Tantangan Bermotor Menuju Sebujit

Kampung Sebujit dan Balug
Kampung Sebujit dan Balug yang menjulang

Mendapatkan sesuatu yang sepadan selalu butuh perjuangan. Begitu pula saat saya ingin bersikeras mengunjungi Sebujit. Ah mana pula itu? Sebujit merupakan ibu kota Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat.

Nama Sebujit, sebuah desa wisata, berasal dari nama Sungai Jit yang mengalir di lembah, di Sebujit atas. Demi Sebujit inilah, saya melalui perjalanan tak mudah bagai uji nyali. Bagaimana tidak?

Dengan motor, perjalanan saya melewati 209 kilometer dari Pontianak ke Bengkayang menuju Simpang Takek awalnya mulus-mulus saja. Tapi setelah melewati Simpang Takek, perjalanan sepanjang 18 kilometer seperti tantangan.

Sejak dari situ, jalanan beraspal hanya saya temui di beberapa kilometer. Sisanya jalanan terbentang penuh batu kerikil dan tanah merah. Tubuh saya yang letih setelah melalui ratusan kilometer, harus rela tergoncang hebat ke kiri dan ke kanan.

Perjalanan Menuju Lokasi
Jalanan bertanah merah

Beberapa kali roda sepeda motor tergelincir. Saran saya, berkonsentrasilah penuh dan fokus pada kondisi jalanan untuk keselamatan Anda saat mengendarai kendaraan roda dua. Memasuki perbatasan Desa Merendeng, jalan kampung sudah lumayan enak karena dicor. Tapi itu pun cukup dilewati satu motor saja.

Hati-hati. Sebab di ujung jalan terdapat jembatan gantung kayu. Motor yang saya naiki hampir terjun bebas ke jurang setinggi 20 meter. Itu karena keseimbangan terganggu akibat jembatan berayun ke kiri dan ke kanan. Rasanya jantung saya berdegup kencang hampir mau lepas. Hahahaha.

Perjuangan ternyata belum berakhir. Perjalanan berikutnya, saya harus melewati Tanah Kuning yang memiliki tanjakan dan turunan dengan kemiringan mencapai 60 derajat. Jalanan yang berbukit ini membuat Anda harus ekstra hati hati.

Sebab di kiri dan kanan terdapat jurang sedalam puluhan meter. Kalau terpeleset habislah sudah riwayat hidup Anda. Saya tidak membayangkan bagaimana harus melewati jalan ini saat hujan. Untung, saat itu tidak.

Saat hujan, bahaya terperosok ke dalam jurang atau longsor dari tepian bukit bisa jadi ancaman serius. Tapi tantangan bukan surut. Mendaki bukit, melewati lembah dan menyeberangi sungai kecil dengan jembatan kayu kecil membuat tulang leher, punggung, pinggang, dan tulang ekor serasa diuji.

Semua tubuh dipaksa membiasakan diri terhadap hentakan dan guncangan tiba-tiba. Cukup lama ini terjadi. Terhitung sejak berangkat pukul 13.00 dari Bengkayang, saya baru tiba di Sebujit sebelum Maghrib. Untung, saat kaki menjejak rumah tumpangan, hujan turun dengan derasnya hingga hampir tengah malam.

penulis dan teman teman
Di tengah kampung

Makanya saya tak henti-hetinya bersyukur karena tak menemui hujan di perjalanan. Sungguh, rute dari Simpang Takek ke Sebujit yang hanya berjarak 18 kilometer itu menjadi yang terberat dibandingkan 290 kilometer dari Bentayang ke Simpang takek. Bayangkan, butuh waktu 1,5 jam untuk jarak 18 kilometer.

Tapi ‘perjuangan’ itu terbayar saat memasuki Desa Sebujit, sebuah desa wisata atau kampung budaya yang kaya tradisi. Sebujit merupakan pengembangan dari Desa Sebujit atas dan tengah. Terdapat 115 KK yang mendiami Sebujit. Aktivitas sehari-hari penduduknya adalah berladang, meramu hasil hutan serta berburu.

Sarana dan prasarana di Sebujit cukup memadai seperti fasilitas pendidikan mulai SD hingga SMP dan Puskesmas Pembantu. Toko kelontong dan warung makan tersedia cukup banyak, yang menyatu dengan rumah penduduk dan Balug, rumah khas Sebujit.

Listrik ada meski masih menggunakan panel surya dan dialirkan terbatas pada pukul 6 sore hingga 6 pagi. Sebagai desa wisata, penduduk Sebujit terbilang ramah. Paling tidak, setiap saya berpapasan mereka selalu tersenyum dan menyapa.

Mungkin mereka sudah sadar jika desanya menggalakkan diri menjadi desa wisata andalan Bengkayang. Selain terdapat 15 homestay, ada banyak penduduk yang sangat terbuka menyediakan kamar di Balug-nya untuk dijadikan tempat tinggal.

hiruk pikuk menyambut tamu
Gawai Dayak Bidayuh, acara adat Sebujit

Pendirian homestay itu diprakarsai putra kampung -wakil rakyat di Bengkayang-, pada 2010. Dasarnya, banyaknya wisatawan datang ke Sebujit terutama saat menyaksikan ritual khas, salah satunya acara Gawai Dayak Bidayuh, yang membutuhkan tempat inap.

Fasilitas homestay itu cukup baik. Satu homestay bisa ditinggali 2-3 orang. Tersedia tempat tidur berukuran besar dan toilet. Cuma untuk mandi, pendatang hanya bisa melakukannya di rumah penduduk yang ditunjuk sebagai koordinator homestay.

Tapi jika ingin mencoba mandi di sungai, itu asyik juga lho. Kita bisa berjalan sekitar 200 meter menuju sungai dengan air jernih dan sejuk yang mengalir cukup deras. Saya sarankan untuk mencoba kesegaran dan sensasi mandi di sungai meski mandi di kamar mandi juga bisa.

Dan, jangan kuatir kelaparan. Makan telah disediakan 3 kali sehari atau sesuai permintaan tamu. Penduduk yang kebanyakan non muslim, malah telah menyediakan makanan halal untuk tamu muslim. Aman.

Baju adat pria sebujit
Pria Sebujit dalam pakaian adat

Dengan alamnya yang asri, penduduk yang ramah serta tradisi dan budaya yang terjaga, Sebujit memang layak untuk dikunjungi. Seperti saya, perjalanan dari Pontianak yang berat jadi tak lagi terasa berat.

Sebenarnya ada banyak alternatif menuju Sebujit dari luar Pontianak. Saat tiba di Bandara Supadio Pontianak misalnya, kita bisa mengambil taksi untuk diantar ke terminal bus antar Kota Batu Layang.

Di sini, cari bus jurusan Batu Layang-Bengkayang dengan durasi perjalanan sekitar 3-4 jam. Atau kalau mau gunakan travel yang dipesan dulu. Ambil rute Bandara Supadio menuju Bengkayang.

Istri dan anak kepala adat
Wanita Sebujit

Selanjutnya gunakan bus jurusan Bengkayang ke Seluas. Bus ini mudah ditemui di Terminal Bus Pasar Bengkayang dengan durasi perjalanan kurang lebih dua jam.

Setibanya di Seluas kita sambung lagi dengan kapal motor menuju Desa Sebujit kurang lebih 1-2 jam perjalanan tergantung arus sungai. Sayang kendaraan roda empat masih belum bisa menembus Desa Sebujit dari sini.

Pilihan terbaiknya ya menggunakan kendaraan roda dua seperti saya. Memang riskonya jalan yang dilewati masih berupa jalan penuh batu kerikil dan tanah merah yang sangat sulit dilewati jika hujan. Tapi untuk sebuah perjalanan tak terlupakan, Anda pasti tak akan melewatkannya bukan?

Estimasi biaya menuju Sebujit:

  1. Pontianak-Bengkayang (menggunakan bus) Rp 50 ribu
  2. Pontianak-Bengkayang (menggunakan travel) Rp 110 ribu
  3. Bengkayang-Seluas (menggunakan bus) Rp 30 ribu
  4. Seluas-Sebujit (menggunakan longboat) Rp 35 ribu
  5. Seluas-Sebujit (menggunakan ojek roda dua) Rp 100 ribu
  6. Homestay per hari Rp 150 ribu

Info praktis:

  1. Kendaraan umum biasanya beroperasi dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Bus terakhir pukul 2 siang. Tiket bisa langsung dibeli saat akan naik.
  2. Beberapa keperluan pribadi wajib di antaranya peralatan mandi, lotion/semprotan anti nyamuk, dan senter.
  3. Jika ingin melakukan trekking, pastikan membawa pakaian dan sepatu memadai.
  4. Bawa uang tunai secukupnya karena tidak ada ATM.
  5. CP pemandu/homestay di Sebujit; Waliman 085750612122. (naskah dan foto: Dony Prayudi/Heti Palestina Yunani)