Sebelum Terlambat, Datanglah ke Lombok

lombok gili air 1 (3)Saya percaya kata-kata ini; I don’t choose Lombok. Lombok choose me. Ya, Lombok memang telah lama ada dalam bucket-list traveling saya. Namun entah mengapa, belum juga kesampaian untuk menjejakkan kaki di sana. Hingga akhirnya, kesempatan itu datang bersama pemenang Travel N Love yang digelar PADMagz.

Rasanya sangat beruntung karena sekalian dapat berkenalan dan belajar langsung dengan pemenang lainnya yang sudah malang melintang di dunia tulis menulis. Selama di Lombok, saya dan sesama pemenang dibuai dengan keindahan alam Lombok. Tak perlu diceritakan. Semua sudah tahu bukan?

Maka lebih baik saya bercerita mengenai hal-hal unik yang saya jumpai selama di Lombok. Salah satunya simpel; tak ada yang tahu kalau selama di sana saya selalu minum air mineral merek lokal yakni Narmade. Air itu langsung diolah dari sumber mata air alami di Lombok Barat.

Ini salah satu bukti bahwa Lombok masih memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Guide kami pun selalu membanggakan hasil bumi Lombok yang berkualitas. Bahkan dia bilang sapi hingga kelapa Lombok adalah salah satu yang terbaik di Indonesia.

Ketika makan plecing kangkung, pun si guide tetap promosi. Ia mengatakan unsur terenak makanan khas ini ada di kangkungnya. Memang, saya sendiri merasakan kangkungnya lain karena lebih besar gurih dan segar dari kangkung biasanya.

Saya juga percaya kalau Lombok itu Ubudnya Bali. Lombok sekarang ibarat jelmaan Bali 10 tahun yang lalu. Masih ada tempat tempat damai dan tenang yang dapat dinikmati sendiri. Turis asing tetap ada namun belum terlalu penat. Saran saya, datanglah sekarang sebelum semuanya terlambat dan menjadi macet.

Lombok itu sedang dijual habis habisan. Banyak bukit dan tempat tempat dengan pemandagan spektakuler sedang digarap untuk membuka hotel, resort, villa dan kalaupun belum sedang dibangun, tanda ‘Land for Sale’ amat mudah dijumpai.

lombok gili air 1 (2)Kenyataan ini cukup membuat saya miris. Walaupun secara hukum orang asing tidak dapat membeli tanah di sini, namun banyak cara yang dapat diakali agar pihak asing maupun orang Indonesia yang berduit dapat menguasai tanah ini.

Sebagai contoh, 20 persen kawasan Mandalika telah dikuasai oleh investor meski belum dibangun (sumber: Kompas, 2 April 2015). Saya hanya berharap mereka mereka yang mengobral tanah leluhurnya paham risiko apa yang mengintai dari perbuatan mereka.

Cukuplah sudah kita dengar di mana-mana orang lokal yang kian tersisihkan menuntut hak mereka. Namun acap kali kita sering lupa siapa yang memulai terlebih dahulu? Saya rasa lebih bijaksana untuk mereka menerapkan sistim sewa ketimbang menjualnya lalu kehilangan aset.

Sementara mata pencaharian yang tersedia terbatas ditambah kemampuan masyarakat yang mungkin terbatas akan membuat mereka susah mencari pekerjaan kelak. Alih alih, nantinya mereka hanya jadi penonton saja dari berkembangnya Lombok.

Yang jelas, Lombok punya tiga primadona yakni Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Pamor ketiga pulau kecil ini mulai merebak di akhir tahun 1900 dan langsung menjadi magnet pariwisata Lombok terutama bagi wisatawan asing. Ibarat kata, seperti halnya wisatawan asing yang lebih mengenal Bali terlebih dahulu daripada Indonesia.

Begitu jugalah tiga Gili ini di Lombok. Maka makin matbalah kalau saya bilang Lombok adalah salah satu tempat favorit yang pernah saya kunjungi. Keunikan, kekayaan alam dan keramahan penduduknya adalah mutiara terbaik yang saya bawa pulang. (naskah dan foto: Lenny/Heti Palestina Yunani)