Tanpa Sinyal, Tanpa Listrik, Tanpa Air di Acoma Pueblo

Acoma Pueblo, Desa di Atas Langit (1)

“Tidak ada rahasia di atas sini. Semua orang tahu apa yang kamu lakukan”, Kata guide kepada grup rombongan saya yang berjumlah sekitar 24 orang.”

Tidak heran jikalau hal itu benar benar terjadi di Acoma Pueblo, sebuah desa peninggalan dahulu kala yang hingga kini masih dihuni oleh suku Indian Pueblo. Beberapa ibu dengan kain khas panjang mereka menutupi badan dari dinginnya cuaca sembari mengobrol santai sambil memantau anak anaknya. Nampak Anak anak bermain selayaknya usia mereka. Memegang tanah, berkejar kejaran, tertawa dan membuat keributan sendiri.

Yang tinggal di Amerika Serikat tentu tahu hal ini bukanlah pemandangan umum yang dapat dijumpai. Tidak ada satupun yang memegang handphone, karena tidak ada sinyal telepon di Acoma Pueblo. Jangankan itu, Acoma Pueblo bahkan tidak dialiri listrik maupun air. Terletak di sebuah dataran tinggi yang rata dan terbuat dari batu (disebut juga Mesa yang berarti meja dalam bahasa spanyol), Acoma Pueblo berada di New Mexico, USA dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

acoma-1Acoma Pueblo telah lama didiami oleh suku Indian Pueblo bahkan sebelum tahun masehi. Tidak heran jikalau Acoma Pueblo menjadi salah satu desa tertua di Amerika yang masih dihuni masyarakatnya. Suku Pueblo adalah Suku Indian yang sehari harinya bertani dan berburu. Hidup mereka yang tenang tiba tiba terusik ketika pada tahun 1540 bangsa spanyol yang mencari emas datang ke Acoma Pueblo.

Sayangnya mereka tidak menemukan segengam emas pun. Bangsa spanyol yang melihat suku Pueblo menganut kepercayaannya sendiri pun berniat mengubah keyakinan mereka menjadi agama kristen. Hal ini ditolak oleh suku Pueblo sehingga terjadilah perang selama beberapa hari yang berakhir dengan kekalahan di pihak suku Pueblo. Sebagai akibatnya, Acoma Pueblo luluh lantak dan banyak Suku Pueblo yang terbunuh.

Suku Pueblo yang hidup pun terpaksa harus rela dibaptis sebagai Kristiani dan meyesuaikan hidupnya dalam kekuasaan bangsa Spanyol. Hingga sekarang di desa ini masih berdiri tegap sebuah gereja bernama San Esteban del Rey Mission. Saya penasaran bagaimana mungkin mereka masih mau berkunjung ke gereja yang notabane merupakan simbol kekalahan dan bukti pengaruh bangsa spanyol di desa ini. Sang guide berkata bahwa Suku Pueblo adalah suku yang cinta damai.

“Seberapa pun pahitnya itu, kami tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah belajar dari masa lalu.” Saya terkagum dengan jawabannya yang benar benar menjalankan konsep ‘Let it go’.

Khusus di gereja tersebut, peserta tur dilarang untuk memotret. Di dalam gereja, para peserta tur dapat menonton langsung tarian khas suku Pueblo. Para penari yang merupakan wanita dan pria dewasa mengenakan pakaian tradisional mereka yang berwarna warni. Meraka juga menggambar wajah mereka dan mendandani kepalanya dengan aneka bulu burung.

Di tangannya mereka memegang semacam alat musik yang digoyang goyang serta tangan yang lainnya memegang tumbuh tumbuhan. Setelah tarian tersebut selesai, para penari berjalan keluar dan kembali ke rumah masing masing. Kami pun lanjut mengikuti sang guide yang  lanjut menceritakan bahwasanya di Acoma Pueblo, terdapat kurang lebih 14 klan dari berbagai suku yang tinggal bersama.

Uniknya, seluruh rumah dan properti adalah milik perempuan. Bagi mereka perempuan telah menjalankan banyak tanggung jawab dari mulai mengurus rumah, membesarkan anak serta menjaga orang tua mereka ketika para lelaki pergi bertani dan berburu. Oleh sebab itu, mereka layak dikarunai rumah beserta isinya. Dan nantinya ketika mereka telah menikah, pasangan mereka pun akan tinggal di rumah keluarga perempuan. (naskah dan foto: Lenny/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)