‘Setapak’ Menjelang Puncak Gosaikunda

Jelajah Nepal; Negeri Impian Para Petualang (5)

Perjalanan lanjutan dari Thulo Syabru saya teruskan hingga ke Barbal. Kali ini saya mulai memasuki hutan. Jadi, jalan tidak lagi berdebu seperti sebelumnya. Sesekali saya dan Yuba, –guide yang menemani saya-, beristirahat di kuil Hindu yang kami temui di sepanjang jalur perjalanan menuju Brabal.

Saat tempuhan inilah bentang Himalaya mulai muncul satu per satu sebagai pemandangan. Puncak Lantang Lirung yang bertahta salju abadi juga menyambut. Semua itu membuat nyali pendakian saya bukan ciut. Namun malah menambah semangat untuk meneruskan perjalanan dan melihat jajaran gunung itu lebih dekat.

Tak terasa, pada pukul 13.30, saya dan Yuba sudah berada di Brabal untuk makan siang. Di tempat ini, bentangan Gunung Annapurna dan Lantang Lirung lebih kentara. Bahkan Himalaya yang berbatasan dengan China, bisa terlihat dari titik ini. Saking senangnya dengan suasana menarik untuk spot foto, tak terasa saya menghabiskan 1,5 jam demi jepret-jepret.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Desa Sing Gompa. Ini menjadi tempat bermalam sebelum menuju trek paling berat menuju Gosaikunda, Laurebina Pass. Penginapan di ketinggian 3300 ini mulai dipasang chimnee yaitu semacam tungku penghangat ruangan. Chimnee terbuat dari tabung besar yang di dalamnya berisi kayu bakar.

Tungku ini memiliki cerobong asap sebagai ventilasi gas buang panas atau asap dari tungku. Di kawasan EBC, tungku penghangat ruangan ini berukuran 3 kali lipat dari chimnee yang ada di Langtang. Wajar, karena suhu di EBC relatif lebih dingin karena sudah memasuki kawasan bersalju.

Bedanya, karena tidak ada kayu untuk dibakar, chimnee di EBC biasa menggunakan kotoran yaks atau domba sebagai bahan bakar. Dengan chimnee, suasana di ruang makan selalu ramai oleh pendaki yang ingin menghangatkan tubuh. Hampir tidak ada meja kosong kalau sudah begitu. Semua duduk mencari hangat, dengan saling bercerita perjalanan mereka. Varian bahasanya saya tidak mengerti.

Namun begitu, suasana tetap cair satu sama lain. Di teahouse ini, wifi dan air panas berbayar mulai diberlakukan. Saya sih tidak perlu memakai air panas karena saya cukup menyeka badan sebelum tidur. Ya, tidur awal. Entahlah, tidur menjadi buai-buai saya jika sudah masuk waktu makan malam.

Lebih-lebih dengan dingin yang mulai menusuk, saya malah bangun lebih pagi dan segera menuju ruang makan agar tak terserang AMS. Dengan belajar terbiasa dengan dingin, menggerakkan badan,  saya berharap bisa sampai ke Puncak Gosaikunda, titik akhir perjalanan saya ke Nepal, negeri para petualang itu.

Apalagi kekuatan kaki saya yang tidak segesit para pendaki profesional itu, maka saya memang lebih senang berangkat pagi. Perjalanan berat memang mulai terasa di wilayah Cholang Pati. Itulah sebabnya, ada beberapa penginapan di sekitar sini. Walau jalurnya terlihat jelas, tingkat ketinggian Cholang Pati ke Laurebina Pass lebih tajam.

Banyak pendaki yang saya temui di jalur Sing Gompa-Cholang Pati, memilih mengumpulkan tenaga untuk keesokan harinya. Ini terlihat dari selama perjalanan menuju Gosaikunda, saya jarang bertemu dengan pendaki. Padahal, saya termasuk pejalan paling pelan di antara kaki raksasa mereka.

Di Cholang Pati, mulai banyak berkumpul pendaki dari Eropa. Mereka lebih senang berjemur ketimbang saya yang malah takut matahari. Di sini pula banyak pemilik teahouse yang menjual hasil kerajinan mereka berupa syal yang terbuat dari bulu yaks. Mereka memintalnya sendiri. Meski kata Yuba, banyak kerajinan diambil dari Kathmandu. (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)