Setiba di Miri, Disambut ‘Cita Citata’

Mari Kemari Singgah ke Miri (1)

lokasi-borneo-jazz-festival-siang-hari
Lokasi Borneo Jazz Festival

Pulau Kalimantan sedang didera cuaca yang lumayan ekstrim. Hujan lokal disertai angin kencang mendera beberapa daerah. Tapi suasana itu tak membaut saya terhalang untuk melakukan perjalanan ke Miri. Miri, di mana itu? Miri adalah kota ke dua terbesar di Sarawak setelah Kuching.

Tujuan saya pertama ya ingin menyaksikan festival jazz terbesar di tanah Borneo, Borneo Jazz Festival, yang tahun 2016 digelar pada 13-14 Mei. Tapi keinginan saya travelling membuat saya ingin lebih tahu Miri. Teman guide saya, Paul Victor lah yang merencanakan ini semua, termasuk ajakannya untuk mencoba ke kampung Bakelalan, sebuah kampung Dayak di dataran tinggi tanah Kalimantan.

Dan perjalanan itu saya mulai dengan bete karena hampir 3 jam saya menunggu di bandara. Pasanya, pesawat saya harus menunggu cuaca di Bandara Kuching membaik. Dari sana saya harus transit sebelum menjejakkan kaki di Bandara Miri. Pengumuman lewat pengeras suara sempat mengatakan pesawat tidak bisa berangkat karena menunggu cuaca lebih baik. Sampai akhirnya penumpang dipersilakan masuk ke dalam pesawat.

sudut-kota-miri-di-siang-hari
Sudut Kota Miri di siang hari

Jantung saya agak berdegup kencang saat pesawat mulai lepas landas. Gerimis masih menerpa. Beberapa kali terasa turbulensi cukup kencang membuat badan saya bergoncang hebat. Selama 30 menit yang menegangkan menggunakan pesawat boeing itu akhirnya berakhir mendarat di Kuching dengan selamat. Lega.

Tapi belum selesai. Perjalanan berikutnya lanjut pada pukul 8 malam menuju Miri. Suasana masih sedikit mendung dan beberapa kali kilatan petir di angkasa terlihat jelas dari jendela kaca bandara. Saya menggunakan pesawat berbaling-baling untuk menuju Miri.

S aat panggilan boarding bergema, kaki bergegas masuk ke pesawat, agak berdegup namun semangat untuk berpetualang mengalahkan segalanya. Selama di pesawat saya mencoba untuk menenangkan diri, beberapa kilatan petir terlihat di jendela pesawat namun tidak saya rasakan turbulensi hingga pesawat mendarat.

miri-malam-hariPukul 21.45 saya akhirnya mendarat selamat di Bandara Miri. Ini adalah penerbangan terakhir. Bandara sudah sepi saat saya melewati lorong bandara. Pesawat sepertinya langsung masuk ke Apron untuk persiapan penerbangan esok hari. Saya bergegas menuju pool taksi dan membeli voucher untuk menuju hotel yang sudah saya pesan. Taksi di Miri boleh dikatakan paling mahal di dataran Malaysia apalagi pada saat malam hari.

Bayangkan 60 ringgit untuk menuju kota. Belum larut benar, tapi kota ini terasa sudah mati di beberapa titik. Ada beberapa jalan yang sederetnya dipenuhi pub dan cafe. Tapi tidak banyak lokasi seperti itu di Miri. Jadi pada malam hari begitu, kawasan North Yu Seng bisa dipilih sebagai salah satu titik keramaian yang bisa dinikmati. Benar, di sepanjang jalan banyak deretan pub dan café. Dentuman musik masih terdengar kencang.

Berbeda dengan di sebagian titik kota yang sepi, kawasan ini masih ramai walaupun sudah lewat pukul 10 malam. Saya meminta supir taksi berhenti sejenak karena s ya mau melihat daerah ini. Hanya ada beberapa kedai makan yang ramai. Tidak jauh dari deretan kedai terlihat lampu kerlap-kerlip dari panti pijat di lantai tiga bangunan ruko.

Dalam benak saya, situasi itu terasalah agak aneh; sederetan pub sang saling berdekatan dan remang-remang. Pintunya terbuka sehingga musik tembus hingga keluar. Ada beberapa meja yang diletakkan di luar dan menggunakan penerangan dari lampu minyak. Beberapa pelayan di luar dan berusaha mengajak tamu yang lewat untuk masuk. Berbeda terbalik dengan di Indonesia yang berada dalam lokasi tertutup dan nyaris tidak ada suara yang dapat keluar.malam-di-miri

Kaki saya terus melangkah karena rasa penasaran, sayup-sayup saya mendengar lagu dangdut yang berkumandang, Lagu ini saya kenal! Keong Racun! Hahaha. Mata saya langsung jelalatan, telinga saya berusaha mencari asal suara. Di antara banyaknya pub dan café, mata saya tertuju pada sebuah bar karaoke. Wow! Suara lagunya menembus keluar dan membahana.

Padahal saya pikir awalnya ada konser dangdut di lapangan terbuka karena lagunya diputar kencang sekali. Di Miri, lagu-lagu Indonesia terbilang laris. Tak lama terdengar lagu Cita Citata dan Tegar berlanjut terdengar sambung menyambung. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)