Senja di Krakatau by Fauziah Mahabbatussalma

Miss, be careful!1” aku berteriak melihat seorang turis asing hampir terseok mendaki hamparan pasir hitam di Gunung Anak Krakatau. Aku berlari menghampirinya yang tepat berada di depanku.

I am fine! Don’t worry!2” tiba-tiba ia berbalik dan tersenyum. Ia tidak terlihat panik.

“Tenang Mas, itu bule memang kakinya cacat, tapi sudah berpengalaman. Kalau tidak salah dia sudah tiga kali kesini, tiap tahun, dan selalu naik sampai puncak,” katanya. Seorang ranger3 menepuk bahuku dari belakang, memberi penjelasan. Aku terkejut, seakan tidak percaya.

Aku terus memandangi turis itu dari belakang. Ia gadis yang cantik, rambutnya pirang, kulitnya memerah terpanggang matahari, dan ketika pandanganku sampai di kakinya, benar, kaki itu tidak seperti layaknya orang normal. Turis itu terus berusaha mendaki dengan bantuan tongkat kayu, sangat bersemangat, seakan-akan ia sama, tidak berbeda.

Itulah kali pertama aku bertemu dengan Elize, gadis 27 tahun berkebangsaan Inggris yang sekarang sedang kutunggu di terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta. Saat itu, sebagai peneliti di LIPI, aku ditugaskan untuk memantau keadaan Anak Gunung Krakatau dan di sanalah aku berkenalan dengannya. Ia gadis yang sangat periang. Ternyata, ia rutin datang ke Indonesia setiap tahun sejak 5 tahun yang lalu. Ia sudah pernah berlibur ke Bali, Lombok, Belitung, Bunaken, namun katanya ia paling tergila-gila pada keindahan Anak Krakatau. Meski memiliki keterbatasan fisik, ia tidak takut melakukan kegiatan berat seperti tracking, mendaki gunung, atau snorkeling meski hanya di laut dangkal. Ia memiliki toko buku di Inggris, ia mengaku hidup sendiri karena tak mau menjadi beban bagi keluarganya.

Bulan ini adalah jadwal El berkunjung kembali ke Indonesia untuk ke-7 kalinya. Selama hampir setahun ini kami rutin berkomunikasi melalui sambungan telepon dan dunia maya. Ya, setelah perkenalan itu kami berteman baik. El sangat tertarik pada profesiku dan banyak bertanya tentang tempat-tempat eksotis di Indonesia yang bisa ia kunjungi. Dengan senang hati aku berbagi dengannya, pengalamanku menjadi traveler semenjak duduk di bangku SMA cukup banyak. Aku telah menjelajahi Pulau Sabang hingga Pulau Rote, mendaki Gunung Lawu hingga menyelam di Raja Ampat. Apalagi sekarang, sebagai peneliti aku sering ditugaskan di daerah yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.

“Suryaaa …!” suara El yang khas membuyarkan lamunanku.

El setengah berlari menghampiriku, ia tampak jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Ia memakai dress pendek batik yang amat kukenal, kenang-kenangan dariku dulu.

Don’t run El! Hello, how are you?4” seruku sambil memeluknya. Meski ia sudah terbiasa berlari dengan kaki yang pincang, tetap saja aku masih takut kalau ia terjatuh.

“Baik. Aku rindu kamu,” ia menjawab dengan bahasa Indonesia yang kaku sambil tersenyum. Ia kemudian tertawa melihat ekspresi wajahku yang terkaget-kaget.

El? You learnt bahasa?5” aku terbengong-bengong mendengar apa yang El ucapkan.

“Iya. Aku membaca. Aku datang ke sekolah Bahasa Indonesia. Belajar. Satu tahun.” Ucapnya terbata-bata dalam Bahasa Indonesia.

Wow! Kamu hebat El!” aku memeluknya lagi. Aku sangat bahagia bertemu dengan El. Aku seperti mendapat asupan semangat baru ketika berbicara dan berada di samping El.  Aku ingat El pernah berkata bahwa ia sangat mencintai Indonesia, tapi aku tidak menyangka ia sampai mengambil kursus bahasa. El kagum dengan segalanya tentang Indonesia, keindahan alam dan keramah tamahan penduduknya. El ingin tinggal disini, tapi apa boleh buat, ia harus mengurus tokonya di Inggris.

“Kita berbicara dengan bahasa ya. Pelan-pelan. Supaya aku pintar. Oke?” El kembali berucap dengan logat yang sangat lucu.

“Oke, oke,” aku mengiyakan sambil menahan tawa.

“Ke mana kita?” tanya El dengan penuh semangat.

“Kita akan jalan-jalan ke tempat yang baru. Kita ke mobilku sekarang. Ayo!” aku berkata sangat pelan dan hati-hati supaya El mengerti.

“Siap!” ia mengangkat tinjunya ke udara seakan-akan berteriak, “Merdeka!”

Aku tersenyum lega. Perjalanan ini pasti akan sangat menyenangkan. Pasti.

* * *

Kali ini aku mengajak El untuk menjelajah Pulau Jawa. Aku mengajak El ke Jawa Timur, lebih tepatnya ke daerah Pacitan. Aku tau El menyukai laut. Pacitan yang terletak di tepi laut selatan masih asli dan bersih. Aku yakin ini adalah tempat yang cocok untuk El. Mata El terlihat sangat bersinar, persis seperti anak kecil yang akan mendapatkan mainan baru. Kami naik pesawat dari Jakarta ke Surabaya, kemudian menempuh perjalanan dengan mobil sewaan yang sudah kupersiapkan.

“Apa nama tempat … ehm ... kita pergi?” El bertanya dengan penuh antusias

“Pacitan El, namanya Pacitan,” jawabku singkat.

“Paci … tan … Cool! Banyak pantai, ya?” sudah tiga kali ini El mengulang pertanyaan yang sama tentang Pacitan. Iia terlihat sangat penasaran. Aku mengangguk, tersenyum.

“Oh iya, El. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Mengapa kamu suka Anak Krakatau?” Aku sangat penasaran terhadap kebiasaan El ini. El memiliki ritual khusus. Setiap datang ke Indonesia, meskipun ia berlibur jauh di Bunaken atau Lombok misalnya, sebelum pulang ia harus menyempatkan diri mendaki Anak Krakatau. Itu ia lakukan di setiap kunjungannya.

Well, aku sangat kagum pada Krakatau. Aku pertama kesana… empat tahun lalu… karena teman. Aku ingin naik ke gunung. Lihat laut. Tapi tidak bisa. Kakiku tidak kuat. Tubuhku sakit. Tapi kata teman Anak Krakatau bisa… aku naik ke puncak. Adiknya, kakinya juga sakit, bisa ke puncak. Aku pergi.. Aku bisa naik. Lalu, aku dengar cerita, gunung mele… dak, dulu, lama sekali. Krakatau hancur, tapi muncul lagi, jadi dua, indah. Itu hebat. Aku ingin seperti itu, kuat. No matter what happens in my life.6”  El menerawang, seperti mengingat-ingat semua memori tentang perjalanan hidupnya. Aku tersentuh.

Impian El untuk naik gunung dan memandang laut lepas akhirnya terwujud. Kondisi Anak Krakatau berupa hamparan pasir hitam yang luas memang tidak berbahaya bahkan bagi penyandang disabilitas sekalipun. Rute pendakiannya singkat dan landai. Hal ini memungkinkan siapapun bisa mendaki. Aku spontan menggenggam tangan El, gadis ini semakin membuatku kagum. Ia berkekurangan, tapi tak pernah menyerah, bahkan selalu memotivasi dirinya sendiri maupun orang lain.

“Kamu tidak takut naik ke puncak sendiri?”

“Tidak, selalu ada ranger siap bantu aku. Orang-orang sangat baik. Semua … semua di Indonesia sangat baik. Kamu juga. Aku suka.” El tersenyum. Aku merasa tersanjung, bukan … bukan karena El menyukaiku, sebagai orang Indonesia aku bangga negaraku dan penduduknya dikagumi oleh bangsa lain, ini sebuah prestasi membanggakan.

“Aku suka orang Indonesia, Surya. Hard worker. Honest. Positive thinking.7” El memandangku. Sebuah senyum mengembang kembali di bibirnya.

* * *

Keesokan harinya kami menuju ke Pantai Srau. Pantai ini tidak terlalu terkenal namun pemandangannya menakjubkan. Pantai ini terdiri dari beberapa pantai kecil dengan pasir putihnya yang hangat. Karena masih sedikit pengunjung, kami serasa memiliki pantai pribadi yang bebas kami nikmati tanpa gangguan.

Wow! It’s like my own beach!8” El langsung menghambur ke pantai begitu kami sampai di sana. El berlari-lari kecil menjemput ombak. Aku berusaha memotretnya, tapi El malah melempariku dengan pasir putih.

Come on, let’s play!9” El menarik lengan bajuku. Aku menurutinya dan adegan saling siram tidak terelakkan lagi. El sesekali tergelak, ia pura-pura akan jatuh, membuatku panik, tapi sejurus kemudian ia tertawa dan lari menjauh. Sore itu kami menghabiskan waktu di pantai, menikmati air kelapa, dan matahari terbenam.

Hari berikutnya aku berencana mengajak El untuk mencoba pemandian air panas di pinggiran Kota Pacitan. Pemandian air panas ini konon bisa mengobati berbagai macam penyakit. Ketika aku bangun, El sudah duduk di teras sambil menghirup secangkir kopi. Ia terlihat sedikit pucat.

“Hei, El. Kamu bangun pagi sekali. Kamu baik-baik saja?” pandanganku menyelidik.

“Oh, selamat pagi, Surya. Ya, aku baik. Tadi jogging for a while. Melihat pantai,” terangnya singkat.

“Kita ke mana hari ini?” ia terlihat tidak sabar.

“Kita akan ke pemandian air … Wait, ya halo?” ponselku tiba-tiba berdering. Telepon dari kantor.

“Iya. Apa? Alhamdulillah. Tapi, harus sekarang? Aku masih cuti.  Ah iya, oke … Aku usahakan. Besok ya? Ya, secepatnya,” aku mendesah panjang. Ini di luar dugaan.

“Ada apa Surya?” El terlihat cemas melihat perubahan air mukaku.

Ehm, aku harus kembali secepatnya ke Jakarta. Ada pekerjaan mendadak dari kantor. How? I am really sorry.” Aku menjelaskan kepada El bahwa aku tidak menyangka proyek yang sedang jadi tanggungjawabku disetujui secepat ini dan sesegera mungkin harus dipresentasikan kepada pihak sponsor. Aku pasti membuat El sangat kecewa.

“Baik. Tidak apa-apa. Kamu ke Jakarta. Aku oke. Aku bisa jalan-jalan sendiri.”

“Really? Is that alright?” Aku merasa sangat tidak enak pada El.

El mengangguk. Ia berdiri dan memelukku.

Fine, anyway selamat project-nya ya.” Aku bisa merasakan badan El lebih hangat dari biasanya. Ia tersenyum, menenangkan.

Aku segera mengemasi semua barang-barangku. Siang ini aku harus sudah berangkat ke Surabaya untuk mengejar pesawat kembali ke Jakarta.

“El, hati-hati ya. Keep contact wherever you go.10 Semoga aku bisa menyusul.” Aku mengucapkan salam perpisahan kepada El.

“Iya. Semoga kita masih bisa jumpa lagi.” Aku menggenggam tangannya erat. Kami berpelukan untuk terakhir kalinya.

* * *

Sesampainya di Jakarta aku benar-benar disibukkan dengan proyek penelitianku. Hingga tak terasa sudah hampir empat bulan sejak kembalinya El ke Inggris. El terakhir kali mengirim e-mail bahwa ia sudah sampai di negaranya dengan selamat. Namun, setelah itu tidak ada satupun e-mail-ku yang dibalas olehnya. Aku berusaha menelepon ke nomor yang ia berikan kepadaku, tapi hasilnya nihil.

Sampai pagi itu aku dikagetkan oleh sebuah e-mail yang masuk, dari Abraham March. March? Nama belakangnya sama dengan El. Ternyata ia kakak kandung El. Ia mengatakan akan datang ke Jakarta dan memohon bantuanku untuk menjemputnya. Aku mencium sesuatu yang tidak beres terjadi, tapi aku memilih menunggu hingga Abraham datang dan menjelaskannya semuanya.

Hai, I’m Abraham,” katanya sembari menjabat tanganku.

Hai, I’m Surya. Where is El?” aku langsung to the point menanyakan El.

Abraham mengajakku untuk duduk di sebuah kafe di bandara. Ia menjelaskan semua hal yang terjadi. Sebuah berita yang menyakitkan datang. El telah meninggal. Tepat seminggu yang lalu. Selain mengalami cacat pada kakinya, ternyata sistem kekebalan tubuh El bermasalah. Ia mudah terserang penyakit. Kali terakhir El ke Indonesia adalah untuk benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Ia mengidap kanker ovarium dan divonis dokter hanya memiliki waktu tiga bulan. Keluarga sudah melarang keinginan El untuk berangkat ke Indonesia. Tapi El bersikeras untuk pergi sendiri. Seluruh keluarganya sudah mengetahui betapa El sangat mencintai Indonesia. Akhirnya El pergi selama hampir dua minggu, dan ketika kembali keadaannya semakin memburuk.

This is her last sentence. For you.11” Abraham menyodorkan sebuah amplop kepadaku. Aku hanya bisa terdiam. Aku benar-benar tidak percaya bahwa El akan pergi secepat ini. Aku sangat menyesal tidak bersama El selama perjalanan terakhirnya di Indonesia. Aku membuka amplop itu dan mulai membaca.

Hai Surya, apa kabar?

Kamu orang baik. Terimakasih untuk semua. Aku cinta Indonesia. Aku suka orang Indonesia. Aku suka semua tempat di Indonesia. Aku ingin hidup di Indonesia, tapi aku tidak bisa. Aku sakit sekarang. Aku akan meninggal segera. Maafkan aku. Tolong aku, aku ingin ada di Puncak Anak Krakatau sekarang. Hidup atau mati…

Aku tak sanggup lagi membaca surat dari El. Sebelum meninggal, El berpesan supaya jasadnya dikremasi dan abunya dibawa ke Indonesia. Ya, ia ingin abunya disebar di Anak Krakatau. Ia pernah sekali menceritakan keinginannya ini kepadaku. Ia ingin jiwa dan raganya selalu berada di tempat favoritnya itu, sampai kapanpun.

Dan di senja kali ini, aku dan Abraham telah berada di Puncak Anak Krakatau. Aku membawa foto El yang aku ambil diam-diam saat kami berada di Pacitan. El yang terlihat sangat gembira. Para ranger yang telah mengenal El mengantar kami hingga ke atas. Mereka membawa bendera merah putih setengah tiang dan bersama-sama menyanyikan lagu Syukur, lagu yang katanya selalu dinyanyikan El tiap kali ia berada di puncak. Lagu yang El pelajari sendiri dan ia hafal kurang dari tiga hari pada kunjungan keduanya di Indonesia. Senja itu menjadi saksi, saat abu jasad El bercampur bersama pasir hitam, terbang bersama angin, menyatu sempurna dengan tanah air Indonesia. Selamat jalan El, impianmu telah tercapai, menjadi bagian dari bumi Indonesia, selamanya.

*Glosarium

1 Nona, hati-hati!

2 Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.

3 Ranger : Sebutan petugas penjaga Anak Gunung Krakatau dan guide bagi pengunjung.

4 Jangan lari El. Halo, apa kabar?

5 El? Kamu belajar Bahasa Indonesia?

6 Tak peduli apapun yang terjadi dalam hidupku.

7 Pekerja keras. Jujur. Berpikiran positif.

8 Wow, ini seperti pantai milikku sendiri.

9 Ayo bermain!

10 Terus beri kabar kemanapun kamu pergi.

11 Ini pesan terakhirnya, untukmu.

(naskah: Fauziah Mahabbatussalma (*)/ilustrasi: Jaka SP/NN/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Fauziah Mahabbatussalma biasa dipanggil Uzi, pegawai pajak, hobi berdiskusi, menulis, membaca, dan travelling. Perjalanan ke Krakatau ini adalah momen perpisahan dengan teman seperjuangan selama menempuh perkuliahan di kampus. Dia bisa dihubungi melalui e-mail: uzisalma@gmail.com, twitter : @uzisalma, atau Path: Fauziah Mahabbatussalma. Alamat: Jl. Arif Rahman Hakim 4B Desa Cekok Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur (Kompleks Masjid Noer Zainal Pom Bensin Cekok) atau KPP Pratama Jakarta Cempaka Putih Jl. Kwini no. 7, Jakarta Pusat. Telepon: 085725420791/085235822079)