Semua Bermula dari Jalan-jalan

Love, Art and Journey Membangun Padma (1)

Ini tentang bagaimana cerita Padma Tour Organizer saya bangun, lalu bertambah jadi Padmaggz.com, Padma Publishing, dan Omah Padma yang baling buncit. Saya cerita kronologis saja ya. Ya, dari mana segalanya bermula? Jawaban simpelnya ya dari jalan-jalan.

Jalan-jalan bagi saya adalah sebuah bara, yang saya biarkan menyala sejak kecil.

Justru semakin saya melihat dunia, bara itu bukannya meredup, melainkan makin menjadi-jadi. Saya sering terdiam ketika ditanya: mengapa suka traveling? Saya terdiam karena saya menemukan tidak sedikit orang di sekitar saya yang justru stress  ketika diajak jalan-jalan.

Mereka lebih suka tidur, menikmati hidangan dan menonton televisi.  Saya justru stress kalau tidak ada kegiatan jalan-jalan minimal dalam sebulan sekali. Kenangan di kepala saya adalah: saya merasakan siang yang ngelangut ketika dipaksa tidur siang oleh Ayah saya, sementara teman-teman saya jejeritan bermain gobag sodor atau main tali.

Saya menangis di  kamar mandi jika teman-teman saya bisa pergi bersepeda ke desa sebelah, sementara saya dilarang. Suatu hari pernah terjadi saya bersembunyi di atap karena dilarang pergi bersama teman-teman untuk bertandang ke Kahyangan Api yang jaraknya tak sampai 10 km dari kediaman saya.

Saya sering protes pada diri sendiri kenapa hanya hutan jati dan tembakau yang mengelilingi saya. Sementara saya tahu isi dunia ini seharusnya ada cemara, ada palm, ada oak ada caliandra. Lalu saya terhibur ketika televisi mulai hadir di tengah-tengah saya, walaupun hitam putih.

Minimal dengan TV, keinginan saya ‘melihat’ dunia sedikit terobati. Traveling di masa kanak-kanak itulah yang kemudian membuat segalanya sekarang terjadi. Saya sedikit bercerita tentang masa kanak-kanak saya ya?

Lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang serba terbatas di desa Ngasem,  sekitar 20 km dari kota Bojonegoro, adalah merupakan catatan traveling tersendiri bagi saya. Ketika saya menjadi murid sekolah dasar, tak ada kendaraan bermesin untuk mencapai kota.

Dalam masa kanak-kanan usia SD, masih lekat dalam kenangan saya, bagaimana seorang traveler dari Ngasem harus menaiki sebuah lori kayu yang didorong 6-8 laki-laki dewasa kekar. Mereka mendorong lori untuk sebuah tujuan: mengangkut kayu jati yang ditebang dari hutan di sekitar Ngasem, membawanya ke Tempat Penimbunan Kayu  (TPK) di Bojonegoro.

Jadi, lori-lori itu berangkat dari TPK dalam keadaan kosong, mengambil kayu-kayu gelondongan itu di hutan jati milik Perhutani, menumpuknya di atas lori sampai seperti gunung. Mereka mengikatnya dengan tali sebesar ibu jari orang dewasa, agar kayu-kayu itu tidak bergeser posisinya.

Lalu, di atas tumpukan kayu-kayu itu kami (para penumpang) duduk di atasnya. Bayangkanlah jika rel besi yang dilewati lori itu posisi menanjak. Mereka, para kuli lori akan berteriak-teriak saling menyemangati  satu sama lain, dengan keringat mengucur deras dari tubuhnya yang legam.

Jika jalanan menurun, mereka akan duduk di tepian lori sambil memegangi rem, berupa kayu panjang dengan desain khusus yang mampu mengurangi laju roda besi. Apakah pernah terjadi kecelakaan? Tentu saja pernah. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)