Teman Perjalanan by Beni Setia

AKU datang dua jam sebelum keberangkatan, optimistis dapat tiket arena ini bukan hari akhir dan awal pekan yang dijejali si pekerja yang kos dari Senin sampai Jumat, sehingga ada waktu luang sebelum menikmati perjalanan ke timur.

Tidak ada rencana perjalanan, sebenarnya, bahkan sedang menulis cerpen yang harus selesai pertengahan minggu. Tapi seorang teman minta tolong menggantikannya berbicara tentang korupsi, dengan rujukan khazanah karya sastra. ”Tolong,” katanya.

Aku tersenyum—ada transportasi, akomodasi, dan honor, meski aku harus mengebut bikin makalah dalam dua hari. Dan kini aku mengantri di loket untuk tiket yang dijual langsung di luar jatah pesanan online. Berharap segera dapat tiket dan memanfaatkan waktu menyelesaikan makalah.

Di hadapanku, berdiri seorang lelaki yang cemas. ”Masih ada Mutiara Selatan-kah?” katanya dengan aksen Kalimantan. Ia tersenyum, aku juga tersenyum ketika ia pelan melirik dan seakan minta maaf kalau tiket terakhir itu malah untuknya.

Aku sendiri tak terlalu cemas. Sebelum yang itu, masih ada kereta ke Malang, lantas kereta bisnis dan eksekutif yang sampai Solo, dan kemudian kereta eksekutif. Aku sendiri memilih ini sebab ada waktu luang sebelum berangkat.

Aku juga akan punya kesempatan menulis sebelum tidur di kereta, dan tak terlalu lama menunggu jemputan di Madiun—menyelesaikan cerpen dengan cokelat hangat di resto ayam goreng kecil dekat pintu masuk stasiun, seperti tiga bulan lalu ketika diundang ke Ngawi.

Aku memesan cokelat hangat dan tiga croissant agar bebas menyelesaikan makalah—cuma tinggal koreksi akhir, menghaluskan logika, mengecek catatan kaki, serta mengirimkan lewat internet. Menyesap cokelat.

Lega sendawa sambil menyalakan rokok. Melirik jam di HP ketika mendapatkan konfirmasi: makalah telah sampai. Menghabiskan semua sembari mulai memikirkan lanjutan cerpen yang awalnya mulus serta akhirnya telah terbayangkan. Menarik nafas setengah menenangkan diri.

Ada rentang perjalanan delapan jam, masa menunggu, dan istirahat sebelum esok bicara di petang hari. Aku memilih ke luar, ke peron, ke udara terbuka setelah setengah dikondisikan dalam udara artifisial gerai asing berlisensi—tapi karena tidak bebas merokok aku berjalan mendekati jalur berangkaian gerbong, ke smoking area.

***

AKU bertemu lelaki tadi. Ia sedang gelisah merokok—tidak ada perokok yang gelisah, karena perokok itu penyesap nikotin serta tar yang menenangkan otak sehingga tak pernah tergesa mengisap rokok. Ia melirik—dan tersenyum. ”Ke Surabayakah?” katanya.

Aku menggeleng, dan bilang hanya ke Madiun—lalu disambung ke Ponorogo dengan mobil. ”Saya dijemput di sekitar Subuh,” kataku. Si lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepala. ”Bapak mau ke Balikpapan. Harus ada di Surabaya sebelum jam sepuluh—agar tidak ketinggalan pesawat,” katanya.

Aku menenangkannya, mengatakan bahwa kereta itu tidak kena macet, dan sekarang jarang mogok. ”Ada sistem yang mengamankannya,” kataku.          ”Kenapa tidak dari Jakarta?” tanyaku. Bapak itu tersenyum.

Ia sebenarnya ke Trawas, Mojokerto, untuk mengawal dan mengantarkan anaknya pindah tugas ke Lembang—orang Peternakan. Terlalu asyik tiga hari lalu teringat kalau tiketnya sudah punya tanggal—tertunda setengah harian lagi karena diajak dulu ke Ciater, padahal sudah siap berangkat dengan kereta pagi.

”Rencananya menginap satu malam di Surabaya …,” katanya. Aku tersenyum. Bilang, bertemu anak, mantu, serta cucu itu itu tak cukup seminggu, dan untuk antisipasi—sebab itu seperti liburan yang asyik—seharusnya pesan tiket open yang tanggal-harinya bisa ditentukan sendiri. Bapak itu tersenyum,

”Bapak tidak berlibur, Nak. Bapak menjenguk anak yang telah empat tahun tidak pulang, bahkan berkabar mau mutasi, sehingga istriku memaksa aku untuk ke Mojokerto: menjenguk dan mengantarnya pindah ke Lembang. Lucu. Harusnya istriku itu ikut berangkat, tapi ia tak hendak, dan menyuruh aku sendiri yang berangkat. Jadilah aku ke Mojokerto, menelepon dan menyuruh ia berbicara dengan anak, mantu, dan kedua cucunya. Ikut boyongan ke Lembang sini, menelepon kembali, dan ia benar-benar percaya—padahal tanpa aku di sini ia tetap bisa menelepon. Aneh kan? Dan aku sejak kemarin aku diteleponinya agar pulang sesuai jadwal, meski anak dan menantu dan cucuku minta aku lebih lama di sini, lalu terbang lewat Jakarta. Tidak, katanya—harus Surabaya. Lucu …”

Aku tertawa meski tidak menemukan di mana lucunya. Komunikasi adalah akting total, dan latihan teater yang rutin selama lima belas tahun membuatku bisa berimprovisasi, leluasa membuat percakapan buang waktu yang asyik.

Dan kami bertukar nama, alamat, dan nomor HP—bahkan mengharapkan aku menginap di rumahnya bila sekali waktu diundang diskusi di Balikpapan, tidak peduli dalam undangan itu selalu termasuk kelengkapan akomodasi. Aku mengiyakan. Tapi saat naik kereta, kami berada di gerbong berbeda.

***

AKU menulis sejak Kiaracondong sampai di Tasikmalaya. Aku mengetikkan semuanya tanpa dikoreksi dan ditertibkan—masih ada satu hari sebelum semua ditertibkan dan dikirim sebelum tengat waktu, sebelum janji deadline tiba.

Aku memejam—setelah menarik kabel dari colokan dinding, dan menertibkan semuanya dalam ransel. Kereta bergerak dalam kelam, meluncur ke Ciamis serta berhenti, lantas Banjar sebelum menempuh bagian selatan Jawa Tengah yang datar—terus sampai di Surabaya, meski agak naik di sekitar Kroya dan nanti di Ngawi.

”Pak, gerbong sini kosong. Kalau mau kita bisa ngobrol,” kataku. Si Bapak itu tertawa, dan bilang bahwa gerbongnya juga kosong. Aku meraih ransel dan bergerak ke gerbongnya, aku menemukannya sedang berkali-kali mengawasi pintu gerbong dari sebalik sandaran kursi di depan.

Aku menyimpan ransel di rak barang, lalu menghenyak duduk di sampingnya. Aku bilang tak bisa tidur. Si bapak juga bilang tak bisa tidur—sangat cemas ketinggalan pesawat, karena itu berarti terpaksa harus membeli tiket baru yang harganya pasti mahal karena dibeli sesaat menjelang berangkat. Aku tersenyum.

Aku meminta tiket kereta si bapak, buat menunjukkan kalau kereta itu akan sampai di Surabaya, di stasiun Gubeng pada 06:02. ”Biasanya berhenti juga di Wonokromo, sebelum Gubeng. Keluar ke sisi kiri—hanya ada pintu keluar di sisi kiri— dan langsung naik taksi ke bandara. Itu sangat cepat. Di bandara bapak bisa santai. Mandi, makan, dan langsung boarding. Dari sekarang sudah bisa telepon ibu—bilang sudah di kereta, dan keretanya sudah lepas Tasikmalaya. Yananti telepon lagi kalau sampai di Wonokromo dan saat naik taksi, lantas terakhir ketika proses boarding …,” kataku.

Si bapak terbahak. Ia bersandar dan bilang ingin merokok tapi tak bisa merokok. Aku memanggil si pramugara, pesan cokelat hangat dan nasi goreng untuk berdua—si bapak pesan kopi. Kami makan dan mengobrol sampai mendekati Kebumen.

***

AKU tidur sampai Solo—si bapak masih terlelap. Aku terjaga dan mengambil HP buat membuka dan membaca e-mail yang masuk, kemudian masuk facebook, membaca serta iseng mengomentari status. Ketika mensideru masuk Sragen aku membuat beberapa konsep sajak, cerpen, dan esai di HP—sebelum nanti dikembangkan ketika luang.

Aku limbung ke toilet, kencing, kembali untuk mengambil tisu basah di ransel—menyeka wajah, leher, pundak, serta dada. Aku jalan ke  restorasi untuk air mineral. Saat balik si bapak telah terjaga. ”Di mana?” katanya. Aku bilang, lepas Sragen—masih satu jam lebih sebelum Madiun—masih tiga jam sebelum Surabaya.

Cokelat hangat diantar, dan aku memesan kopi buat si bapak—langsung dibayar karena akan turun. Si bapak bersandar, dan berkisah tentang anak-anaknya yang empat orang itu—satu di Jawa dan jadi PNS Perternakan, dua di Kalimantan dan menjadi PNS di Pemda, serta satu ikut suami dan jadi guru di Kendari.

”Aku tenang karena semua sarjana serta jadi PNS.  Tenang dijaga dua anak, dua mantu, dan lima cucu—meski rumah terpisah,” katanya lembut. ”Alhamdulillah …,”  kataku.  Si bapak itu tersenyum—lamat mensyukuri semua itu dengan membisikkan ”amin” yang lirih. Aku perlahan membayangkan satu tokoh cerpen yang hidup lurus, serta berbahagia dalam istiqomah tak terpancing fatamorgana dunia.

***

AKU turun di Madiun—bapak mengantar sampai pintu gerbong. Aku berjalan ke toilet dekat masjid, cuci muka, balik ke peron, naik ke punuk jalur satu untuk sesaat menghabiskan rokok. Setelah sebatang balik ke pintu masuk, belok ke resto:  memesan cokelat hangat serta sop—sambil bersitekun dengan draft cerpen yang belum dihaluskan.

Aku mengeditnya untuk mendapatkan sosok cerita yang utuh, menegakkan logika cerita sambil menghaluskan sugesti kata. Aku hanya bisa mengerjakan sepertiganya. Aku lapar, mulai makan saat adzan Subuh dikumandangkan masjid di luar stasiun—suaranya samar tapi membuat aku melambung dan merapung. Aku bersiap menunggu jemputan yang akan datang—dari Ponorogo dibutuhkan waktu satu jam.

Aku membayar. Balik ke kursi peron dan berselonjor berbantal ransel. Aku mengatur nafas dan mungkin terlelap ketika HP berbunyi. Penjemputku itu sudah sampai Dolopo. Aku menggeliat, balik ke smoking area, sebelah masjid stasiun, menunggu sembari merokok dan main facebook di HP.

Membayangkan materi makalah, mencari titik di mana pertanyaan bisa muncul, apa bunyinya, dan apa jawab yang diberikan. Sport otak. Pengenalan lapangan secara abstrak.  Aku meneguk air mineral botol, dan mengangkat telepon—mereka telah sampai.

Aku berjalan ke pintu masuk—pintu keluar sudah dikunci. Udara dingin kembali menyengat saat  ruang kosong peron disapu angin. Kota tenggelam dalam ngungun jelang pagi. Dan aku memejam saat mobil menderu ke selatan. Sampai kapan aku berpergian?

Aku ditawari makan tapi aku bilang telah shaur—tak menolak saat ditawari kopi. Aku diantar ke sebuah rumah, dipersilahkan istirahat sampai tengah hari. ”Acaranya nanti petang, sesi ketiga,” katanya. Aku santun dipersilahkan ke sebuah kamar. Aku mengeluarkan laptop dan mengedit cerpen sampai terang perkasa.

Aku menelepon si bapak,  bertanya sekarang ini  sudah sampai di mana, dan jawabannya melegakan—sudah naik, dalam perjalanan ke Juanda.  ”Akan lama di bandara, tapi itu hampir sudah dekat pintu rumah,” katanya. Aku mengiyakan. Aku menumpang mandi—menolak sarapan meski menerima jajan dan teh hangat. Jam 10:00 aku menerima telepon, si bapak bilang, sudah selesai boarding—segera naik pesawat.

Aku tidur satu jam, serta dapat telepon yang mengharapkan hadir di tempat seminar—aku mengiyakan, lantas berganti pakaian supaya segera makan siang. Aku berkenalan dengan banyak orang, untuk makan siang bersama, dan ketika rehat sebelum sesi kedua dimulai, aku mendapat interlokal.

Seorang petugas SAR di Balikpapan menelepon—aku dan istrinya yang dihubungi untuk terakhir kali—mengabarkan kalau si bapak itu meninggal: pesawatnya gagal mendarat, crash landing, ter-plintir karena roda kiri pecah, dan meluncur tak terkendali. Tak ada kerusakan apa-apa, tak ada korban penumpang selain si bapak—yang kaget oleh sentakan ketika pesawat menghentak darat dan roda pecah. Puntingan ter-plintir mengagetkannya.

”Serangan jantung,” katanya. Aku memejam. Itu takdirnya—itulah suratan hidupnya. ”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun …” bisikku pelan. Karena itu aku berjanji, di sekali waktu, kalau diperkenankan-Nya, aku hendak terbang ke Balikpapan, aku akan mampir ke rumahnya setelah mendatangi kuburannya—menunaikan janji yang diucapkan di perjalanan kereta. (naskah: Beni Setia-benisetia54@yahho.com/ilutrasi: /editor: Heti Palestina Yunani)