Sembilan Jam Berdebu ke Thulo Syarbu

Jelajah Nepal; Negeri Impian Para Petualang (4)

Dhunce tercapai meski harus lebih dulu dihantam jalanan terjal sepanjang hari. Setelah semuanya itu, saya memilih tidur pulas di hostel yang mulai terasa dingin. Keesokan harinya, sesuai janji dengan Yuba, –guide– untuk bertemu di ruang makan. Meski janji pukul 08.00, saya sengaja sudah berada di sana satu jam lebih awal.

Lumayan. Dalam sejam itu saya mengambil beberapa gambar aktivitas masyarakat setempat. Sekalian saya memesan makanan lebih dulu biar cepat tersaji sebelum penghuni guest house bangun dengan macam-macam pilihan menunya. Artinya, saya tak menunggu lebih lama lagi untuk sarapan kan?

Yuba datang tepat waktu saat saya sedang menikmati hidangan nasi goreng porsi jumbo. Anehnya, makanan itu habis tak bersisa. Seperti kebiasaan Yuba, ia jarang sarapan. Maka, tanpa menunggu Yuba makan, waktu keberangkatan saya jadi lebih cepat.

Tujuan saya itu adalah Thulo Syabru di ketinggian 2200. Jarak tempuhnya cukup lama, bisa sampai 9 jam. Perjalanan ini lebih pada tahap aklimatisasi karena rasanya saya hanya berjalan memutari bukit. Kadang naik, kadang turun. Saya dan Yuba berjalan melewati jalan raya berdebu. Sesekali kami berpapasan dengan bus atau truk yang meninggalkan asap mengepul.

Ditambah teriknya panas, perjalanan terasa membosankan. Hingga pukul 10.30, saya masih berada di Thulo Bharkhu untuk beristirahat. Istirahat panjang seperti itu jadi waktu yang langka buat menjaga stamina. Maka selain selama menunggu minuman hangat datang, saya gunakan untuk leyeh-leyeh (berebah) sambil tidur ayam.

Saat perjalanan dilanjutkan, saya mulai memasuki kawasan hutan pinus. Walau mulai teduh, namun kondisi badan jalan raya yang dilewati truk itu terlihat lebih parah. Banyak tanah bekas pijakan ban, ambles sampai kedalaman 25 cm. Tentu saja itu menambah berat perjalanan alat transportasi yang mengantar logistik dari satu distrik ke distrik lain.

Akhirnya setelah 9 jam perjalanan atau pukul 5 sore saya sampai di Thulo Syabru. Saya sempatkan istirahat sebelum makan malam. Sengaja tidak mengenakan jaket winter agar badan saya mudah beradaptasi dengan dingin. Toh, di dalam kamar ada selimut tebal.

O iya, rata-rata hotel di sini layak pakai walau dibangun di atas selembar kayu triplek. Bantal, sprei dan selimutnya bersih. Malam harinya, sambil menunggu menu makan malam datang, saya berbincang dengan pendaki asal Perancis dan Jerman yang kebetulan berada semeja. Mereka berdua berencana turun lewat Chisapani, desa terakhir yang ditempuh dengan menaiki Gosaikund Pass.

Tapi rute itu tidak saya ambil karena harus memutari danau. Entah apa saking lelahnya, meski jam masih di pukul 20.00, mata saya sudah melambai-lambai. Saya pun berpamitan pada keduanya untuk terlebih dahulu menikmati kasur empuk di atas selimut tebal.

Apalagi seperti jadwal di hari-hari sebelumnya, saya selalu minta jalan pagi. Jadi, saya biasakan tidur awal agar pagi bangun dengan segar. Selain itu setiap Subuh saya terbiasa sudah bangun. Bangun pagi begitu membuat perjalanan selanjutnya selalu terasa menyenangkan buat saya. Entah itu karena suasana baru, rute baru, kenalan baru dan cerita baru.

Pukul 8.15, saya dan Yuba berangkat dari Hotel Monalisa di Thulo Syabru. Tepat dugaan saya, sepanjang jalan yang dipenuhi dengan teahouse, banyak pendaki yang mulai bersiap melanjutkan perjalanan. Saya apalagi, lebih siap. (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)