Soal Traveling Saya Harus Gila

Love, Art and Journey Membangun Padma (3)

Sebagai pegawai BUMN, jatah cuti saya sama dengan pegawai negeri lainnya: 12 hari kerja. Sementara hasrat jalan-jalan kadarnya jauh lebih besar daripada jatah cuti. Walhasil, sering menunggu Harpitnas (Hari Kecepit Nasional).  Kadang juga membolos, nitip absen hehe.

Pernah suatu hari, seorang teman yang berprofesi fotografer menantang saya untuk jelajah Lombok selama seminggu. Masalahnya bukan bisa cuti atau tidak, tapi saya sedang kena target pemasaran tinggi. Pusing? Jelas! Kesempatan keliling bersama fotografer kan langka. Tapi pekerjaan juga penting.

Sebenarnya sih manager tidak kasih izin, tapi saya berhasil menemukan cara yang ajaib. Saya membayar seorang OB untuk menjadi kurir, sementara di sisi client saya memasang 1 contact person yang bisa menjadi penghubung. Tentu saja dengan reward tertentu.

Hasilnya? Kerjaan lancar, jalan-jalan lancar. Efeknya? Pengeluaran meningkat karena membayar OB dan memberi reward pribadi ke client. Sering kena gertak sang fotografer, katanya liburan? Kok telepon berdering melulu hahaha!

Kemudian suatu hari seorang teman bertanya: Kamu kenapa tampak selalu gembira?  Karena saya suka traveling, jawab saya enteng. Teman itu bertanya lagi: Tabunganmu banyak ya? Mak jleb!! Tiba-tiba saya seperti dihantam Mike Tyson dengan hook kiri. Ternyata saya tidak punya tabungan. Duit habis buat jalan-jalan, makan enak, dan berbelanja kebutuhan traveling lainnya.

Pertanyaan sederhana ini sukses membuat saya merasa malu pada diri sendiri.  Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya mengubah jalan hidup. Terlanjur jatuh cinta pada dunia traveling dan masih banyak cita-cita yang belum kesampaian. Saya ingin melihat dunia.

Ah jangankan dunia, Indonesia saja saya belum khatam. Ini rasanya seperti kita punya bisul yang pengen lepas tapi belum juga lepas. Lama saya merenungkan ini. Apa yang salah dengan traveling? Saya membaca buku-buku panduan wisata, berkumpul dengan para traveler, bergabung dengan Indobacpacker, juga bergabung di berbagai milis jalan-jalan.

Selain upaya untuk sharing biaya jalan lebih murah, juga ingin menemukan kearifan-kearifan dalam dunia traveling. Saya ingin mendapatkan  informasi yang benar dan bijak tentang pengelolaan traveling dari sisi waktu dan efisiensi biaya.

Tetapi yang saya dapat justru pembenaran diri,  mengapa ada manusia yang hobi banget jalan-jalan? Saya pikir saya ini sudah gila, karena kaki gatal kalau sebulan tidak jalan-jalan. Ternyata, dalam beberapa kelompok traveling yang saya ikuti, banyak yang jauh lebih gila dari saya.

Bahkan wilayah traveling-nya sudah sampai Irian dan pelosok hutan di Kalimantan. Juga menjelajah Afrika, Amerika Latin. Mak jaaaaaangg!! Saya seperti tercebur ke dunia yang salah tetapi saya malas keluar. Belum lagi kalau melihat perlengkapan traveling mereka, mulai dari yang kecil berupa dompet waterproof sampai sepatu gunung yang bergerigi, peralatan diving, aaaaaaaaarrgggg!! (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)