Terhipnotis di Parangtritis

Sisi Lain Yogyakarta Pascaerupsi Kelud (1)

“Jangan ke Yogya sekarang. Kamu mau lihat apa? Tumpukan abunya jauh lebih parah dari di Surabaya, bahkan ngalah-ngalahi waktu letusan Merapi kapan hari itu.” Itu kalimat yang dilontarkan seorang sahabat saat mengetahui bahwa saya akan berangkat ke Yogya pascaerupsi Kelud beberapa tahun lalu. Keraguan sempat melanda. Namun, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk tetap berangkat sambil menyiapkan mental kalau saja ternyata perjalanan ini tidak cukup nyaman untuk dinikmati.

jadah-tempe-1Perjalanan malam menggunakan mobil berlangsung lancar tanpa hambatan. Semuanya tampak normal di pekatnya malam hingga matahari dengan cahaya keemasannya menyapa. Betapa kagetnya saya, Yogya kelabu. Atap, pepohonan, jalan aspal, trotoar, lapangan, semuanya berwarna seragam. Abu-abu. Tempat yang ingin saya tuju pertama kali adalah Jadah Tempe Mbah Carik di Kaliurang. Setelah kenyang menikmati jadah ketan yang lembut berlauk tempe bacem, saya berkeliling lereng Merapi, menyusuri track sepeda yang akan saya lalui di akhir pekan nanti.

Beberapa kawasan masih sangat berdebu, namun masih memungkinkan untuk dilewati sepeda beramai-ramai. Selesai berkeliling di Kaliurang, saya segera ke hotel dan check in. Setelah sejenak meluruskan punggung, perjalanan saya lanjutkan ke Parangtritis untuk melihat sunset. Dari Kaliurang ke Parangtritis ternyata membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dari yang diperkirakan karena lalu lintas di Yogyakarta sudah padat.

erupsi-3Parangtritis sore itu cukup ramai meski tidak sepadat saat liburan. Sekelompok remaja mengambil foto menggunakan tongsis (tongkat narsis) yang sedang nge-trend. Di sisi lain, sekelompok pemuda bermain sepak bola di hamparan pasir landai, membentuk siluet di depan matahari yang semakin turun. Tak sedikit pula pasangan muda-mudi yang memadu kasih, memanfaatkam pancaran keemasan sang surya untuk mengabadikan cinta mereka. Tiba-tiba saya merasa sedih, mengapa ada di tempat ini tanpa membawa orang terkasih.

“Ayo, Mbak. Naik Bendi. Di ujung sana bagus buat foto. Nanti saya bantu ambil gambar,” ujar tukang bendi yang membuyarkan lamunan saya. “Mbak lihat kaki bukit di sana?” ujarnya sambil menunjuk bukit yang menjorok ke laut. Seperti dihipnotis, saya mengangguk. “Ke sana lima puluh ribu saja, tapi harus cepat, keburu mataharinya turun.” Akhirnya saya naik bendi yang bisa ditumpangi empat orang itu.

Setelah turun dari bendi, seorang bapak-bapak menghampiri untuk menawarkan sketsa wajah. “Murah, Mbak. Lima puluh ribu saja sudah bisa dibawa pulang. Nggak lama, kok.” Melihat wajah saya yang tidak terlalu tertarik, bapak tadi menurunkan harganya.  “Buat mbaknya harga pelajar saja, tiga puluh lima ribu.” Saya tersenyum, menolak penawarannya dengan halus. Adzan maghrib berkumandang. Para tukang bendi, mas-mas yang menyewakan kuda dan ATV, pelukis sketsa wajah, pembuat tato temporer, seperti dikomando meninggalkan pantai.

Terang berganti gelap, penjual jagung bakar dan wedang ronde mulai saling bersautan menawarkan dagangan. Pilihan jatuh kepada seorang ibu setengah baya, Bu Rukiyah, yang sudah berjualan jagung bakar sejak sepuluh tahun lalu. “Ini sepi, mbak. Kadang-kadang sampai kukut jam delapan ya laku cuma beberapa.” Sedih mendengarnya. Setelah menuntaskan semangkuk wedang ronde, saya pun pamit, meninggalkan Parangtritis yang mulai gelap.

erupsi-1Dalam perjalanan kembali ke kota, saya mampir ke Tembi Rumah Budaya. Berbagai kegiatan seni dilaksanakan malam itu. Dari pameran lukisan karya seniman Yogya, resital piano, hingga latihan tari yang diikuti sekelompok remaja puteri yang lemah gemulai. Saya sempatkan duduk di belakang menghadap persawahan sambil menikmati suara jankrik dan katak, hingga akhirnya gerimis membuyarkan lamunan.

Setengah berlari saya ke angkringan yang ada di halaman samping Tembi untuk menghangatkan diri dengan segelas wedang jahe dan sego kucing khas Yogya. Setelah kenyang, saya pun kembali ke hotel untuk beristirahat. (naskah dan foto: Didi Cahya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)