Terpesona Rumah Niang Gena Maro

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (14)

Kemewahan Tidur di Rumah NiangSaya tiba di Wae Rebo pada pukul 08.30. Masyarakat desa hampir seluruhnya menyambut dengan senyuman manis. Mulai dari bayi hingga orang tua duduk di pelataran rumah utama tempat sang kepala adat tinggal. Saya bertiga masuk ke dalam rumah utama untuk meminta izin berkunjung. Tumbuk Kopi

Setelah prosesi adat selesai dengan ditanya beberapa pertanyaan oleh kepala adat seperti asal daerah dan mengucapkan doa leluhur mereka, saya diperbolehkan keluar dan berinteraksi dengan warga Wae Rebo. Kabut tebal tidak menghalangi warga lokal untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengolah kopi dari biji hingga menjadi serbuk.

Pria dewasa pun sempat bermain-main membangun suasana yang begitu menyenangkan di sana dengan bermain sepak takraw. Tersenyum saya dibuat oleh suasana yang mereka bangun, mereka pun langsung mendekati saya dan mengajak ngobrol.

Sama sekali tidak ada rasa canggung dan malu untuk saling berinteraksi. Dalam obrolan pagi itu saya diceritakan oleh tetua adat mengenai beberapa keunikan Wae Rebo. Salah satu cerita yang selalu saya ingat adalah tentang orang keturunan Wae Rebo yang akan selalu pulang, sejauh apa pun mereka merantau di muka bumi ini.

Setelah sadar tidak pernah pulang ke tanah kelahiran maka orang tersebut pun pulang dan meminta maaf pada leluhur di tanah adat, alhasil penyakitnya bisa berangsur sembuh. Benar-benar di luar logika kita sebagai manusia biasa.

Rumah NiangKemasan dalam tas yang sudah saya bawa sejak dari Bandung dibuka, oleh-oleh sederhana untuk anak-anak desa yang sangat terkenal begitu aktif. Sejak sebelum berangkat, saya sudah mempersiapkan kenang-kenangan untuk mereka; 100 gantungan angklung yang banyak dijual di daerah Cibadak. Mereka berebutan memiliki benda sederhana tersebut.

Selain buah tangan, angklung adalah identitas bahwa saya dari tanah Pasundan. Salah satu orang dewasa begitu menarik perhatian saya saat membagikannya, ialah Yosepf tapi dipanggil Bang Yos. Dia bercerita mengenai pergerakannya membangun kepengurusan pariwisata Wae Rebo secara mandiri.

Nama-nama Rumah NiangSejak diumumkannya Wae Rebo sebagai kategori konservasi budaya pada 2012 oleh UNESCO, para pemuda di sana sadar akan dampak yang terjadi karena lonjakan jumlah pengunjung ke desa mereka. Sejak itu mereka mengkonsep bentuk pariwisata mulai akomodasi bagi pengunjung, pengelolaan cinderamata, sampai aturan untuk dipatuhi.

Rumah kerucut warga Wae Rebo itu bernama Rumah Niang, salah satunya yang bernama Niang Gena Maro, rumah paling kiri dari rumah utama, dibangun dan dimodifikasi untuk kepentingan akomodasi pengunjung yang menginap di sana. Kepengurusan yang dibangun sangat terbuka untuk menerima masukan dari lembaga di luar sana, baik NGO atau LSM luar dan dalam negeri. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)