya lincah memamerkan butiran batu pirus.
“Ini turqoise dalam beragam variasi warna dari berbagai area di dunia”. ucapnya menjajakan batu-batu yang berkilau di bawah cahaya lampu. turki-6
Ini turqoise China, ini turqoise Iran, ini dari Afghanistan dan ini yang terakhir dan paling bernilai berasal dari……..
“Seorang teman nyeletuk:” dari Indonesia”.

Karena sebelumnya seorang teman lain sempat berujar bahwa ia pernah menjumpai banyak batu pirous yang belum diasah di suatu tempat di Indonesia.
“Ya, kamu benar….. No, no, no, saya cuma bercanda. Ini berasal dari sini, Cappadocia”.
Dari Cappadocia???!!.. Ah tentu saja tidak benar. Turqoise, yang dalam bahasa Perancis berarti ‘dari Turki’ tidak menunjukkan bahwa batu mulia pirous (turqoise) berasal dari Turki.

Bahkan batuan ini tidak ditambang di Turki. Dulu, di era jalan sutera, orang-orang di Eropa mendapatkan batuan tersebut dari para pedagang yang mendapatkannya dari tambang-tambang di Asia Tengah, utamanya Iran, melalui Turki, atau mereka membelinya di pasar-pasar Turki. Karena itu mereka menamai batuan berwarna biru khas ini ‘turqoise’ yang berarti ‘dari Turki’.

Kuambil cangkir mungil di atas nampan saji, kureguk habis teh hangat. Kurasakan kehangatannya. Kututup hari dengan berada di antara gemerlap bebatuan berwarna biru cantik. Lalu kulangkahkan kaki meninggalkan ruangan, senja kian pekat, udara dingin kembali menerpa. (naskah dan foto/Imtihanah/Heti Palestina Yunani)