Tentang Rose by Riana Dewi

Aku sejenak terpaku pada tempatku saat ini. Kebingungan mencari kata-kata awal untuk merangkai sebuah kisah tentangmu, Rose. Padahal, sebelumnya otakku telah menyuplai adegan demi adegan yang nantinya akan kupindahkan di kertas-kertas putih setelah aku print. Namun, hingga pukul sebelas malam laptopku hanya menampilkan tampilan putih bersih tanpa huruf.

Bagaimana kalau dimulai dari awal pertemuan kita saja? Ah, aku rasa itu ide yang bagus. Bukan begitu, Rose?

Mungkin ini keisenganku saja sebagai seorang fotografer, mengambil lanskap-lanskap natural dari eskpresi orang-orang di sekitar adalah hal yang menyenangkan. Apa lagi kalau ekspresi itu tanpa diketahui si pemilik wajah. Dan, itulah yang kulakukan saat  ini. Di kota yang diberi nama Causeway Bay, di sana ada lapangan bernama Victoria Park yang kini disulap menjadi sebuah tempat pameran bunga.

Niat awalku adalah membidik bunga-bunga yang telah dirangkai dalam aneka macam bentuk. Namun, karena ekspresi anak kecil yang begitu bahagia ketika melihat bunga, akhirnya aku berubah tujuan. Menangkap ekspresi pengunjung pameran bunga melalui lensa kamera ternyata jauh membuatku terhibur. Ada campur rasa di dalamnya. Saat melihat kemesraan sepasang kekasih yang berpose di tengah bunga-bunga, hatiku pun menjadi hangat. Lalu saat itu juga aku diam-diam merapal doa agar bisa menemukan seorang pendamping yang kecantikan hatinya melebihi bunga.

Rupanya langit mendengar doaku. Di tengah keasyikanku menangkap ekspresi pengunjung, satu wajah dengan ekspresi seperti tercenung, ah bukan, melamun? Ah, juga bukan. Saat itu aku sendiri pun tak bisa menyebutnya melalui kata-kata. Ya, wajah dengan ekspresi tak bisa kujabarkan itu berhasil membuat tanganku terangkat untuk sekian menit. Sorot matanya antara sendu, takjub, dan pilu. Sementara telunjuk kananku menekan tombol untuk menjepret, tak kusadari objek itu mendekat. Gadis itu mendekat. Aku tercekat.

Alih-alih memarahiku, gadis itu malah mengulurkan tangannya. “Boleh kulihat hasilnya?” ucapnya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Di antara ketakutan—takut kalau gadis itu tiba-tiba menghapus semua hasil bidikanku hari ini—akhirnya kuulurkan juga kamera. Sambil membimbingnya menemukan apa yang dicari, aku pun berujar lirih, “Apa kau marah padaku karena diam-diam aku mengambil gambarmu dan kau  ingin menghapusnya?”

Gadis itu menoleh kepadaku, tersenyum menampilkan sederet giginya yang rapi. “Marah? Untuk apa aku marah? Aku justru senang karena ada orang yang memotret diriku.”

Tak lama kemudian gadis itu bersorak seperti anak kecil yang diberi gula-gula oleh orang tuanya ketika melihat gambar dirinya sendiri di kamera milikku. “Coba lihat ini!” gadis itu menyodorkan kamera dan bersama-sama melihat hasil bidikan yang belum sempat kulihat. “Bagaimana aku bisa marah kalau hasilnya begitu bagus seperti foto ini?” ujarnya senang. Lagi, gadis itu tersenyum menampilkan sederet giginya yang putih. Untuk kedua kali inilah, aku baru menyadari bahwa senyum wanita itu begitu manis. Ya, senyummu sungguh manis, Rose. Aku pun tercekat oleh pemikiranku.

“Namaku Mawar dan aku dari Indonesia,” gadis yang telah kuketahui namanya itu mengulurkan tangan. Gadis dengan senyum menawan itu kau, Rose.

“Namaku Wang Jia Er,” aku menyambut hangat perkenalan.

Em, baiklah,” Mawar melepas tangannya. “Tapi, omong-omong, aku ingin sekali ke The Peak. Apa kau tahu tempatnya? Apa kau bisa menunjukkan arahnya? Kata temanku yang pernah berkunjung ke sana, suasana The Peak di siang hari terlihat begitu menakjubkan. Aku bisa melihat pemandangan gedung pencakar langit di ketinggian. Apa itu benar? Ah, aku sungguh penasaran.”

“Apa kau butuh pemandu untuk pergi ke sana?” Aku, Wang Jia Er akhirnya menawarkan diri.

Mawar terlihat sedang berpikir. Wajahnya begitu lucu dengan bibir yang dimanyun-manyunkan seperti anak kecil. Ah, kau memang my baby girl, Rose.

“Tidak usah berpikir terlalu banyak. Aku bersedia mengantarmu ke The Peak kalau kau mau.”

“Wah, serius?” mata Mawar membulat. Mulutnya yang tadi dimanyun-manyunkan, ia tarik hingga membentuk sebuah  lengkungan manis. Ah, senyum itu lagi.

Sebenarnya saat itu aku tidak tahu keputusan apa yang sedang kubuat. Niat awal yang berubah, ditambah kini menawarkan diri menjadi pemandu untuk gadis yang baru saja kukenal itu merupakan kegilaan yang pernah kulakukan seumur hidup. Tapi herannya, aku malah menikmati keputusan itu.

“Baiklah. Kau hanya perlu mengikutiku. Mari kita pergi sekarang.” Ajakku tiba-tiba.

Oke!” seru Mawar riang. “Ehm, naik apa kita ke sana?” tanyanya setelah melewati gerbang pameran bunga.

“Kita naik MTR saja.”

Tanpa banyak bicara lagi, seperti yang kuperitahkan, Mawar hanya diam mengikutiku di samping. Sesekali ia tertinggal jauh di belakang. Darinya aku bisa tahu bahwa di negara asalnya jarang ada orang bisa berjalan dengan cepat seperti kebiasaan warga Hong Kong. Dan, demi menyamai langkahnya, aku pun memperlambat langkahku.

Tak lama kemudian kami memasuki stasiun MTR terdekat. Setelah meng-tut tombol octopus, kami berjalan menuju eskalator, turun untuk menunggu kereta api datang.

“Jia Er, kau tahu apa itu Mawar?” tanya Mawar tiba-tiba di sela penantian.

“Mawar itu namamu, bukan?”

Mawar tergelak. Aku kebingungan. Apa yang salah dengan jawabanku?

“Aku akan mengatakan sesuatu tentangku,” katanya. Karena suasana berubah serius, aku pun memasang wajah serius. “Mawar adalah nama bunga yang kalau diartikan ke dalam bahasa Inggris berarti Rose.”

Aku tertegun. “Really?”

Mawar mengangguk mantap, “Ya.”

Dari pengakuannya itu, aku meminta izin untuk tak memanggilnya Mawar, melainkan Rose. Dan, dengan senang hati, ia kupanggil demikian. Terima kasih, Rose.

“Omong-omong, sampai berapa lama kau akan berada di Hong Kong?”

“Tidak lama. Mungkin tiga atau empat hari lagi aku akan pulang ke Indonesia. Untuk itulah aku perlu melakukan perjalanan ini.” Ungkap Rose.

“Baiklah. Selama kau berada di sini dan jika kau memerlukan guide, aku pastikan akan menemanimu.”

Lalu kereta api datang, menjemput penumpang, termasuk kami.

“Tempat apa yang ingin kau kunjungi setelah The Peak, Rose?” tanyaku di antara bising suara mesin kereta api.

“Aku ingin ke Tung Chung naik cable car. Aku juga ingin ke Disneyland atau Ocean Park dan menikmati permainan di sana. Aku juga ingin ke pantai, terserah pantai mana saja asal itu pantai dengan birunya air laut. Lalu di pantai, aku bisa menikmati senja.” Entah ini hanya pendengaranku saja? Ataukah memang benar demikian. Ketika Rose menyebut tentang senja, suaranya melirih. Ekspresi yang tak bisa kusebut itu kembali datang.

“Baiklah. Kita akan melakukannya besok sampai kau pulang ke negara asalmu. Setuju?”

Rose bersorak, menampilkan keceriaan yang tadi sempat menghilang. “Terima kasih banyak.”

Besok dan besoknya lagi, sesuai yang Rose rencanakan, kami pun mengunjungi satu per satu tempat, mulai dari menaiki cable car di Tung Chung sampai ke Disneyland. Namun, ada yang aneh tentang Rose saat di Disneyland. Ia hanya berjalan-jalan saja atau sesekali berfoto dengan badut. Ia tak melakukan keinginan yang pernah ia sebutkan saat di kereta api kemarin.

“Takut,” alasanya waktu kutanya mengapa. Tapi, lagi-lagi ekspresi yang tak bisa kusebut itu kembali datang ketika tanpa sengaja Rose manatap nanar roller coaster yang melesat di samping kanannya. Ekspresi apa sebenarnya itu? Sungguh membuatku ingin bertanya.

“Kenapa kau hanya melihatnya saja?”

Rose memalingkan wajahnya, kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih ceria namun tak berhasil. “Ternyata keberanianku tak sebesar harapanku. Aku sungguh takut kalau tiba-tiba ada kerusakan mesin lalu aku jatuh dan mati. Mati menjadi sesuatu yang menakutkan bagiku saat ini,” katanya. Aku ingin berkata, namun Rose sepertinya tidak ingin membahasnya. “Mau es krim? Akan kubelikan untukmu.”

Aku diam mematung.

“Besok kita ke pantai?” tanyaku sambil melahap es krim. Rose menjawab dengan anggukan. “Di mana aku harus menunggumu?”

“Di MTR Causeway Bay saja,” jawabnya singkat.

“Baik. Aku tunggu jam 10 pagi. Oke?” Lagi, Rose hanya menjawab dengan anggukan.

Tiba bagiku menceritakan bagian mana aku kebingungan mencari kata-kata untuk mengungkap tentang Rose. Seperti yang kujanjikan, aku menunggu Rose. Namun, setelah menunggu hampir tiga jam, yang datang bukan Rose, melainkan sosok wanita setengah baya yang mengaku sebagai bibimu.

Bibimu datang kepadaku dengan sepucuk surat. “Dari Rose. Maaf jika ia tidak bisa datang hari ini. Ia harus melakukan operasi hati. Ada kelainan di hatinya sejak ia masih kecil.”

Aku terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Jadi, apakah ini alasan mengapa terkadang ekspresi Rose seperti tak bisa disebut dengan kata-kata? Argh, mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Pikiranku berkecamuk saat itu.

Sentuhan pelan di pundak yang menandakan tanda perpisahan menyadarkanku. “Bi, bolehkah aku tahu di rumah sakit mana operasinya dilakukan?”

“Maaf. Bibi tidak berhak memberitahumu. Ini kulakukan atas permintaan Mawar.”

“Tapi, kenapa?”

“Sebab, setelah operasinya berhasil, ia takut tidak akan bisa lagi merasakan perasaan yang sama. Hatinya kini bukan hatinya lagi.”

Dan, bibimu pergi meninggalkanku dalam tanya juga rasa yang kini mengumpul satu dalam winter yang hampir usai. (naskah: Riana Dewi(*)/ilustrasi: Mola/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Riana Dewi adalah seorang Buruh Migran Indonesia di Hong Kong yang berasal dari Bandung. Penyuka warna merah ini sekarang sedang belajar kepenulisan di Forum Lingkar Pena Hong Kong. Beberapa karyanya pernah dimuat di koran Indonesia terbit di Hong Kong. Email: rianadewi2406@gmail.com. Facebook: Mega Bintang (Riana Dewi). No. Tlp : +85267367131. Whatsapp: +85269359344)