Tablanasu, Pintu Pertama Menuju ‘Rasa Memabukkan’

papua 1
Sudut Kota Jayapura

Merunut Jejak Elang Timur di Papua (1)

Inilah salah satu bagian elok bumi timur Indonesia yang sering membuatku sejenak mengendap oleh gunungan rindu untuk kembali bisa mendatanginya. Ya, apalagi kalau bukan Papua, sang mutiara hitam yang begitu magis memilin ikatan dan memikat perasaan!

Maka meski harus terbang malam, aku sangat antuasias demi Papua. Tepat pukul 23.00 WIB, dari Bandara Soekarno Hatta, si elang besi membawaku terbang ke bagian timur bumi Indonesia. Wajar, Papua bagiku adalah menjadi energi utama untuk semua karyaku selama ini.

papua 1mesjid di jayapura
Sebuah masjid di Jayapura

Setiap menyebut namanya, ada getaran rasa yang tak bisa kutahan gelombangnya membuncah dahsyat, begitu magis kuat menyihir segala cerca pikir. Rasanya aku datang sebagai Padma Kejora, tokoh wanita yang pernah melukai tanpa sengaja dua lelaki kembar non identik, Elang Laut, si penyair nomaden dan Elang Timur, si ilmuwan sejati.

Mereka tiga sosok kuat dalam novel Elang yang ber-setting di Bumi Rinjani (Lombok) dan Bumi Cendrawasih (Papua). Maka jika tulisan ini kubuat dalam enam seri, sengaja kusajikan mirip dalam bentuk cerita layaknya aku menulis novel-novelku. Semua ini demi elangku, Elang Timur.

Perjalanan yang melenakan selama 6 jam lebih 10 menit itu bagiku tak panjang. Si elang besi hanya membuatku terbangun saat ia mendaratkan cakar-cakarnya di landasan Bandara Sentani. Jarum di jam tanganku menunjukkan angka 5.10 WIB, sementara jam di bandara jarumnya berhenti di angka 7.10 WIT. Ah baru ingat jika ada beda waktu 2 jam antara Indonesia bagian barat dan timur.

Begitu menginjak Jayapura, udara yang kihirup terasa berbeda meski masih berada di Indonesia. Udara bumi mutiara hitam itu begitu segar begitu saat kaki ini melangkah keluar ke pintu kedatangan usai satu koper kuambil dari bagasi.

Di sana, Timur telah menunggu di pagar pembatas pintu. Ialah orang yang mengundangku untuk berkeliling Papua, utamanya ke beberapa pantai pilihan. Saat itu, aku terasa benar-benar masuk ke dalam bab-bab di novel Elang, karena tanah yang kupijak adalah tanah Elang Timur yang kini telah bersamaku, nyata kudatangi karena sebuah janji.

Meski sebenarnya aku ingin ke Kota Agats, sesuai setting di novel Elang. Agats adalah sebuah kota di atas rawa, kota di atas papan, hunian Suku Asmat. Namun waktu dan kondisi belum memungkinkanku ke sana. Tapi kata Timur, pantai-panti elok di seputar Jayapura dijamin kan membuatku senang. Kata Timur ada Pantai  Holtekam, Sentani, dll yang bisa kulihat nanti.

papua 1pantai holtekam
Pantai Holtekamp

Sejak itu, terbayang kedua mata penat ini terguyur kesejukan sepoi anginnya, ketenangan arus airnya, dan tentu hutan-hutan penuh pohon tropis yang begitu rindang ‘memabukkan rasa’. Rencanaku, bumi Papua dengan sekian banyak gunung dan pantai, laut yang beriringan, bakal mengiring perjalananku menjelajah Jayapura selama lima hari.

Dan memang bumi yang sangat luas penuh hamparan laut dan rindangnya hutan tropis itu sajalah yang kutemui. Hanya itu yang terbentang sepanjang laju mobil Land Rover hitam yang membawaku masuk ke Papua lewat Tablanusu yang ditempuh sekitar 2-3 jam dari Jayapura.

Tablanusu terletak sekitar 87 km sebelah barat Kota Jayapura. Pantai ini memiliki pesona berbeda yang tidak dimiliki pantai-pantai lain di Jayapura. Pantai Tablanusu masuk dalam wilayah Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, terletak di dalam kawasan Kampung Wisata Tablanusu. Luasnya sekitar 230,5 hektar dan dihuni sekitar 500 kepala keluarga (KK).

Meskipun kampung ini kecil, namun terdapat sepuluh suku yang menempatinya, yaitu Suku Sumile, Danya, Suwae, Apaserai, Serantow, Wambena, Semisu, Selli, Yufuwai, dan Yakurimlen. Laju mobil yang kencang, kadang harus pelan melewati jalanan aspal, jalan berbatu, genangan air yang katanya banyak ularnya, serta menunggu dengan sabar keluarga besar babi yang sedang menyeberang jalan.

“Hati-hati jika ada babi lewat.”

“Kenapa?” tanyaku pada Timur.

“Menabrak satu ekor ganti rugi 50 juta!”, sahutnya santai sambil memperlambat laju mobil.

“Haah? Rp 50 juta?”

“Ya!”

“Gila!”

“Begitulah di sini!”

Tak lama kemudian aku melihat ada tiga tanki besar berkarat di sepanjang jalan.

papua 1 pemandangan dr mac arthur
Pemandangan dari Mac Arthur

“Eh! Itu tanki apa?”

“Itu tanki peninggalan Perang Dunia II! Tanki-tanki raksasa itu adalah tempat penyimpanan bahan bakar untuk kapal dan tanki Sang Jenderal!”

“Jenderal Mac Arthur?”

“Ya! “Tablanusu adalah desa tempat koloni yang dipimpin oleh Jenderal Douglas Mac Arthur saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Irian Jaya!”

Timur mengemudikan mobil dengan cekatan saat melewati tanjakan ekstrem hingga kami tiba di sebuah puncak bukit. Pemandangannya begitu indah. Dari atasnya, terlihat teluk besar yang dulu kala menjadi tempat kapal-kapal raksasa bersandar. Dan tampaklah bibir pantai di Desa Tablanusu, pintu pertamaku menginjak Papua.

“O Papua, ini aku.”

papua 1 pasar seni hamadi
Pasar seni Hamadi

Sungguh berada di tanah Papua, rasanya seperti di alam mimpi. Sejauh pemandangan terasa hanya hutan hijau dan lebat. Gunung Cyloop membentang dengan sungai-sungainya. Semua masih asri dan sejuk. Di sepanjang jalan menuju Desa Tablanasu, banyak daerah permukiman, termasuk permukiman penduduk yang mengikuti program transmigrasi di zaman dulu.

Mereka bukan lagi seperti pendatang karena sudah tinggal lama menetap di Papua. Di sepanjang jalan kutemui beberapa orang penjual buah-buahan dari hasil kebun sendiri. Ada mangga, nangka, dan nanas saat itu. Sayang buah matoa (Pometia pinnata), buah khas Papua. tidak tampak.

Padahal aku ingin sekali membeli langsung pada mereka. Kubayangkan, buahnya kenyal nan manis. Rasanya lezat seolah memadukan rasa buah rambutan, durian, kelengkeng, dan leci. Kata Timur, kebetulan sedang tidak musim matoa di Tablanasu. “Nanti puaskan belanja di pasar seni Hamadi,” ujar Timur seolah tahu aku sudah ingin belanja.

Dari cerita Timur, masyarakat di Tablanusu sudah berpindah tempat dua kali sebelum akhirnya pindah dan menetap. Tempat mereka dahulu disebut Kampung Tua. Di lokasi Desa Tablanusu yang sekarang, banyak pohon mangga selain pohon kelapa. Hampir pasti, di setiap rumah penduduk ada pohon mangga.

Saat roda mobil memasuki desa, kagumku pada Tablanusu kian terasa. Meski nun jauh di pelosok timur Indonesia, Tablanusu adalah desa pantai terelok yang pernah aku temui dan kunjungi. Tak sia-sia tadi melewati jalanan berkelok, naik turun membelah bukit dan lembah, dengan kanan kiri hutan tropis yang berselingan dengan pantai, laut, serta danau. (naskah dan foto/Kirana Kejora/Heti Palestina Yunani/bersambung)