Terbang ‘Ekstrem’ Menuju Kelimutu

Ende, Keindahan di Antara Kisah dan Mitos (1)
Ende-Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende
Bandara H. Hasan Aroeboesman

Tidak diragukan lagi jika Indonesia menyimpan segala bentuk keindahan alam, salah satunya adalah wisata gunung yang belakangan ini menjadi wisata hits. Salah satu gunung yang dibanggakan Indonesia adalah Gunung Kelimutu di Flores.

Selain keindahan dan keunikannya karena memiliki tiga buah danau dengan warna air yang berbeda. Tentu saja cerita hikayat yang berunsur tradisional yang secara mitos dipercayai masyarakat lokal sebagai awal mula terbentuknya danau Kelimutu ini menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjunginya.

Bagaimana pun hal itu adalah bagian dari kekayaan Indonesia yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Termasuk saya yang juga mengagumi gunung-gunung Indonesia beserta kekayaan mitos yang berkembang mengikutinya.

Untuk Kelimutu, saya berniat mengunjunginya. Perjalanan saya menuju Ende diharuskan transit di Bali dan Labuan Bajo. Dari Bali saya menuju Ende yang memakan waktu sekitar 2 jam 55 menit. Selama perjalanan itu hanya ada satu perhentian dan penumpang tetap berada di dalam pesawat ketika transit.

Penerbangan ke timur Indonesia sangat sayang untuk dilewatkan, banyak pemandangan keren yang bisa kalian jumpai di balik kaca pesawat. Apalagi jika memakai pesawat yang jenisnya ATR. Maklum, biasanya pesawat seperti ini tidak terbang terlalu tinggi, sebagaimana jika dengan pesawat berbadan besar atau pesawat jet. Ende-Gunung di depan runway bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende

Salah satu pemandangan keren yang saya bilang tadi ya seperti foto yang saya ambil ini. Tampaklah Gunung Rinjani, permatanya Lombok terlihat sangat jelas di balik jendela pesawat saya. Wow, inilah bagian luar biasa itu.

Setelah transit di Komodo Airport, sekitar 20 menit saya kembali terbang menuju Ende. Waktu tempuh antara Komodo Airport dan Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman di Ende tidak lama, hanya sekitar 40 menit.

Bandara di Ende ini tergolong salah satu bandara ‘ekstrem’ di Indonesia. Saya saja penasaran sekaligus cemas ketika pesawat akan mendarat. Ketika pilot mengumumkan landing position, saya kami merasakan pesawat berbelok 90 derajat. Alamak!

Itu dilakukan karena ternyata terdapat sebuah gunung di ujung landasan. Cukup memacu adrenalin ya! Tetapi jangan khawatir, pilot-pilot yang menerbangi rute Indonesia Timur pasti sudah terlatih dan berpengalaman. Sampai saya mendarat, gunung menjadi pemandangan pertama saya seperti yang tertangkap di depan runway Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende itu.

Ende-Mentari yang mulai menunjukkan kegagahannya – Gunung Kelimutu
Mentari di Gunung Kelimutu

Namun ada satu tahap lagi untuk menuju Gunung Kelimutu. Saya harus menuju Desa Moni, sebuah desa kecil di kaki Gunung Kelimutu. Desa Moni bukan hanya tempat persinggahan sebelum menyaksikan keindahan dan keajaiban Gunung Kelimutu.

Desa ini menyimpan bentuk keindahan yang masih sangat alami dan juga keramahan khas masyarakat Flores. Perjalanan ke desa Moni dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu hingga dua jam dan melewati jalan yang berkelok-kelok, yang berkontur pergunungan. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani)