Tanpa Guide Ber-trek Ringan ke Lembah Baliem

lembah baliem (4) Akhirnya mimpi untuk mengunjungi Papua tercapai. Lembah Baliem yang selama ini mitosnya begitu indah dan magis bisa saya kunjungi dan lihat dengan mata kepala sendiri. Selama trekking di Lembah Baliem ini saya juga cukup beruntung bisa diundang dan melihat perayaan lokal Pesta Honai Baru di Desa Hemsat.  Istimewanya, perayaan ini hanya dihadiri oleh saya dan 2 orang turis lain karena ini bukan event turis seperti Festival Lembah Baliem.

Di pesta ini saya dikelilingi oleh para tetua adat dari berbagai kampung yang datang dengan lembah baliem (3)menggunakan koteka, dan saya disambut dengan jampi-jampi “uauauauauaua” yang artinya selamat datang. Benar-benar rasanya seperti ada di episode “National Geographic.”¬†Trekking di Lembah Baliem juga bisa dikatakan murah bila dibanding trek di Nepal; per harinya kita hanya perlu membayar penginapan sebesar Rp 100 ribu yang sudah termasuk ubi dan daun ubi sepuasnya.lembah baliem (1)

Trekking di Lembah Baliem selatan ini mengingatkan saya pada trekking ala tea house di Nepal di mana kita trekking antar desa kemudian menginap di rumah di desa-desa tersebut. Bedanya di sini kita menginap di Honai serta makanannnya hanya ada ubi (bukan dhal bhat atau nasi kari). Trek di Lembah Baliem sendiri bervariasi rutenya bisa mulai dari trek ringan di Lembah Baliem selatan (Suku Dani) dengan durasi 3-5 hari hingga ke trek berat seperti trek ke distrik Yali (sekitar 6 hari sekali jalan).

Bahkan ada bule-bule gokil yang melakukan trek-trek super gila dan tidak manusiawi seperti trek ke daerah Sungai Mamberamo, Korowai bahkan hingga ke daerah Asmat (durasi mingguan hingga bulanan). Karena saya baru pertama kali dan saya sebelumnya tidak tahu medannya seperti apa, maka saya pun memilih trek ringan di Lembah Baliem selatan hingga ke Desa Hemsat. (naskah dan foto: Rio Indrawan/editor: Heti Palestina Yunani)