Selepas Mengantar Ayah by Zawawi

1 Bacalah

“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.

lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca huruf-huruf yang kami gores ke dada sendiri, kami menjadi gagu dan alpa.

Sidomoro, 18 November 2010

 

2 Pantun Rindu

patuh dalam didih dadaku

jatuh dalam pedih batinku

menyimak amsal sendu tak diam-diam

gelegak magma rindu tak padam-padam

Sidomoro, 19 November 2010

 

3 Selepas Mengantar Ayah

~ het ~

(1)

aku lalui juga

kelak-kelok rute perbukitan

turun ke rerimbun

rumpun bambu dan

pohon-pohon randu

 

genang kenang Sungai Kening

tenang seolah madu

mengalir ke taman

istirahmu

 

doa atau

dosa yang kutabur

bersama bunga

atas masa-masa yang

telah sirna

 

(2)

sepertiku

kau lewati juga

kelak-kelok rute kehidupan

jatuh ke rerimbun rumpun

kepedihan

 

genang Sungai Kenang

tetes seolah deras hujan

mengalir dari mata-mata

hatimu

 

aku melihat musim masih

seperti sediakala

dan matahari pun terbit

dari arahnya

 

“kini aku reranting kering cuklek

tergolek terpejam

terbanting di ranjang,” sedu hatimu

 

‘memang tak mudah, bukan?

melupakan yang pernah dominan,” hiburku

seolah tak ada kehilangan

pun tak ada kegetiran

 

aku ingat suatu saat

“aku harus kuat,” katamu tegar

seperti telah mengakar

di kekar tekatmu

 

ada suara-suara

mungkin serupa puja-puji

di dalam sini

yang seharusnya

tak musti

 

lalu,

“sampai jumpa,” kau berkata

mengakhiri cerita

“sampai ketemu,” sahutku

seperti enggan

menyudahi sebuah waktu

mungkin sebuah harap

seperti sejenis

rindu

 

(3)

di antara riuh bunyi-bunyi

dalam sunyinya hati-hati

menyebut-nyebut Ya Rabbi

terselip juga sebuah nama

namamu juga

 

mencari-Mu

ataukah mencarimu

ketika rasa semakin

merajalela seolah takut

tak kan jumpa

 

(4)

siapa terisak sesak

tumpahkan rindu, juga segala pilu

pada gerimis Minggu

 

oh sang waktu

engkau sisipkan juga

di antara helai-helai rinduku

kunci-kunci pintu

menuju citra maya-Mu

tidakkah rindu ini rindu-Mu

 

(5)

“engkau di mana?,” teriak bathinku

seperti memanggil-manggilmu

“aku di sini, berdiri di antara ribuan hati,” pesanmu

“apa menanti?,” pikirku

 

akhirnya,

aku mendekat menghampirimu

menjabat erat memandangimu

dalam kabut hatiku

 

“happy to see you, Sis,” kataku setelah itu

“happy to see you too,” katamu

seperti sebuah sipu

tak mau menatapku

 

mungkin engkau mengeja

statistika tentang kita

“apakah ini jatuh cinta?” tanya benakku

“bukan, ini bukan jatuh cinta, ini jatuh gila,” sanggah hatiku

 

menggilaimu-Mu

Januari 2010

 

4  Orang-Orang Percaya

 Kau tak menyebut Nama-Ku, kau menyebut namamu

(Gatoloco, Goenawan Mohammad)

mereka menyebut kami

salah jalan,

kami menyebut mereka

sungsang

mereka mengatai kami

mengada-ada

kami mengatai mereka

tak tahu kedalaman

mereka menghakimi kami

sesat

kami menghakimi mereka

“wow hebat”

gelap adalah bukan karena tak ada cahaya tapi gelap

adalah ketika cahaya kami tidak sama dengan cahaya mereka

sesat adalah bukan karena jalan kami tak menuju kepada-Nya tapi

sesat adalah ketika jalan kami berbeda dengan jalan mereka

 

begitulah dunia kami berpercaya

seperti telah menjadi kaki dan tangan-Nya

seperti telah menjadi mata dan telinga-Nya

 

begitulah dunia kami berpercaya

seperti iklan sebuah komoditi di televisi

ketika semua berkata ”kamilah yang paling utama, hanya kami yang paling……..”

Gresik, 2009

 

5 Gandrung

nanar tatap mata

membadai di kepala

sunyi katakata

bergemuruh di sebalik dada

Mei 2008

 

6 Sajak Rindu

 rindumu pedang tajam

diasah sepi

kilaunya menyilaukan

siap melukai

hati siapa lara

tergores mimpi dan melankoli

Mei 2008

 

7 Tema Maut 1

aku dan dia telah

bersepakat pada suatu saat

ketika nafas-Mu Engkau tiupkan

menjelma jadi nafasku

 

aku tundukkan wajah jiwaku

dan mencari-Mu di tengah lolong mimpi pagi hari

tunaikan janji tuk kembali

 

8 Tema Maut 2

begitulah dia

daun-daun menguning kering

pupus menghijaukan mata dunia

melayang hinggap

di tanah-tanah basah

menyuburkan perut bumi

 

demikianlah dia

buah ranum di pucuk reranting

dan rerimbun dedaun

selesai menunai

terlepas dari tangkai

menghias lingkaran perjamuan

sisakan aroma abadi

di hati generasi

2007-2008

*ilustrasi: Ipe Ma’aroef

Tentang Zawawi:

Lahir di Tuban, tanggal 16 April 1973, Alumnus Universitas Dr. Soeteomo, Surabaya, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi. Mengirimkan sajak-sajaknya diberbagai milis seperti Apresiasi Sastra, Penyair, dan Penulis Lepas serta media online seperti Kabar Indonesia, Kompas Online dan media online lainnya, Puisinya pernah dimuat dalam Antologi Puisi Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010. Mengelola blog pribadi beralamat di http://dunia-awie.blogspot.com.