Setelah Bu Susi Datang, Hiu Paus Diteliti

Berdekat-dekatan dengan Hiu Paus Botubarani (1)

Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman video dari seorang teman yang membuat saya galau. Video itu tentang munculnya hiu paus atau whaleshark di Botubarani, sebuah desa kecil di Gorontalo. Tanpa berpikir dua kali saya langsung memesan tiket pesawat ke provinsi di sebelah utara Pulau Sulawesi tersebut.

Harus karena berenang, menyelam berdekat-dekatan bersama hiu paus adalah impian saya sejak lama. Maka, tidak akan saya lepaskan kesempatan kali ini. Perjalanan yang memakan waktu 2,5 jam dengan dari Surabaya dengan transit di Makassar ini berjalan dengan lancar. Cuaca di Makassar yang mendung sempat membuat pesawat delay.

Tapi setelah tiba di Gorontalo, cuaca cerah sudah menyambut kedatangan saya. Bersama dengan beberapa teman satu komunitas pecinta jalan-jalan, kami langsung berangkat menuju Desa Botubarani, satu jam dari arah Kota Gorontalo. Desa Botubarani desa yang unik. Desa ini berlokasi di tepi garis pantai Teluk Tomini, yang merupakan salah satu palung di Indonesia dan mempunyai arus paling tenang.

paus (1)Hanya 20 meter dari tepi jalan utama, kita sudah bisa menikmati pantai. Tetapi hati-hati, pantai di sini hanya 15 meter berpasir landai. Setelah itu merupakan lautan dalam. Karena karakternya yang demikian inilah maka hiu paus itu bisa terlihat dari pantai tanpa harus naik perahu ke tengah untuk bisa melihat ekor dan sirip hiu paus yang terkadang muncul ke permukaan.

Fenomena hiu paus di Botubarani sebenarnya ada beberapa tahun lalu. Hanya, hiu paus yang datang hanya dua atau tiga ekor. Kedatangan salah satu jenis ikan hiu terbesar di dunia ini menarik penduduk sekitar dan anak-anak untuk bermain dan berenang bersama di laut karena sifat ikan ini tidak berbahaya.

Setahun lalu, tepatnya Mei 2016, sebanyak 13 ekor hiu paus dengan berbagai ukuran datang bersamaan. Peristiwa ini sangat langka sehingga salah satu aktivis desa memutuskan untuk memberitahukan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai fenomena tersebut. Isu ini ditanggapi langsung Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan yang datang bersama staf dan peneliti.

Bekerjasama dengan WWF, kementerian melakukan penelitian mengenai hiu paus ini. Mereka terbagi menjadi beberapa penugasan, yaitu memindai tiap hiu dengan sonar tagging, jenis kelamin, mengukur panjang dan berat masing-masing hiu sampai dengan pengambilan foto corak tiap hiu paus. Karena seperti halnya manusia, setiap hiu paus mempunyai keunikan corak yang berbeda satu sama lainnya.

Pemindaian tersebut dilakukan dengan harapan bisa membantu untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut. Berapa banyak jantan dan betina dalam satu kelompok, sonar tagging digunakan untuk mengetahui migrasi hiu paus pada saat mereka tidak terlihat di perairan tersebut. Dan berapa banyak hiu paus yang akan kembali ke perairan yang sama.

Bersama WWF kementerian memberikan pengetahuan kepada penduduk sekitar mengenai penanganan hiu paus. Misalnya tentang bagaimana berinteraksi dengan makhluk ini secara aman dan tidak membahayakan. Bagaimana para operator kapal mengemudikan kapalnya hingga jarak aman antara kapal dan hiu paus. (naskah dan foto: Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)