Tenang, Orang Nepal Lancar Bahasa Inggris Kok

Ada yang ingin ke Nepal? Saya ingin share beberapa hal yang saya alami di sana untuk bekal siapa saja ketika sampai di negeri para petualang itu. Saya mulai saja tips ringan begitu di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu, Nepal. Setibanya, pekerjaan saya mula-mula ya mengisi formulir visa on arrival (VoA) sebelum ke imigrasi.

Perlu diketahui, hingga kini negara kita belum memiliki kerjasama diplomatik dengan Nepal lho. Maka jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, semisal kehilangan paspor atau kecelakaan, maka KBRI terdekat yang bisa kita tuju ya di Dhaka, Bangladesh.

Meskipun Indonesia memiliki konsulat kehormatan di Kathmandu, namun tidak memiliki wewenang untuk menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Maka harap berhati-hati dalam menggunakan dan menyimpan paspor. Kopilah paspor dalam jumlah banyak untuk menjaga kemungkinan buruk terjadi.

nepal2-Antrean imigrasi di bandara yang lengang
Antrean imigrasi di bandara yang lengang

Formulir VoA ada yang bisa diunduh secara online. Bahkan di bandara, ada mesin VoA untuk mempermudah dan mempersingkat waktu. Namun karena antrean di imigrasi tidak banyak, saya memilih untuk mengisi formulir secara manual.

Oh ya biaya untuk tinggal di Nepal selama setengah bulan (15 hari) adalah $ 25. Sementara untuk satu bulan dikenakan biaya 40 $. Nepal menggunakan mata uang NPR (Nepal Rupee). Jika dikonversi ke dalam rupiah, per Oktober 2017 lalu saat saya pergi ke sana, 1 NPR sama dengan Rp 130.

Saya sarankan untuk menukar secukupnya saja di money changer dekat bandara karena nilai tukarnya relatif rendah. Namun, jika ingin mengambil uang dalam jumlah yang besar, sebaiknya ambillah di ATM yang berlogo Visa, Cirrus atau Master Card karena nilai tukarnya relatif stabil. Usahakan sekaligus dalam jumlah banyak. Pasalnya di setiap penarikan ada biaya administrasi sebesar Rp 20 ribu-Rp 25 ribu.

nepal3-Konon, bila kita masih memiliki sisa uang dari negara yang dituju, kelak kita akan datang kembali ke sana
Konon, bila kita masih memiliki sisa uang dari negara yang dituju, kelak kita akan datang kembali ke sana

Soal komunikasi dengan ponsel, bagi wisatawan asing yang ingin memiliki nomor Nepal harus mendaftarkan dengan identitas pengguna. Biasanya memakai nomor paspor. Sayangnya kuota yang diberikan tidak banyak. Begitu pula dengan kecepatannya. Sejak digunakan tahun 1994, kecepatannya tidak lebih dari 256 kbps. Lelet ya?

Bila Anda sudah kenal dekat dengan guide, ia bisa membantu meregistrasikan nomor tersebut dengan memakai data pribadinya. Namun ada alternatif lain sebagai pejalan mandiri seperti saya, cukuplah menggunakan fasilitas wifi di hotel maupun kafe. Gratis.

Banyak yang berpendapat bahwa Nepal merupakan wilayah jajahan Inggris. Namun, faktanya tidak demikian. Nepal tidak pernah dijajah Inggris. Namun, Nepal pernah berperang dengan negara adikuasa itu dan kehilangan banyak daerahnya. Nepal lalu memilih berdamai dengan Inggris.

Sebagai gantinya, Inggris menggunakan orang Gurkha sebagai tentara bayaran untuk berperang di tempat lain. Dari sinilah kontribusi Inggris di bidang bahasa terhadap penduduk Nepal. Sehingga, tidak sedikit orang Nepal yang sangat fasih menggunakan bahasa internasional ini. Tentu saja ini memudahkan traveler berkomunikasi dengan penduduk asli.

Dan bagi yang belum bisa berbahasa asing dengan baik, perjalanan ini merupakan ruang pembelajaran yang luas. Orang Nepal ramah dan mendorong kita untuk berani belajar. Salah atau benar jangan khawatir, semua akan terseleksi dengan sendirinya. Meski terpaksa, saya pun jadi berani bicara tanpa bantuan kamus seperti layaknya belajar bahasa di bangku sekolah.

Dampaknya lambat laun Bahasa Inggris yang kita kuasai pas-pasan akan terasah. Saya bahkan menemukan banyak kosa kata baru, beragam dan pada situasi sesuai bagaimana kata tersebut harus digunakan. Jadi, jangan pernah takut ber-traveling di Nepal walau terkendala minimnya perbendaharaan bahasa setempat atau Bahasa Inggris. (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani)