Sendang Airmata Kesedihan Sang Ratu

Tepat pukul 15.00, kami meninggalkan Hari-Hari Restaurant di Jl. Musi (depan seberang Gedung Gelora Pancasila, Jl. Indragiri), usai menggelar reuni keluarga. Kenapa di situ? Di situlah di tempat atau daerah dimana dulu kami suka bermain, saat anak-anak hingga remaja. Dari sana, hanya dengan dua mobil, kami segera meluncur menuju pesarean Eyang Putri GKR Hj. Syarifah Ambami.

Beliau lebih populer dengan sebutan Rato Ebu, yakni Kanjeng Ratu, Permaisuri Cakraningrat 1, di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Sebelumnya, pagi-pagi, Minggu, 21 Mei 2017 kemarin, beberapa keluarga dari Surabaya sudah sepakat bertemu dengan keluarga Jakarta sambil mengadakan Reuni Keluarga Cakraningrat.

Reuni diisi dengan acara pokok Safari Ziarah, mulai di Makam Pahlawan Jl. Mayjend. Sungkono, lanjut Makam Islam Pegirian, terus ke TPU Keputih. Selanjutnya hanya tiga keluarga yang meneruskan hajat lama ke Pesarean Aermatag Rato Ebu yang kesohor itu. Dorongan kuat untuk ziarah ke Madura ini, disebabkan sudah berulang kali secara sendiri-sendiri, kami mencoba melaksanakan niat baik dimaksud, namun tak pernah kesampaian.

Sejak orang tua kami masih hidup, niat ini berulang kali kami ucapkan, alhamdulillah setelah sekitar 30 tahun tertunda, akhirnya Allah mengabulkan juga hajat kami. Selain motivasi tersebut, kami makin sering mendengar bahwa Pesarean Aermata Rato Ebu dari hari ke hari ramai dikunjungi orang. Tak hanya terutama para ahli waris dan keturunan Cakraningrat.

Bahkan juga pelancong umum yang juga ingin berziarah. Biasanya mereka sambil ‘ngalap berkah’ atau mohon berkah Allah dengan berdoa di makam yang disucikan ini. Konon, legenda pesarean suci atau makam Rato Ebu, yang mata airnya dianggap keramat, membuat tempat ini jadi populer. Syahdan, GKR Hj. Syarifah Ambami adalah istri Raden Praseno, penguasa Madura yang bergelar Cakraningrat I.

Dari perkawinan itu, pasangan Priyayi Kerajaan Mataram dengan puteri cantik ini mempunyai tiga putera, yaitu R. Atmojonegoro, R. Undagan dan Ratu Ayu Mertoparti. Alkisah, walaupun Panembahan Cakraningrat I ini memerintah di Madura, tetapi beliau banyak menghabiskan waktunya di Mataram, membantu Sultan Agung. Melihat keadaan yang demikian, Syarifah Ambami merasa sangat sedih. Siang malam beliau menangis meratapi dirinya.

Akhirnya beliau bertekad untuk menjalankan pertapaan. Kemudian bertapalah Syarifah, di sebuah bukit yang terletak di daerah Buduran Arosbaya. Dalam tapanya, beliau memohon dan berdoa, semoga keturunannya kelak sampai pada tujuh turunan, dapat ditakdirkan untuk menjadi penguasa pemerintahan di Madura. Dikisahkan pula bahwa dalam pertapaannya itu, secara rohaniah beliau bertemu Nabi Khidir AS.

Dari pertemuann itu pulalah beliau memperoleh kabar bahwa permohonannya dikabulkan. Betapa senangnya hati beliau, akhirnya beliau bergegas pulang kembali ke Sampang. Selang beberapa lama kemudian, Panembahan Cakraningrat I datang dari Mataram. Diceritakanlah semua pengalaman semenjak suaminya berada di Mataram, bahwa beliau menjalankan pertapaan. Disampaikan pula hasil pertapaaannya kepada Panembahan Cakraningrat I.

Namun, setelah selesai mendengarkan cerita istrinya itu. Panembahan Cakraningrat I, bukan merasa senang, akan tetapi beliau justru merasa sedih dan kecewa terhadap istrinya, mengapa beliau hanya berdoa dan memohon hanya tujuh turunan saja. Melihat kekecewaan yang terjadi pada diri Panembahan Cakraningrat I ini, beliau merasa berdosa dan bersalah terhadap suaminya.

Setelah Panembahan Cakraningrat I kembali ke Mataram, beliau pergi bertapa lagi ke tempat pertapaannya yang dulu. Beliau memohon agar semua kesalahan dan dosa terhadap suaminya diampuni. Dengan perasaan sedih, beliau terus menjalani pertapaannya dan selalu menangis, menangis dan terus menangis. Itulah mengapa air matanya mengalir membanjiri sekeliling tempat pertapaarmya, membentuk sendang.

Mata air ini, tidak pemah kekeringan meski di musim kemarau panjang. Sampai sekarang, masyarakat Madura mempercayai sumber air sendang ini keramat. Terlepas dari masalah percaya atau tidak, air sumur ini diyakini sejumlah orang membawa khasiat, jika diminum bisa menyembuhkan penyakit, dan bagi para pedagang, memerciki barang dagangannya dianggap bisa memperlancar rezeki.

Tak kami pungkiri, tentu jadi semakin tergerak hati kami bersama untuk benar-benar bisa silaturahim (menyambung kembali tali darah), ziarah ke tempat leluhur kami ini. Syukur alhamdulillah juru kunci utama, yaitu KH. Ahmad atau yang biasa dipanggil Yai Mat – yang juga sepupu paman kami, KHRP Ahmad Thobani, menerima kami dengan baik.

Kami: RA Noer Naeni Soepangadi bersama suami, RA Nur Edi Rahayuni Soerodjo dan RA Tjahyawati Sila Soerodjo bersama saya suaminya, Sila Basuki, bisa langsung masuk ke dalam cungkup (ruangan) pesarean Eyang Puteri GKR Hj. Syarifah Ambami atau yang lebih populer dengan sebutan Rato Ebu, yakni Kanjeng Ratu, Permaisuri Cakraningrat 1. Tentu tak semua orang bisa memperoleh keistimewaan ini.

Perjalanan tak butuh waktu lama dari Surabaya ke lokasi pesarean. Kami melalui MERR via Jembatan Suramadu lalu ke arah Kota Bangkalan, sampai di tempat hanya 1,5 jam dari pukul 15.00. Apalagi aplikasi Waze mengawal kami secara akurat. Lepas maghrib dan salat jamaah, kami bertolak kembali ke Surabaya. Insya Allah, bila umur panjang dan ada rezeki, kami akan ziarah lagi, bersamaan dengan haul agung. Aamiin. (naskah dan foto: Sila Basuki/editor: Heti Palestina Yunani)