Senja di Pantai Lagoi dan Seribu Rahasia by Sol Amrida

Aku mencintaimu lebih dari sekadar perjalanan apa pun. Aku merindukanmu dari segala warna senja yang selalu kita perdebatkan. Dan, aku mendambamu lebih dari segala sore  yang membuat kita ringkih karena gelap dan kantuk.

Segala perjalanan ini dan segala kisah yang membuat kita merasa begitu hidup, sepertinya harus tertahan oleh segala sakit yang menderamu kini. Di atas ranjang ini, di atas kasur empuk yang menopang tubuhmu, kau terlihat begitu ringkih. Lebih ringkih dari sore. Dan, kau terus memaksa, mendebat tentang senja yang selalu kita rindukan. Padahal, tubuhmulah yang mesti kita perdebatkan.

Di tiap sore, aku memelukmu, seperti memeluk kekosongan. Sore menjadikanmu bertambah tiada. Juga pada raut wajahmu yang kian memudar, tiada rona, persis seperti sepi yang mengental. Rambutmu tampak kusut dan mengambang seperti buliran cahaya kuning yang meresap lewat jendela namun tak sampai pada kulitmu. Juga matamu, kehilangan pijar dan nanar seperti pasir yang mulai kalah oleh sebuah malam. Segalanya terasa begitu kusam.

Segalanya telah berubah. Rahasialah yang mengubahnya.

Adalah kita yang begitu mencintai perjalanan, tapi juga begitu mencintai rahasia, rahasiamu dan rahasiaku. Begitu banyak hal yang kita sembunyikan. Begitu banyak alasan untuk memendam. Begitu mudahnya menjadi bom waktu. Kini, aku menerimanya sebagai sebuah ledakan yang mahadahsyat, tak sempat aku nalar. Sebab rahasia, kini engkau terkulai.

Perjalanan yang selalu kita rencanakan ternyata menjadi alasan besar untuk menutupi segala rahasiamu. Juga dengan menikmati perjalanan, aku dan kamu selalu lupa akan rahasia yang siap terbuka katupnya oleh sebuah ledakan. Kita begitu gembira dan bersemangat untuk mencari tempat-tempat yang belum kita singgahi, hanya sekedar untuk menutupi sebuah rahasia besar. Dengan perjalanan, kita berpura-pura untuk menyangsikan rahasia di antara kita.

Dan rahasia itu bermula dari sebuah pertemuan penuh rindu. Juga cinta. Menggelora di antara deburan ombak yang menyapu pasir. Juga senja di sekujur pantai Lagoi, Bintan. Sore itu aku sedang berjarak dengan ombak. Seorang diri menikmati buih-buih pada ombak membuat kakiku tetap hangat oleh pasir yang kuinjak. Sore di pantai Lagoi adalah cakrawala tak bertepi, mencurahkan kepingan-kepingan cahaya emas dari balik awan yang begitu tebal. Di tepi pantai ini, waktu menjadi teman sekutu bagi ruang cahaya dan kerlip ombak yang memantul. Keindahan tiada tara. Itulah sebabnya, aku selalu mendamba saat senja di tepi pantai. Seorang diri.

Keindahan mendadak berubah. Dan, inilah awal mula rahasia yang telah mempertemukan kita: aku melihatmu kala kau tersapu ombak. Tubuhmu seperti tak kuat menopang dorongan ombak yang sejatinya tidak terlalu besar. Aku lihat kau payah. Tanganmu menggapai-gapai. Debur ombak pantai menelan tubuhmu. Aku terkesiap. Melepas segala baju yang menempel dan berlari kearah tubuhmu yang tak berdaya. Aku menggapai. Menyeret tubuhmu ke pinggir pantai.

Aku lihat mata yang sayu. Tubuh yang lunglai. Aku lantas memapahmu. Mengantar tubuhmu yang lunglai. Tubuhku terbebani. Pasir putih terinjak oleh beban kita. Lama kau tidak tersadar. Orang-orang mendekat, mengerumuni. Juga buliran cahaya sisa sore semburat ke tubuhmu.

Sore di pantai Lagoi menjadi sebuah peristiwa yang penuh rahasia bagi kita berdua. Setelah penjaga pantai dan paramedis berdatangan memeriksa keadaanmu, kau mulai siuman. Dalam keadaan tersadar itulah kau sedikit tersenyum kearahku saat salah satu petugas penjaga pantai bertanya tentang aku danada hubungan apa dengan dirimu. Aku menjawab dengan sekenanya, bahwa kau adalah temanku. Tapi, penjaga itu bertanya lagi, entah sekadar untuk memastikan apakah betul aku temanmu atau lebih dari sekedar teman? Aku menjawab dengan pasti, “Ya, dia pacarku.” Aku melihat dan menunjuk ke arahmu. Kau tersungging malu, tapi bahagia.

Itulah awal kebahagiaan yang tampak, tapi penuh rahasia.

Ternyata, apa yang kita cintai pasti akan penuh rahasia, seperti mencintaimu yang begitu cepat, akhirnya begitu banyak rahasia terpendam. Dari senyummu, juga tawamu, juga tatapmu, begitu banyak rahasia yang tak pernah kauutarakan. Juga cerita-ceritamu kauuarkan saat senja yang kita lewati di pinggir pantai Lagoi ini, begitu banyak pertanyaan tidak terjawab.

Seketika itu kita menghabiskan senja sambil duduk di sebuah kursi dengan meja tidak terlalu besar. Kau memesan sebuah minuman yang tak pernah kau bagi, bahkan namanya pun tak pernah kau beritahu. Sepertinya, kau begitu terbiasa memesan minuman itu. Kau bilang, “jangan pernah tergoda oleh kebiasaan orang lain yang tidak pernah kau kenali kebiasaan itu.” Aku tidak mengerti kata-katamu pada saat itu. Namun, kelak, aku jadi mengerti bahwa itu adalah alasan bahwa aku tidak boleh mencoba minumanmu, sebab minuman itu adalah salah satu rahasia yang ingin kau sembunyikan.

Senja begitu terasa cepat. Walau aku berharap senja tetap berlangsung lama. Tapi, apalah arti sebuah harapan yang berbanding terbalik dengan waktu? Keindahan adalah stimulus bagi otak untuk mencerap apa yang kita kagumi, dan waktu menjadi stimulus lain bagi otak untuk melenyapkan subyektifitas perasaan. Jadi, jika berkaca pada relativitas waktu, senja akan “terasa” cepat, walaupun sesungguhnya waktu tetap berjalan linear. Tidak ada manipulasi waktu. Yang ada hanyalah sebuah subjektifitas berupa perasaan yang menstimulus otak. Dan, aku mencintaimu sebab stimulan-stimulan yang berjajar beriringan mendesak otak.

Jika waktu telah melenyapkan perasaanku terhadap senja, persamaan akan banyak hal telah menjadi stimulus untuk segera mencintaimu: kita sama-sama mengagumi senja. Kita ternyata suka pantai. Kita adalah penggila perjalanan. Dan kita juga ternyata pencinta kesendirian.

“Tapi, betulkah kita pencinta kesendirian?”Itulah pertanyaanku yang membuatmu terkejut.

Sisa senja masih terasa. Walau warna buram sudah menyelimuti laut yang tertatap dan pinggirpantai Lagoi yang masih terang putih dari pasirnya. Lampu-lampu cottage menyebar di pinggir pantai sudah mulai terlihat mengerlip. Juga lampu-lampu pantai tergantung di tiap tiang yang terjajar rapi. Sementara, orang-orang sudah mulai membilasi diri, dan beranjak ke sebuah tempat yang telah mereka pesan. Di jajaran kursi dan meja, masih terlihat orang-orang juga menikmati senja. Saat seperti ini, aku masih menunggu jawaban dari pertanyaanku yang membuatmu terkejut.

“Walaupun kita masih menyukai obrolan ini denganmu, tapi kesendirian menjadi alasan utama ketika aku tidak pernah bertanya siapa namamu dan juga pertanyaan-pertanyaan remeh lainnya. Kau tahu kenapa? Karena hal-hal remeh akan memberatkan setiap perjalanan selanjutnya. Itulah makna kesendirian. Siap untuk meninggalkan remeh temeh yang membuatmu tak bebas melangkah, yang akhirnya kau akan menangis sebab beban yang terpikul semakin memberat,” ucapmu sambil menatapku dalam. Aku membalas tatapannya.

“Tapi, betulkah kesendirian tidak memerlukan hal-hal yang remeh? Semisal cinta? Atau rindu?”

Kau menatap ke arah pantai tanpa menoleh ke arahku. Aku merasa bersalah. Bertanya tentang sesuatu yang bukan semestinya. Di sisa senja ini seharusnya aku lebih tahu diri, bahwa keindahan senja sudah mulai hilang, tidak patut aku bertanya hal yang begitu memberatkan. Aku lihat kau tak membalas tatapanku.

“Malam segera datang. Aku harus segera membersihkan diriku. Aku pikir sudah cukup kita menikmati senja hari ini.”

Kau berdiri. Menatapku. Dan, tersenyum sekilas.

Kau berjalan menjauh, sementara aku masih duduk menghabiskan sisa senja.

Senja di pantai Lagoi telah usai. Aku mengakhirinya dengan kesendirian lagi. Kesendirian sepertinya menjadi teman abadi dalam perjalanan ini. Seperti juga esok, lalu, dan nanti. Kesendirian telah membawaku pada suasana asing namun selalu mengubah arti hidup. Di setiap kesendirian selalu terselip pertanyaan-pertanyaan mendasar: tentang keberadaan diri, alam, juga manusia-manusia yang berjumpa dan menjumpai. Seperti perempuan yang baru saja aku tolong, pada dasanya aku lebih menikmati kesendirian. Dengan kesendirian aku mampu meraih kebebasan. Dan dengan kebebasan aku mampu mencerna dan mengubah cara pandangku tentang apa saja. Karena sejatinya hidup adalah masalah bagaimana kita memandang sesuatu.

Seperti aku memandang sebuah ketakterdugaan. Serba kebetulan, orang bilang. Dalam perjalanan kesendirian, ketakterdugaan menjadi penyebab segala pertanyaan-pertanyaan yang selalu timbul dalam banyak peristiwa penuh ketidakberdayaan. Serba di luar nalar, menyentak, seperti sebuah energi besar dan aku, seperti bukan apa-apa.

Ketidakterdugaan itu pun kembali hadir di sore hari berikutnya.

Di sini, di pantai Lagoi, Bintan, sore di hari setelah aku menolongnya dari sebuah ombak, aku akhirnya bertemu lagi dengannya. Sebuah energi alam sepertinya telah bekerja untukku dan dirinya. Sebuah energi rahasia yang tersimpan dalam kesendirian, dalam perjalanan.

Sore di pantai Lagoi, telah menjadi potret keemasan yang berkejaran dengan suasana penuh kegembiraan. Jejeran pohon kelapa menjadi bilah-bilah cahaya yang mulai condong ke ufuk barat. Hotel-hotel serta cottage yang rata-rata baru berdiri menambah kesan mewah bagi pantai yang saat ini menjadi andalan pariwisata di PuluaBintan, Kepulauan Riau. Lagoi, seperti mewujud menjadi ambisi bagi penikmat pantai: pasir putih dan privasi. Juga para pejalan yang datang dari negeri Singapura, hanya berjarak empat puluh lima menit. Dan dermaga penuh privasi menyambut kapal feri, khusus dibangun untuk pejalan yang singgah di Lagoi. Dan aku beruntung.Untuk kedua kalinya aku bisa merasakan pasir putih pantai Lagoi. Setelah perjalanan pertama terjadi karena sebuah keyakinan akan muasal tanah kelahiran almarhum ayahku berasal dari tanah Melayu, pulau Bintan. Itulah yang diyakinkan ibu terhadapku saat iatahu betapa aku mencintai pantai. “Di tanah kelahiran ayahmu, terdapat pantai elok nan memanjang. Jika kau sempat, singgahlah di pulau Bintan.” Itulah sedikit petuah ibuku tentang tanah kelahiran ayah. Dan entah kenapa, ibu selalu berbicara tentang keberuntungan dan masa depanku akan berawal dari pantai di tanah kelahiran almarhum ayahku.

Maka aku menjadi was-was ketika untuk kedua kalinya aku singgah di pantai Lagoi, dan bertemu denganmu. Sebab, layaknya ramalan dari ibuku, aku merasa begitu beruntung setelah sore ini kau tiba-tiba hadir lagi di hadapanku. Tanpa tedeng aling-aling, kau menyeretku pada sebuah percakapan penuh privasi, juga emosi. Aku yang masih tersadar tentang sebuah konsep ketidakterdugaan, menyambutmu dengan sukacita dan tiada sangsi. Apalagi kau merasa berutang nyawa terhadapku.

Kau akhirnya berhasil mengutarakan tentang perasaanmu, tapi bukan rahasiamu. Begitupun aku, berhasil mengobrak-abrik emosimu tentang masa depan, cinta dan wanita idaman yang semuanya aku tujukan kepadamu. Kau membuka asal-usulmu. Seperti sore saatmembuka senja. Kau menagih asal-usulku, seperti langit menagis cahaya keemasan. Dan kita menangguk kerinduan berkelindan kebahagiaan nir-rahasia kita.

Akhirnya kita memperpanjang masa menginap di hotel di pinggir pantai Lagoi itu. Kita begitu cepat untuk sepakat menginap dalam satu kamar dengan atas namamu. Satu minggu kita memulai untuk segalanya: mengupas filosofi perjalanan, arti kesendirian, cinta, status, bayangan masa depan, dan hal-hal yang pernah kita anggap remeh sebelumnya.Dan ujung dari semuanya mengarah pada kita harus bersatu dalam ikatan perkawinan.

Ah, sebegitu cepatnya kita merangkum kebahagiaan, cinta, dan masa depan.

Di kamar ini, yang kelak menjadi kamar terakhir kau tergolek lemah, kita menangguk cinta yang begitu bergelora. Dahsyat melesat. Seperti kita tak pernah lagi merasakan senja untuk bersama. Sementara, kita tahu, orang-orang akan begitu susah mencari sebuah kesepakatan dalam waktu yang begitu cepat. Lebih cepat dari waktu senja untuk mengakhirinya dengan malam. Di balik kamar ini, sejatinya kita tahu, bahwa alam begitu hadir dengan segala rahasianya. Persis segala rahasia yang terkandung dalam diri kita masing-masing.

Kelak di kemudian hari, setelah kita bertemudi pantai Lagoi itu, kita mewujudkan masa depan kita bersama. Aku-kau mengenalkan seluruh keluarga kita. Kau mengenalkanku pada seluruh keluargamu di Bekasi. Sementara aku mengenalkanmu pada keluargaku yang berada di Surabaya. Keluarga kita bahagia. Pun aku-kau, tak ada alasan untuk menolak bahagia. Kecuali rahasiamu yang mulai terkuak satu persatu.

Setahun setelah kita menikah, kita masih merencanakan perjalanan-perjalanan mengejar senja di pantai-pantai yang pernah dan belum kita singgahi dalam kesendirian: Senggigi, Kuta, Nongsa, Tenggiri, Bunaken, Carita, dan banyak lainnya. Dalam perjalanan yang kita lakukan bersama, akhirnya kita menemukan sebuah jawaban yang pernah kita sangsinkan ketika masih dalam kesendirian, ternyata perjalanan lebih indah jika dilakukan bersama-sama dengan orang terkasih. Sebab, keindahan menjadi tiada makna ketika kita menyimpannya untuk diri sendiri. Itulah awal-awal tahun perkawinan kita.

Namun, di awal-awal tahun itulah akhirnya sebuah rahasia mulai terkuak: kau sering terjatuh pingsan saat kita berada di sebuah perjalanan. Bukan saja saat kita berjalan, tapi, saat kita berada di sebuah kamar penginapan. Kau sesekali terjatuh pingsan tanpa sebuah alasan dan penjelasan. Kejadian itu selalu berulang. Tapi, tak sekalipun kau menjelaskan tentang apa yang terjadi pada tubuhmu. Kau selalu menyangkal. Menyangkal ketika aku kadang menangis untuk sekali saja kau menjelaskan tentang yang terjadi dengan tubuhmu. Bayangkan, aku sampai sering menangis hanya untuk memintamu menjelaskannya. Kau hanya membalas, “sudahlah, sayang, ini bukan akhir dari segalanya.”

Aku berharap aku mengerti segalanya tentang kamu, tapi, aku betul-betul kehilangan dirimu untuk kesekian kalinya setelah aku mengerti tentang pertemuan awal kita di pantai Lagoi, bahwa kita bertemu juga karena kau sudah pingsan, bukan karena tenggelam oleh ombak.

Oh, betapa konyolnya aku ketika itu.

Dan kekonyolanku berulang ketika aku juga menyadari tentang sebuah minuman yang selalu kau minum secara rutin: gelas berisi air berwarna kuning itu, ternyata memang bukan minuman sembarangan, ternyata itu adalah sebuah minuman sejenis larutan dari sebutir tablet yang kau larutkan dengan air putih. Minuman itu, yang pernah aku tanyakan di saat pertemuan pertama kita, dank au mengelak untuk menjawabnya, ternyata itu adalah sebuah obat untuk apa yang terjadi dalam tubuhmu.

Oh, betapa keberuntungan itu ternyata sebuah kekonyolan.

Tapi, apakah kekonyolan ini akan terus berlangsung tanpa sesuatu apapun yang harus aku lakukan? Begitu keras kepalanya dirimu. Sekedar untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirimu saja, kau begitu kukuh untuk tidak mengutarakannya padaku?

Pernah aku memaksamu untuk pergi ke dokter, tapi kau tak berkutik di atas kasur. Kau malah sering menyangkalnya dengan sebuah rencana perjalanan.

“Uang yang kita kasih untuk seorang dokter, lebih bermakna jika kita pakai untuk mengunjungi pantai yang telah kita rencanakan.”

Begitu entengnya kau menganggap permasalahan yang terjadi dalam tubuhmu. Dan aku, betul-betul menyerah untuk menyeretmu ke seorang dokter.

“Aku sudah pernah ke dokter, berkali-kali. Setiap aku ke dokter, dia hanya memberiku resep dengan obat yang sama. Sampai akhirnya aku menghentikan kunjungan ke dokter, dan langsung membli obat tanpa resep.”

“Dan kau tahu apa penyakitmu?”

“Aku tidak ingin tahu, dan aku tidak akan bertanya. Biarlah dokter itu yang tahu tentang penyakitku. Bagiku, segalanya akan berakhir pada waktunya. Kebetulan, mungkin, aku akan berakhir dengan dirimu. Barangkali.”

“Tapi, apalah gunanya kau menyimpan segalanya?Untuk apa kau bersikap acuh terhadap penyakitmu?”

“Sayang, jikalaupun akut ahu apa yang terjadi dengan tubuhku, apakah segalanya akan berjalan dengan baik? Apakah dengan itu semua, aku harus menyerah dan menghentikan segala kesendirian dan pencarianku terhadap kebahagiaan? Lebih bermakna mana, aku hidup bahagia tanpa mengetahui segala ancaman yang ada atau aku hidup tidak bahagia dengan ancaman yang akan teratasi? Sudahlah, sayang, kita hidup bukan untuk bergulat dengan waktu.Kita harusbisamemanfaatkanwaktu.”

Kini, aku menerima segalanya dengan lapang dada. Permintaanmu untuk berakhir di tempat kita memulai, akhirnya aku tunaikan. Kau kini menikmati duniamu dengan tergolek lemah di atas kasur. Di sebuah kamar di pinggir pantai Lagoi. Kita menemukan sebuah senja yang utuh. Seutuh rahasia penyakitmu yang tak ingin kau ketahui. Dan, aku mengerti bahwa hidup bukanlah sekadar mengetahui, tapi juga mengalami. Itulah yang terjadi pada kita: tidak perlu tahu, tapi cukup untuk mengalami.

Lewat jendela ini, kita akhirnya kembali menikmati senja yang merajang awan di sekujur pantai Lagoi. Batang-batang pohon kelapa melambai pelan. Orang-orang tampak bahagia. Kita pun akhirnya bahagia.

Aku memelukmu, seperti memeluk kekosongan. Sore menjadikanmu bertambah tiada. Juga pada raut wajahmu yang kian memudar, tiada berona, persis seperti sepi yang mengental. Rambutmu tampak kusut dan mengambang seperti buliran cahaya kuning yang meresap lewat jendela namun tak sampai pada kulitmu. Juga matamu, kehilangan pijar dan nanar seperti pasir yang mulai kalah oleh sebuah malam. Segalanya, terasa begitu kusam. (naskah: Sol Amrida/ilustrasi: NN/editor: Heti Palestina Yunani)