Terpikat Aura Biksu di Lorong Candi

Pesona Magis Bagan (3)
Pagoda Htilominlo dengan keelokan terra cottanya
Pagoda Htilominlo dengan keelokan terakotanya

Sungguh bangunan Candi Ananda di Myanmar rata-rata sangatlah megah dan gagah. Ada percampuran antara teknik arsitektur, legenda serta kepercayaan akan sebuah agama yang disatukan dengan kompeten. Bata demi bata disusun secara rapih.

Konon, tidak seorangpun dapat menusukan setitik jarum pun di bangunan ini karena kemolekan penataannya. Penataan lantai dasar, dekorasi pintu depan, tiang-tiang penyanggah yang diletakan dengan penuh presisi dan perhitungan yang tepat.

Ditambah dengan pahatan patung Buddha yang memiliki setiap gaya yang berbeda untuk menggambarkan setiap aspek kehidupan serta lukisan mural di dinding yang tergores dengan rupawan. “Tak heran bila situs ini masuk dalam daftar UNESCO,” seru saya di dalam hati.

Patung Buddha setinggi 9,5 meter yang berada di dalam Candi AnandaDi sebuah situs arkelogi Bagan itu saya terus tak henti terkagum-kagum. Ananda  adalah tempat di mana perkawinan antara semua mahakarya seni Myanmar ini ditemukan. Namanya diambil dari bahasa Sansekerta, ’Anand’ yang berarti sangat indah. Bangunan seluas 88 meter dengan tinggi mencapai 51 meter ini merupakan salah satu candi yang tersohor.

Lilian, sopir andong yang membawa saya berkeling mengatakan jika kita menginjak Bagan tanpa melihat Candi Ananda, maka sama saja seperti tidak mengunjungi Bagan. Dengan penuh semangat, saya berjalan masuk. Pada bagian puncaknya terdapat stupa dengan lapisan gold leaf. Bangunan kubah persegi empat menjadi ruangan utama, masing-masingnya dihuni oleh patung Buddha berwarna emas berdiri setinggi 9,5 meter dengan Mudra yang berbeda.

Pagoda Thatbyinnyu dengan ketinggiannya yang mencapai 61 meter
Pagoda Thatbyinnyu setinggi 61 meter

Mudra merupakan simbol gerakan tangan yang digunakan dalam seni memahat dan perayaan agama Buddha. Keempat patung tersebut berdiri menghadap arah mata angin yang berbeda-beda, merepresentasikan pencapaian Buddha ke Nirvana. Sistem ventilasi dan penerangan juga diimplementasikan dengan penuh perhitungan.

Dinding koridor berkubah dengan jendela-jendela besar menjadi dekorasi serta sumber pencahayaan di dalam candi ini. Ratusan kubah kecil diisi oleh patung Buddha yang berbeda-beda. Salah satu momen favorit yang memikat saya adalah ketika berjalan melewati lorong ketiga dalam candi ini, salah satu kubah besar di dinding didiami oleh seorang biksu yang sedang bermeditasi.

Aura yang kuat terpancar dan mengisi seluruh lorong dengan kekuatan magis. Candi Ananda mencerminkan seorang ratu yang penuh wibawa namun memikat hati, batin saya. Mulut saya tanpa sadar membuat simpul kecil ketika meninggalkannya, seakan puas oleh apa yang saya saksikan dan rasakan.

Setelah meninggalkan Candi Ananda, saya menuju Dhammayangyi, candi ini dibangun pada tahun 1167 oleh Raja Narathu yang diselesaikan hanya dalam kurun waktu tiga tahun. Jika Ananda adalah seorang ratu, maka Dhammayangyi adalah rajanya, kokoh dan perkasa.

Sekilas, bangunan itu tampak seperti piramid di Mesir, dengan puncak yang tumpul. Dan, tidak seperti yang lainnya, Candi ini tidak memiliki stupa di atasnya. Bentuk dasarnya menyerupai Candi Ananda, kubah persegi empat dengan patung Buddha sebagai porosnya. Setiap sisinya menghadap ke arah mata angin yang berbeda. (naskah dan foto: Irene Barlian/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)