Tangisan Muhammad XII Meninggalkan Al Hambra

Selamat Tahun Baru Hijriah dari Andalusia (1)

Jika boleh berandai-andai, maka sejarah kegemilangan Andalusia di tangan Sa’ab bin Ubadah pasti akan dibilang bahwa itu tidak akan terjadi bila Allah SWT tidak menakdirkan, bila Allah SWT tidak memerintahkan Nabi SAW untuk hijrah ke Yatsrib dan mengislamkan penduduknya termasuk sang pemimpin Sa’ad bin Ubadah.

Adalah sunnatullah, ibarat grafik, ketika suatu kaum berada di puncak tertinggi peradaban, maka yang terjadi berikutnya adalah penurunan. Ketika itu terjadi, kata Alquran, maka tidak akan terelakkan, akan terjadi. Tidak bisa diundur atau dimajukan. Itulah yang menimpa peradaban Sumeria, Mesir, Romawi, di masa lalu.

Dan di era modern telah dialami empirium Turki Utsmany, negara komunis Soviet, dan mungkin di masa depan mungkin juga Amerika, RRC dan lain lain. Bagaimana dengan Indonesia? Karena Indonesia belum sampai di puncak peradaban, jadi menurut hemat saya, kita tenang saja, hehehe.

Nah, itu pula yang menimpa peradaban Islam di Al Hambra ini. Setelah dua ratus tahun lebih berjaya dan membangun peradaban yang paling gilang gemilang di Eropa, setelah dikepung 9 tahun oleh pasukan gabungan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, akhirnya peradaban Islam yang paling maju di zamannya akhirnya jatuh.

Penguasa terakhir Islam di Granada, Muhammad XII, dipaksa untuk menyerah dan diusir dari citadel (kota dalam benteng) Madinat Al Hamra di awal tahun 1492. Dari pintu gerbang yang terletak di menara tujuh pintu atau sekarang di sebut la Torre de los Siete Suelos, penguasa terakhir dinasti muslim Nasriyah ini terpaksa keluar dari citadel Al Hambra untuk selama lamanya.

Seperti dalam foto, di gerbang inilah Muhammad XII terakhir kali harus keluar meninggalkan Alhambra. Itu berarti juga terusirnya Islam untuk ratusan tahun di Andalusia. Dari atas bukit Albayzin, suatu bukit di seberang bukit tempat Alhambra berdiri, terjadi lah suatu adegan yang sangat dikenang dalam sejarah, yang disebut sebagai adegan “tangisan terakhir sang Moor” (el último suspiro del Moro).

Saat itu Sultan Abu Abdillah Muhammad XII untuk terakhir kali menoleh ke arah Alhambra dan melihat kota yang kemerahan itu untuk terakhir kalinya sambil menangis. Suasana haru itu diikuti ibunya yang mengatakan perkataan yang dikenang selamanya dalam sejarah: “Hari ini kamu menangisi seperti tangisan perempuan atas kerajaan yang tak bisa kau jaga seperti laki-laki.”

Alhamdulillah, setelah ratusan tahun Islam jadi agama terlarang di Spanyol sejak peristiwa tersebut, kini komunitas minoritas muslim mulai berkembang lagi di Granada meskipun hanya 4 persen dari seluruh populasi Spanyol. Sebagian di antaranya adalah imigran dari Maroko dan Arab. Sebagian lagi adalah mualaf Spanyol sendiri yang mencari arti kehidupan dan menemukannya dalam nilai nilai Islam.

Yang saya sebut terakhir ini kata teman saya (seorang muslim Spanyol bule) itu berarti ia harus berhijrah dan siap tercerabut dari budaya asal, bahkan keluarga dan penghidupannya. Selamat tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1439 Hijriah, hello para traveler. (naskah dan foto: M Atoillah Isvandiari/editor: Heti Palestina Yunani)