Tanpa Kabut, Kaldera Sokoria dan Kelido Makin Cantik

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (17)

17-Perempuan MoniDi Gunung Kelimutu, saya singgah di desa terdekat yang banyak menyediakan akomodasi menjadi tujuan bermalam saat itu, Desa Moni. Sebelum menuju desa tersebut, terbukti ucapan para supir travel kalau saya akan menemui longsoran terpanjang dan terbesar yang mencapai hampir 2 kilometer panjangnya.

Beruntung saya melalui daerah tersebut pada hari Minggu, saat para pekerja sedang libur untuk memperbaiki jalan dan jalur masih bisa dilalui. Syukur juga karena saat saya tiba sore hari di Desa Moni, saya telah mendapatkan penginapan yang sesuai. Sudah tiga hari Kelimutu berselimut kabut setiap pagi. Tetapi informasi itu tidak menyurutkan niat saya untuk menunggu matahari terbit yang perlahan akan menyinari ketiga danau.

17-Matahari dan langit dari KelimutuMalam saya isi dengan bincang-bincang hangat bersama turis lain, lalu beristirahat untuk mempersiapkan energi mendaki dan mental untuk menerima cuaca jika memang berkabut. Pukul 04.30 saya sudah bersiap dan melaju untuk bersiap menunggu matahari terbit. Gunung Kelimutu merupakan gunung wisata seperti Tangkuban Perahu yang memiliki akses mudah untuk mencapai puncak dan fasilitas yang sangat memadai.

Setelah membayar tiket sebesar Rp 15 ribu termasuk biaya parkir, saya melanjutkan langkah menuju spot untuk melihat matahari terbit. Hingga pukul 05.30 langit masih gelap, para pengunjung masih menanti hadirnya sang mentari. Langit mulai terbuka, semburat mulai terlihat. Warna pagi pun mulai bertransisi dari langit gelap malam menjadi lautan awan yang dibuka oleh celah sinar matahari.

Bumi terus berputar dan langit pun perlahan terus berubah di sepanjang horizon mata memandang. Ah akhirnya dugaan tentang datangnya kabut terelakkan. Semesta alam justru memberikan pemandangan terbaik bagi saya dan pengunjung lainnya di sana. Kaldera Sokoria dan Kelido pun semakin cantik dengan sinaran dari matahari pagi beserta kabut tipis di bagian atasnya. Lokasi kaldera Kelibara yang terpunggungi oleh bukit yang saya pijak pun masih malu.

17-Separuh Pelangi Danau Goceng Sungguh bahagia tiada tara bisa melihat pemandangan indah seperti itu di Kelimutu. Saya ingat kawan saya yang pernah ke Kelimutu, tak seberuntung saya karena saat itu ia dihadiahi kabut. Begitu juga pengalaman apes para blogger yang pernah saya baca. Memang tidak ada ukuran waktu tepat kapan suatu daerah bisa memberika pemandangan alam terbaiknya. Itu terbukti di Kelimutu.

Mestinya saat itu cuaca menunjukkan sudah masuknya waktu musim panas. Tiga hari berturut-turut sebelumnya kondisi berkabut tetapi saat hari ke empat ternyata cuaca justru cerah ceria. Semesta memang tidak bisa diprediksi secara pasti, manusia hanya bisa berusaha untuk menggapai dan melihat keindahannya tetapi tidak sama sekali bisa memaksakan kondisi alam yang diinginkan akan terwujud.

17-Danau duit 'seceng', Kelimutu.jpgSaya pun puas, bahkan sangat puas saya bisa melihat pemandangan indah di Kelimutu. Ditambah saat akan pulang menuju parkiran ternyata saya diberi bonus pelangi seperempat lingkaran. Semesta sekadan tidak merugi memberikan keindahan itu pada saya. Kembali saya ucap syukur tak henti saat akan kembali ke penginapan. Terima kasih alam Kelimutu, ternyata Danau duit ‘seceng’ Goceng yang sering kusut di tangan anak kecil pada tahun 90-an memiliki kadar nilai keindahan yang jauh lebih besar dari uang seribuan.

Di Moni inilah, wilayah paling timur dari keseluruhan eksplorasi saya kali ini. Karena waktu sudah mendekati bulan puasa atau hampir masuk tanggal 1 Juni 2015, saya tidak mau banyak mengambil risiko. Saya sudah memasang target maksimal jika H-3 saya harus sudah berada di Jawa Timur. Sailing trip ke Pulau Komodo menjadi target destinasi secepatnya setelah Kelimutu. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)