Tak Abaikan Praha, Diganjar Kutna Hora

kutna horaSulit mencoret Praha jika Anda ke Ceko. Tak cuma saya, tapi konon Hitler pun begitu. Berkat kecantikan Praha, di masa Perang Dunia II, Hitler yang jatuh cinta pada Praha, sampai tak tega menghancurkannya.

Tapi saya berani kan untuk move on dari ibukota Ceko yang didengungkan sebagai kota medieval tercantik di dunia itu demi kota lain, Kutna Hora. Toh tempatnya tak jauh dari Praha alias hanya 60 menit berkereta.

Kapan pun Anda mau berangkat, go saja. Sebab kereta dijadwal ada setiap dua jam dari Stasiun Havlani Nadrazi. Biayanya murah, sekitar CK 100. Seperti Cesky Krumlov yang lebih dulu saya kunjungi, saya berani menjauh dari Praha ke kota ini atas referensi dari Unesco Heritage List-panduan para pengelana sejati-.

Awalnya saya hanya tertarik pada sebuah gereja di kota itu, Bone Church atau Ossuary, di Sedlec. Orang lokal menyebutnya Kotsnice. Untuk itulah saya berhenti di Stasiun Kutna Hora Havlani Nadrazi, bukan Kutna Hora Mesto (kota/central).

kutna hora (7)Tak sulit menemukan gereja ini asal Anda research dulu seperti saya. Makanya begitu keluar dari stasiun, saya tahu kalau harus berjalan ke arah kanan. Ikuti jalan raya tanpa henti. Di kiri kanan jalan, akan ditemui tanda Kotsnice. Itu berarti, Anda berjalan ke arah yang benar.

Bone Church letaknya berseberangan dengan Gereja Cathedral of Our Lady yang juga merupakan situs Unesco. Sayang saya kurang beruntung. Pagi itu saya tak bisa masuk Cathedral of Our Lady karena di hari Minggu, gereja sedang melaksanakan misa.

Tak kurang rencana, saya segera membawa langkah ke kanan. Terlihat ujung atap gereja dan tiang pancang Bone Church. Apalagi karena datang cukup awal saat belum tampak bus wisata maupun turis yang berebut foto, Bone Church seperti saya nikmati seorang.

Tak cukup dinikmati dari luar, saya masuk. Tiket ada yang dijual terpisah dan ada yang ditawarkan dalam harga paket. Pilih yang paket karena lebih murah. Begitu masuk ke gereja yang tidak terlalu besar itu, takjub pun tak henti.

kutna hora (3)Ornamennya sangat khas. Bone Church digarap serius dari tulang belulang manusia mulaicoats of arms, chandelier, hingga hiasan dinding dan hiasan altarnya. Agar pelancong makin mengerti historisnya, pihak gereja memberikan panduan tentang cerita asal muasal penggunaan tulang belulang manusia itu dalam berbagai bahasa.

Jelas tak ada pilihan Bahasa Indonesia, sehingga pilihlah dalam Bahasa Inggris. Seperti banyak gereja di Eropa yang selalu berdampingan dengan pemakanan, begitu pula Bone Church. Dari keterangan, pada tahun 1318, terjadi wabah besar di Eropa, termasuk di Kutna Hora.

Wabah ini menimbulkan korban puluhan ribu. Musibah itu juga termasuk perang di abad 15. Terhitung 40 ribu jasad manusia harus dikuburkan di area gereja. Tapi tentu saja, jumlah itu tak mungkin ditampung.

Baru pada1870, Frantisek Rint of Ceska berinisiatif menjadikan tulang belulang manusia itu menjadi Schawanzenberg coat of arm dan chandelier. Di awal Februari 2016, pemerintah setempat mengambil chandelier yang diletakkan di tengah ruangan untuk direstorasi. Tanpa itu, kecantikan gereja tak berkurang.

kutna hora (6)Setelah mengagumi Bone Church, saya beralih ke Church of Santa Barbara. Mumpung hari masih menjelang siang. Dari Bone Church, Santa Barbara bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama 30 menit ke arah pusat Kota Kutna Hora yang berjarak 2 km.

kutna hora (2)Sempat dilema, apakah kembali ke stasiun lalu naik bus ke kota, menggunakan shuttle dari depan Bone Church, ataukah berjalan kaki? Membayangkan murah dan asyiknya, saya pilih yang terakhir. Pilihan ini sempat saya sesali, karena Church of Santa Barbara ternyata jauh.

Apalagi di kilometer pertama, saya kurang suka dengan pemandangan perumahan penduduk di area pinggiran Kutna Hora. Ditambah hari itu cukup terik di cuaca musim semi, derita saya sebagai pejalan kaki lengkaplah sudah.

Tapi usai melewati kilometer pertama, -saat memasuki area tengah kota-, penyesalan itu terobati. Ada banyak bangunan cantik seperti Gereja Santo James dan Stone Fountain. Dua objek itu adalah sebagian bangunan yang berfungsi sebagai penampungan air di abad 15.

Hingga memasuki area Jesuit Collage, di sebuah jalan menanjak, saya mulai terkagum pada Kutna Hora. Ada patung-patung cantik menghadap lembah yang mengelilinginya. Kekaguman saya makin bertambah saat sampai di Gereja Santa Barbara.

kutna hora (4)Gereja dengan arsitektur gotik itu sebenarnya seperti kebanyakan gereja lain, di mana di dalamnya berbentuk salib, dengan ukiran dan pilar berlapis. Tapi di belakang gereja, ada taman dengan hamparan rumput hijau.

O, itu sungguh tempat sempurna untuk melepas lelah. Saya nikmati taman bak putri kerajaan, sambil mengagumi cantiknya gereja yang konon membutuhkan 500 tahun untuk membangunnya. Saking nyamannya, saya bertahan hingga menjelang sore di situ.

Kalau tak ingat harus kembali ke Praha, mungkin saya bisa bertahan lebih lama di situ. Untung Stasiun Kutna Hora Mesto bisa dijangkau 15 menit saja dari Gereja Santa Barbara. Jadi keputusan pergi dari sana saya ambil di menit-menit terakhir.

kutna hora (1)Usai membeli tiket kereta, serta kopi di vending machine, saya amati Stasiun Kutna Hora. Meski sangat kecil, stasiun ini sangat rapi dan bersih. Saya sempat membandingkannya dengan Stasiun Komuter Cikini yang lebih besar dan jauh lebih hiruk pikuk.

Sebelum good bye, saya berpikit tentang dua tips bagi Anda, calon pelancong Kutna Hora. Pertama, gunakan sarana alternatif bus karena sering kali menawarkan harga lebih murah. Kedua, jangan beli tiket PP. Sebab Anda harus menggunakannya sesuai jam tertera.

Padahal rugi jika Anda tiba-tiba harus berganti rencana kapan harus meninggalkan Kutna Hora. Rasanya, berganti rencana pasti terjadi karena Kutna Hora seperti bisa menahan lebih lama siapa saja yang singgah ke sana. Seperti saya, mengunjungi Kutna Hora rasanya jadi ganjaran sepadan saat Anda abaikan Praha deminya.(naskah dan foto: Wike Trisnandhini/Heti Palestina Yunani)