Sunset Indah di Langit Miri

Mari Kemari Singgah ke Miri (5)

jogging-track-di-pantai Jalan-jalan menelusuri Miri, kota terbesar ke dua di Sarawak, makin asyik saja. Setelah melihat tradisi Makan Tahun dan Begendang dalam Suku Kedayan di Pintas Tiris Bekenu, hari berikutnya, saya sempat berkeliling kota.meja-dan-bangku-di-pantai-piasau-nature-reserve

Saya menemui sebuah taman di sebuah pantai, Piasau Nature Reserve. Di sini tersedia tempat bermain anak-anak. Di antara hutan pinus terdapat meja dan bangku untuk menikmati suasana pantai.

Tempat ini sungguh nyaman untuk bersantai setelah lelah bekerja. Pagi hari dijadikan kantin, siang dan malam dijadikan restoran untuk menikmati makanan. Dari beberapa keluarga dan pengunjung yang datang, rata-rata adalah ekspatriat yang bekerja di perusahaan minyak.

Puas di sini saya bergerak untuk menikmati kudapan sedap di sebuah kedai kopi. Ada cucur bumbu atau seisbut juga pasembur. Dalam bahasa Melayu Malaysia, cucur adalah gorengan. Cucur termasuk pisang goreng, cucur udang (bakwan), cucur jagung (bakwan jagung), cucur bawang (bakwan dengan daun kucai), sampai ubi jalar goreng dan tahu goreng.

hutan-pinus-piasau-nature-reserveDi kedai itu saya melihat panganan lain yaitu potongan jambu dan bengkuang dan nanas disiram kuah gula merah yang sudah dibumbui dengan asam dan cabe baru kemudian ditaburi kacang tumbuk. Kalau tak salah, saya pernah makan makanan itu, namun versinya sedikit berbeda dengan nama Rojak India.

Apapun, yang penting dua makanan itu rasanya lezat dan segar untuk saya nikmati di siang hari. Minumnya tidak kalah menggoda yaitu ABC atau Ais Batu Campur. Mirip dengan es teler versi Indonesia dengan ditambahkan es serut. Sedikit yang membedakannya dari tambahan jagung kaleng dengan krim kental.

Disiram dengan susu coklat kental manis dan sirup frambozen, ABC nikmat. Di dalamnya ada kacang hijau, kacang merah, mutiara, cendol dan potongan cincau hitam. Jadinya mirip es teler Indonesia. Es ini sangat popular di dataran Malaysia. Semuanya makin cocok dinikmati di siang hari itu.

bukit-canadaSetelah puas makan-makan tak terasa hari beranjak sore. Saya coba bandingkan perbedaan waktu di Malaysia dan Indonesia Bagian Barat yang satu jam lebih awal. Jadi jika di Jakarta pukul 4 sore maka saya di Miri waktu itu sudah pukul 5 sore. Bersama Paul Victor, guide saya di Miri, saya beranjak ke lokasi lain.

Kali ini saya ingin melihat Miri dari ketinggian. Paul mengajak saja menuju Canada Hill, sebuah bukit. Jalan menuju ke atas dibuat berliku dan berkelok supaya memudahkan kendaraan untuk naik. Selama menuju ke puncak bukit saya menemukan banyak sekali orang lalu lalang berolahraga, ada yang sekadar jalan santai dan berlari sampai menaiki sepeda.

grand-old-ladyDi beberapa titik terdapat perhentian untuk beristirahat dan meletakkan kendaraan roda empat. Sampai di puncak udaranya cukup segar. Sayang sekali saya terlalu sore untuk datang ke Museum Grand Old Lady. Museum itu merupakan salah satu monumen bersejarah karena di sinilah pertama kali tambang minyak ditemukan.

Museum ini mengingatkan posisi Kota Miri sebagai kota minyak dan gas. Lokasi museum dulunya pertambangan yang mulai digali sejak 1 Desember 1910. Pertambangan inilah yang membuat perkembangan yang sungguh pesat. Miri yang awalnya hanya kampung nelayan berubah menjadi kota modern akibat hasil minyak buminya. Sayang saat ini produksi minyaknya sudah habis setelah 62 tahun diolah.

matahari-terbenam-di-pantai-dekat-pelaksanaan-borneo-jazzSaya menuju ke sudut lain dari bukit ini. Terlihat hamparan kota dan bibir pantai. Panorama kota bisa terlihat nyata. Beberapa orang terlihat duduk santai dibeberapa bangku taman yang langsung menghadap ke bibir bukit berpagar. Saya membayangkan datang ke sini malam hari dan melihat kerlap kerlip lampu kota. Nuansa yang syahdu pasti tercipta.

Hari hampir sore. Saya menyudahi melihat dari puncak bukit Canada yang sejuk. Sebelum perjalanan saya berakhir di hotel, saya melihat cuaca bersahabat. Dalam kondisi begitu, sunset terlihat sangat indah. Benar juga saya mendapati matahari yang tenggelam membuat langit Miri begitu indah. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)