Semarang Siap Sambut Sketser Dunia dalam ISSW 2016

International Semarang Sketchwalk (ISSW) 2016, sebuah gelaran internasional bagi sketser dari berbagai kota di dunia menggandeng 400 sketser. Mereka yang mengikuti rangkaian acara sejak 26 Agustus itu tak hanya melibatkan sketser Indonesia melainkan juga dari luar negeri seperti Singapura, Taiwan, Hongkong, Thailand, Malaysia, Laos, dan Amerika Serikat. Bagi para sketcher, ini merupakan pesta, karena selama tiga hari berturut-turut di Semarang mereka dimanjakan dengan beragam objek eksotis dan unik yang tidak ada di kota-kota lainnya.
Selama tiga hari hingga 28 Agustus nanti, mereka mengeksplorasi atmosfir kota mulai dari kawasan Kota Lama Semarang, Kawasan Pecinan (China Town) Semarang, Kelenteng Gedung Batu/Sam Poo Kong, hingga candi Borobudur di Magelang. Tempat-tempat tersebut diabadikan dalam goresan sketsa yang indah. Menurut Ketua ISSW 2016 Yudi Mahaswanto, ISSW menjadi ajang bertemunya berbagai gaya sketch dan media mulai dari pensil, kuas, cat air, bahkan charcoal.
ISSWSelain dipandu mengikuti sesi sketchwalk ke berbagai tempat tersebut di atas, para peserta juga berkesempatan mengikuti workshop sketch bersama mentor Urban Sketcher (USk) level dunia seperti Darman Angir (Surabaya) mengenai Architectural Sketching, Rudi Hartanto (Semarang) tentang Spontaneous Sketching, Motulz Anto (Jakarta) tentang Travel Sketching, Ch’ng Kiah Kiean (Penang, Malaysia) tentang Ink and Twig Sketching, Khoo Cheang Jin (Penang Malaysia) tentang Watercolor Sketching, Vanont Ruksiriphong (Bangkok Thailand) mengenai Watercolor Sketching.
Di hari terakhir, Minggu (28/8/2016), seluruh rombongan akan dipandu menuju Sam Poo Kong untuk mengabadikan tempat penghormatan bagi Sang Laksamana Ceng Ho dari berbagai sudut. Di tempat ini dilakukan quick sketch atau sket cepat, untuk selanjutnya berangkat ke Borobudur Magelang. Salah satu monumen agung yang ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO ini, tentu saja menjadi daya tarik terbesar bagi para sketser, terutama yang berasal dari luar negara Indonesia.
Para perupa sketsa berasal dari berbagai kalangan pekerjaan dan pendidikan. Mulai dari lulusan desain, seni rupa, pengacara, penyanyi, anak-anak sekolah dasar, bahkan pengusaha. Mereka termasuk hobiis sketsa yang bersahaja. Biasanya akan mengambil tempat di manapun yang disuka, bahkan tidak peduli bila harus duduk tanpa alas di tepi jalan. Karena itu, gelaran event ini menjadi tampak menarik, bukan hanya oleh para perupa sketsa, tapi oleh para warga sendiri yang melihat aktivitas seluruh peserta.
Yudi berharap, para perupa ini akan begitu nyaman dan merasa Semarang adalah kota yang aman. Semua upaya itu didukung penuh pihak Pemprov Jateng dan Pemkot Semarang serta Be Kraf (Badan Ekonomi Kreatif). “Semarang siap menjadi tuan rumah yang baik. Selama tiga hari Semarang menyambut peserta baik dari dalam dan luar negeri agar puas melakukan tamasya sketsa (sketching). Kami sudah siapkan banyak tempat menarik untuk diabadikan dalam karya.” tegasnya. (naskah: Asrida Ulinnuha/foto: Adhit/Heti Palestina Yunani)