Terbang Rendah di Atas Queenstown

New Zealand, masuk check list nomor satu sebagai negara di dunia yang paling ingin saya kunjungi. Setelah kurang lebih dua tahun bermimpi bisa sampai ke sana, akhirnya terwujud juga pada Agustus 2015 lalu. Rasanya, oh senang bukan main. Sampai saya tidak sabar dan sudah mulai plan itienary 3 bulan sebelumnya. Padahal biasanya saya cenderung last minute planning kalau berhubungan dengan traveling.

Semua berawal dari adik perempuan saya yang kuliah di Melbourne diwisuda pada awal Agustus 2015. Karena jarak dari Melbourne ke New Zealand cukup dekat, kami berenam (saya, kedua orangtua beserta tiga adik) memutuskan untuk sekalian pergi liburan ke New Zealand setelah menghadiri graduation.

queen-perjalanan-menuju-glenorchy
Perjalanan menuju Glenorchy

Perjalanan cukup singkat, hanya satu minggu mengingat adik saya yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, cuma punya 9 hari cuti. Karena keterbatasan waktu sementara banyak sekali tempat yang ingin dikunjungi, saya lah yang mengajukan diri menjadi trip organizer agar cermat mengatur itinerary.

Apalagi saat itu sedang winter dan matahari mulai terbenam pada pukul 5.30 sore. Kota yang kami putuskan untuk dipijak pertama kali di negara itu adalah Queenstown. Lucunya, negeri ini tercatat memliki jumlah domba lebih banyak dari populasi manusianya.

Penerbangan dari Melbourne ditempuh selama kurang lebih 3 jam dan 20 menit. Ada 4 maskapai lokal Australia dan New Zealand yang menyediakan rute penerbangan Melbourne-Queenstown dengan total frekuensi 6 kali setiap harinya. Itu menunjukkan Queenstown jadi destinasi yang diminati meski letaknya cukup terpencil di bagian selatan dunia.

Momen terindah dari perjalanan itu sudah dimulai begitu saya membuka kaca jendela pesawat. Saya yang duduk di window seat semula menutup jendela hampir di seluruh perjalanan. Tak hanya saya lho, kebanyakan penumpang yang lain melakukan itu karena terik matahari cukup menyengat di siang hari.

queen-pemandangan-dari-dalam-pesawat-menuju-queenstown
Pemandangan dari dalam pesawat menuju Queenstown

Sekitar 20 menit sebelum mendarat, pramugari menginstruksikan untuk membuka semua jendela. Dan boom! Saya melihat hamparan Southern Alps yang sangat luas dengan salju putih menutupi puncak pergunungan. Belum lagi ketika pilot mulai menurunkan altitude-nya, rasanya hati ini berdebar-debar seperti mau landing di atas gunung karena jarak terbang begitu rendahnya.

Setelah mendarat, kami menuju tempat penginapan yang berjarak cukup dekat, hanya 15 menit dari airport. Kami sangat beruntung bisa mendapat akomodasi tepat di depan Danau Wakatipu dan pegunungan The Remarkables.

Belum lagi warna pepohonan dengan kombinasi warna hijau, kuning dan oranye yang terlihat sangat serasi. Selesai check-in dan taruh barang, saya dan kedua adik saya langsung ke depan untuk foto-foto. Mumpung sebelum sunset meskipun temperatur saat itu mencapai 4 derajat.

Keesokan harinya, kami berjalan kaki ke pusat kota sekitar 10 menit untuk meminjam mobil. Syaratnya mudah, hanya perlu menunjukkan Driving License dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh staf dan umur minimum 18 tahun. Dengan SIM International yang ayah saya dapat di Jakarta, proses pun berjalan dengan cepat.

queen-glenorchy
Rumah kayu

Voila, begitu kunci mobil sudah di tangan, kami langsung tancap gas ke tempat pertama, Glenorchy, sekitar 45 km dari Queenstown. Tempat ini merupakan salah satu tempat syuting film Lord of The Rings, X-Men dan Narnia. Pantas kalau syuting film Hollywood itu di sana sebab sepanjang perjalanan hanya ada suguhan pemandangan danau dan pergunungan indah tiada tara.

Sempat kami memasuki area yang cukup berbahaya karena jalan berkelok-kelok dan licin oleh es yang mulai mencair. Saya dibuat tak henti terpesona seakan gunung-gunung itu tidak ada habisnya. Setiap belokan serasa memiliki gunung berbeda-beda saking banyaknya. Tidak banyak mobil yang lalu lalang, mungkin karena kebanyakan turis pergi untuk bermain salju.

Mobil kami berjalan pelan sesuai speed limit yang ditentukan. Saat itulah kesempatan berharga untuk mengambil foto dari berbagai angle. Kami berhenti di tempat yang cukup iconic, sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu berwarna merah dengan tulisan Glenorchy berlatar belakang pergunungan dan danau.

Belum lagi bosan, kami melanjutkan perjalanan ke Wanaka melewati kota kecil bernama Arrowtown yang pada abad 18 menjadi pertambangan emas. Setelah makan siang di Arrowtown, kami bergegas ke Wanaka yang terkenal dengan danaunya, Wakatipu. Untuk menikmatinya, kami cukup berjalan kaki menelusuri tepiannya yang eksotis.

Cukup 2 jam saja sebelum akhirnya dengan berat hati kami memutuskan pulang ke Queenstown. Mumpung langit belum gelap mengingat minimnya lampu jalanan sehingga cukup berbahaya jika kami harus berkendara pada malam hari. Di hari ke tiga di Queenstown, kami manfaatkan dengan hanya keliling di pusat kota.

queen-lake-wakatipu-dari-depan-hotel
Danau Wakatipu dari depan hotel

Bermula dengan naik gondola Skyline ke Bob’s Peak untuk makan siang buffet di Restoran Stratosfare. Dari base gondola hingga sampai ke atas tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 10 menit. Tempatnya tidak terlalu curam. Sesampainya di atas, udara semakin dingin apalagi sebelumnya sempat gerimis.

Untuk menghilangkan dingin, mengudap bisa jadi cara. Tapi kita harus menunggu jam 12 saat restoran dibuka. Soal makanan, tak perlu kuatir. Ada banyak sekali restoran atau kafe meneydiakan menu i Italian, American, Thai, Indian, Chinese dan lainnya. Dengan pemandangan seindah post card, cuaca yang dingin, dan makanan yang banyak macam, nafsu makan saya langsung bertambah lima kali lipat. Sungguh yummy!

Setelah makan kenyang, kami naik gondola lagi kembali ke bawah dan berjalan menelusuri setiap jalan di kota kecil nan indah itu. Sayang, keesokan pagi, saya harus pergi ke airport untuk lanjut ke Auckland. Rasanya selama 4 hari di Queenstown tak cukup. Bagi kalian yang menyukai traveling dan nature, saya sangat rekomen ke sini.

Yang utama, karena pasti Anda tidak bisa berhenti berdecak kagum dengan keindahan alamnya. Selain itu, yang patut diancungi dua jempol adalah untuk infrastruktur dan keramahan penduduk setempat. Tidak pernah satu kali pun saya melihat ada jalanan bolong atau rusak. Semua rambu lalu lintas terlihat sangat jelas dan jarang sekali terdengar bunyi klakson. Kelebihan lainnya? Banyak. Jadi, ke sini sajalah biar Anda puas sendiri. (naskah dan foto: Monica Effendy/Heti Palestina Yunani)