Sultan Siak Terakhir itu Penggila Beethoven

siak-sultan-3Pesona Cagar Budaya Siak dari Istana Asserayah Hasyimiah (3)

Membicarakan Istana Siak Sri Indrapura sebenarnya mengenang lagi pada sosok Sultan Syarif Kasim II. Ia lah sultan yang mengakhiri Kesultanan Siak Sri Indrapura. Tepatnya sejak ia menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Saat itu, Sultan Syarif Kasim II ikut mengibarkan bendera Merah Putih di depan Istana Siak. Ia lalu pergi ke Jakarta untuk menemui Presiden Soekarno dan menyatakan ikrarnya kepada NKRI sembari menyerahkan mahkota kerajaannya.

Atas nasionalismenya inilah, Sultan Syarif Kasim II diangkat menjadi Pahlawan Nasional dan Riau atas kegigihannya melawan penjajah Belanda. Statusnya disahkan BJ Habibie pada 1998. Saat memasuki ke dalam Istana Siak itulah, kenangan akan sang sultan akan lekat.

siak-sultan-2Di dalam istana, kita seperti diajak nostalgia akan sejarah sultan. Saya mejumpai foto-foto Sultan Syarif Kasim II cukup banyak terpajang. Ada ia dengan sang permaisuri, dan juga sebuah foto yang dilukis, saat sultan besama Proklamator RI Soekarno.

Mungkin tak banyak tahu bahwa Sultan Kasim II ini begitu cinta tanah air ini dan getol melawan penjajah Belanda. Sebagai tanda, ia menyerahkan 13 juta Gulden kepada pemerintah Indonesia atau setara 1,074 triliun rupiah di zamannya kepada Soekarno.

Itulah tanda mahar sultan untuk bergabung dengan Indonesia. Selain uang dan mahkota, untuk menyatakan kesetiaan pada Republik Indonesia, sultan juga menyerahkan pedang dan harta lainnya kepada Soekarno. Dengan posisi itu, Siak jadi kerajaan ke dua yang memastikan bergabung dengan Indonesia setelah Yogyakarta.

siak-sultan-4Atas perannya inilah, Sultan Syarif Kasim II yang diangkat sebagai penasihat pribadi Soekarno itu dinilah sangat berjasa bagi Indonesia. Saya ingin sedikit bercerita tentang sosok sultan dari cerita juru kunci yang saya dapat saat berkunjung ke istana kesultanan terbesar di Riau.

Sultan Syarif Kasim II yang lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 adalah Sultan Siak Sri Indrapura ke-12. Dia menggantikan ayahnya, Sultan Assyaidin Hasyim I Abdul Jalil Syaifuddin yang wafat pada 1908. Namun, dia baru dinobatkan menjadi sultan pada 13 Maret 1915.

siak-sultan-1Sebagai sultan, ia bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin. Dia berkuasa di kesultanan yang didirikan oleh Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah pada 1723 itu, hingga 1946.

Sejak dinobatkan sebagai sultan, dia menegaskan sikap bahwa Kerajaan Siak adalah kerajaan yang berkedudukan sejajar dengan Belanda. Hal ini tidak seperti isi kontrak perjanjian antara Kesultanan Siak dengan Belanda yang menyatakan bahwa Siak adalah milik Kerajaan Belanda yang dipinjamkan kepada sultan.

Demi mencerdaskan rakyatnya, Sultan Syarif Kasim II menyelenggarakan program pendidikan dengan mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) di samping sekolah berbahasa melayu yang diperuntukkan bagi semua lapisan penduduk.

Untuk mempermudah transportasi bagi para siswa, dia membuat perahu penyeberangan gratis. Bahkan, bagi para siswa yang berbakat diberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke luar daerah seperti Medan, Padang, dan Batavia.

Dia juga mendirikan sekolah agama khusus laki-laki dengan nama Taufiqiah Al-Hasyimah. Tak tanggung-tanggung, tenaga pengajar didatangkan dari Padang dan Mesir. Selama memimpin, sultan yang namanya diabadikan menjadi Bandara Sultan Syarif Kasim II International Airport di Pekanbaru itu sangat menentang dan menolak kebijakan Belanda yang mewajibkan rakyat bekerja rodi.

siak-sultan-7Penentangan ini oleh pihak Belanda dianggap sebagai penolakan pribadi sultan. Belanda tak bisa terima. Sultan Syarif Kasim II dianggap memberontak. Untuk menumpas pemberontakan itu, Belanda melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah penduduk.

Bahkan, Belanda mendatangkan bala bantuan di bawah pimpinan Letnan Leitser yang telah berpengalaman dalam Perang Aceh. Namun, usaha Leitser untuk menumpas pemberontakan tersebut gagal. Bahkan, Leitser tewas bunuh diri pada 1932.

Satu hal yang menarik tentang jejak sultan di istana yang juga bernama Asserayah Hasyimiah itu adalah sebuah gramafon tua. Inilah sentuhan modern yang tak lepas dari pengaruh sang ayah Sultan Siak XI kepada Sultan Syarif Kasim II.

Gramafon buatan Jerman atau lebih dikenal komet itu adalah kesayangan Sultan Syarif. Komet itu konon hanya ada dua di dunia. Dengan komet itu, Sultan Syarif mengenal dan tergila-gila dengan Beethoven, komponis musik klasik dunia itu. Kerap Sang Sultan menikmati sorenya dengan mendengarkan simponi ke lima dan sembilan milik Beethoven dari piringan hitam.

Ksiak-sultan-6onon kebiasaan itu berlangsung sampai akhir hayat sampai mangkatnya pada 1968. Sayang ia meninggal tanpa keturunan sehingga berakhir pula garis keturunan kesultanan Siak seolah meneguhkan takdirnya melebur dengan Indonesia.

“Makam Sultan Syarif Kasim II ada di dekat Masjid Sultan yaitu Masjid Syahabuddin. Bagi Siak, ia pahlawan. Ia lah pendukung kemerdekaan Indonesia yang membujuk raja-raja di Sumatera Timur bergabung dengan Indonesia. Kebesaran namanya membuat Siak juga besar,” kata juru kunci itu. (teks dan foto: Ferry Fansuri/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)