Menghampiri Lumba-lumba di Teluk Kiluan (1)

photo 1(1)Menonton atraksi lumba-lumba di sirkus sudah bukan zamannya. Perlakuan terhadap hewan sirkus belakangan memang menjadi sorotan para pecinta satwa karena hak hewan untuk menikmati hidup yang natural telah dicabut paksa. Makanya, begitu mendapat tawaran untuk melihat lumba-lumba di habitat aslinya, yang ada di dalam kepala hanya ada satu kata. Berangkat! Bayangan pertama kali adalah berangkat ke Lovina, Bali. Waduh, kalau ini sih harus cuti dan persiapannya agak ribet. Karena itu kali ini tujuan menonton lumba-lumba dibelokkan ke Teluk Kiluan yang terletak di barat daya Bandar Lampung.

Kiluan sendiri artinya adalah pohon kelapa. Sebagai orang Jakarta, bisa melihat lumba-lumba tanpa perlu jauh-jauh ke Lovina di Bali adalah tawaran yang sungguh menggiurkan. Dari Jakarta, kami ikut open trip. Ini adalah pengalaman pertama kali, mengingat biasanya kami mengambil paket private tour. Kami berangkat dari Jakarta dan menempuh 5 jam perjalanan hingga Pelabuhan Merak. Perjalanan menyeberang ini hampir tidak kami rasakan saking mengantuknya. Tapi kami tidak tahu jika ingin mendapatkan tempat duduk di kapal berlaku hukum rimba. Siapa cepat, dia dapat. Semua kursi sudah penuh terisi, sampai akhirnya ada petugas kapal yang menyewakan tikar. Lumayan, bisa sedikit selonjoran.

Akhirnya kami tahu kapal sudah merapat di Pelabuhan Bakahueni ketika mendengar lengkingan peluit kapal. Horeee sudah sampai! Namun kesenangan itu hanya sesaat. Kami masih harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam dari Bandar Lampung untuk menuju Teluk Kiluan. Jalanan semakin lama semakin jarang beraspal dan berbatu-batu. Perjalanan melewati kampung dengan rumah-rumah panggung yang tua namun artistik. Setiap melihat papan penunjuk jalan dengan tulisan Teluk Kiluan, rasanya ingin bersorak, namun terpaksa ditahan karena ternyata perjalanan masih panjang.

Akhirnya setelah melewati jalanan yang menanjak, menurun, dan berkelok, sampailah kami di gerbang selamat datang. Dari sana, eh masih perlu 1 jam lagi untuk sampai ke desa perhentian sebelum kami menyeberang ke Teluk Kiluan. Begitu sampai di Desa Kiluan Negeri, kegiatan kami adalah tracking dan menuju Hidden Lagoon. Hidden Lagoon ini adalah sebuah laguna tersembunyi, ’danau kecil’ di balik karang yang berbatasan dengan laut lepas. Perjalanan yang lumayan bikin ngos-ngosan dan sport jantung karena di tengah perjalanan bertemu dengan ular yang hampir membuat salah satu peserta jalan-jalan melupakan niatnya untuk melihat laguna. Fiuhh. (naskah: Juli Kristina/foto: Dyah Wahyu Winarti/bersambung/hpy)