Sebuah Pelajaran dari Mbak Siti

Sisi Lain Yogyakarta Pascaerupsi Kelud (3)

Hujan deras yang mengguyur semalaman meluruhkan abu yang menyelimuti Yogyakarta. Ini sangat mendukung rencana saya untuk bersepeda menuruni daerah Kaliurang. Selain menyiapkan sepeda dan perlengkapannya, saya juga mengenakan masker karena abu vulkanik ini cepat sekali kering, sehingga meski diguyur hujan debu-debu tetap berterbangan. Bersepeda menyusuri sawah, melintasi perkebunan salak, terkadang melewati peternakan ayam atau sapi dengan bau menyengat, membuat perjalanan ini sangat menyenangkan.

erupsi-14Dimulai dari Gardu Pandang Kaliurang, terus menurun hingga kawasan Palagan. Setelah sepeda dan semua perlengkapnya dikembalikan, saya makan siang di Restoran Boyong Kalegan yang terkenal dengan menu sea food, ikan air tawar, dan aneka makanan tradisional. Gado-gado dan es kelapa muda menjadi pilihan saya. Perlahan rasa kantuk datang saat saya menikmati semilir angin, ditemani alunan electone dan suara merdu penyanyinya.

erupsi-13Saya memilih kembali ke hotel untuk beristirahat sambil memikirkan akan makan di mana malam ini.  Pilihan saya untuk makan malam jatuh ke Bale Raos yang ada di kawasan keraton. Saat menikmati hidangan, tiba-tiba terdengar alunan gamelan yang mengiringi sepasang penari. Dialah Arjuna dan Srikandi, yang berkolaborasi dengan lemah gemulai.

Kebetulan malam itu ada serombongan tamu dari luar Yogya yang makan malam di Bale Raos. Para tamu berlomba mengambil foto bersama para penari setelah tarian usai dibawakan. Terlihat senyum sumringah para tamu yang berhasil mengabadikan momen langka itu. Hujan turun semakin deras. Lelah setelah bersepeda rasanya belum tuntas. Waktunya beristirahat…

Bau tanah basah setelah diguyur hujan semalaman membuat pagi di hari ke empat ini sangat nyaman untuk dipakai bermalas-malasan. Namun agenda saya hari ini jelas, yaitu ke Pasar Beringharjo. Well, meski bukan ratu belanja, saya tetap harus ingat orang-orang di rumah yang menantikan oleh-oleh saya, kan?

erupsi-6Mengapa Pasar Beringharjo menjadi pilihan? Karena di sini banyak oleh-oleh, termasuk makanan khas yang harganya jauh lebih murah dari yang ada di toko oleh-oleh. Mengingat hari ini masih banyak tempat yang akan dikunjungi, saya hanya sekedar memesan oleh-oleh yang akan diambil besok sore. Lagi-lagi urap dan aneka sate di depan pasar melambai-lambai, mengajak saya untuk mampir.

erupsi-12Sambil menikmati makanan favorit yang murah meriah ini, saya memasang telinga saya untuk mendengar cerita Mbak Siti, penjual makanan di depan pasar. “Saya ini baru buka tiga hari, Mbak. Ini saja banyak penjual yang belum buka dasaran. Waktu erupsi Kelud, byuh, debunya kemana-mana. Kami nggak bisa jualan,” tutur Mbak Siti sambil menggelengkan kepala, seolah menepis abu yang menempel di jilbabnya.

“Yogya ini memang kota pilihan. Merapi meletus, kena abu. Gunung Kelud yang tempatnya di Jawa Timur meletus, abunya ya ke Yogya,” lanjut perempuan itu sambil terkekeh. “Tapi bagaimana pun ya harus disyukuri, Mbak… orang Yogya itu memang ulet kok.” Luar biasa. erupsi-11Mbak Siti bercerita seolah apa yang terjadi bukanlah bencana, melainkan berkah yang harus disyukuri. Tuhan memang tidak pernah salah.

Apa yang terjadi pada Gunung Kelud bukanlah bencana yang harus ditangisi, namun sebuah peristiwa yang harus disikapi dengan bijak dan lapang dada. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari percakapan ini. Setelah membayar makan siang sederhana tapi sangat nikmat itu, saya berpamitan pada Mbak Siti sambil saling mendoakan agar semua urusan kami dilancarkan. Ah… indahnya didoakan orang yang baru dikenal secara tulus.  (naskah dan foto: Didi Cahya/editor: Heti Palestina Yunani)