Tentukan Hari 5 dan 7 Demi Restu

Indahnya Kapal Phinisi dari Tana Beru (1)

Satu jam perjalanan menempuh 23 kilometer dari Kabupaten Bulukumba, 176 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan, ada yang saya amati. Di sepanjang pantai dengan pasir putihnya, berjajar kapal phinisi dengan berbagai ukuran menghadap ke laut berair biru jernih dan bersih.

tana beru (1) Di situlah, di Tana Beru, desa pembuat kapal phinisi akan membuat kita berharap berlayar mengarungi samudera menjemput matahari yang tenggelam di cakrawala. Ya, Tana Beru adalah sebuah desa di wilayah Sulawesi  Selatan yang terkenal  sebagai pembuat kapal phinisi yang masih dikerjakan secara tradisional.

Tradisi itu sudah berlangsung selama berabad-abad. Bahkan dikatakan pula pada abad ke 14, kapal phinisi ini sudah digunakan oleh Suku Bugis yang tersohor akan keahlian melautnya, untuk berlayar sampai ke benua lain. Salah satu kapal yang terbesar dan terkuat dinamakan Phinisi Nusantara yang telah mengarungi Samudera Pasifik, dan satu lagi lainnya bernama Ammana Gappa berlayar sampai ke Madagaskar.

Semua bagian kapal ditana beru (3)buat secara manual, dengan menggunakan peralatan sederhana seperti palu, pasak dan mesin pemotong kayu sederhana untuk membantu pekerjaan mereka. Pembuat kapal di Desa Tana Beru ini biasanya sudah melakukan pekerjaan membuat kapal selama bertahun-tahun dari satu generasi ke generasi lainnya, turun temurun dalam keluarga. Mereka menggunakan kayu besi atau kayu ulin untuk badan kalap bagian luar dan kayu jati untuk interiornya.

Dengan peralatan sederhana itulah mereka mengerjakan pembuatan kapal phinisi tanpa blue print desain karena langkah pembuatan sudah mereka hapal di luar kepala. Seiring dengan waktu, bahan baku kayu material kapal semakin sulit untuk didapatkan. Secara tradisi, salah satu syarat yang penting untuk dilakukan sebelum memulai pekerjaan adalah memilih ‘Hari Baik’ untuk mencari kayu-kayu tersebut.

Biasanya, acara  ini dilakukan setiap tanggal 5 atau 7 di bulan berikutnya. Masyarakat lokal percaya bahwa angka 5 melambangkan Naparilimai Dalle’na atau didapatkannya restu. Sedangkan angka 7 melambangkan Natujuanggi Dalle’na atau telah direstui. Semakin sulitnya mendapatkan kayu inilah yang menyebabkan bahan baku kayu menjadi semakin mahal, sehingga berpengaruh pada harga kapal phinisi yang meningkat drastis dalam 10 tahun terakhir.

Tentu saja, harga juga tergantung pada ukuran, tipe dan permintaan bentuk tertentu terutama bagian interiornya. Dengan peningkatan yang cukup signifikan ini, tak heran jika 80 persen pembeli adalah orang asing yang tertarik untuk membuat kapal phinisi baik untuk pribadi maupun komersial. (naskah dan foto: Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)