Sayonara dari Taman Renungan Bung Karno

Ende, Keindahan di Antara Kisah dan Mitos (4)

Menikmati golden sunrise dan keindahan tiga Danau Kelimutu sambil bercengkrama dengan bapak penjual kopi yang merupakan warga lokal setempat sangatlah menyenangkan. Melangkahkan kaki ke suatu tempat tanpa mengenal bagaimana adat istiadat, keramahan, dan cerita yang tersimpan mengenai tempat tersebut rasanya seperti masakan tanpa garam, hambar.Ende-Danau ‘Tiwu Ata Polo’ – Kelimutu, Ende

Saya mendengar kelanjutan cerita sambil menghangatkan diri dengan secangkir kopi sebelum mengunjungi danau kedua yang berwarna hitam. Menurut cerita si bapak, danau kedua ini bernama ‘Tiwu Ata Polo’ yang berarti ‘tempat roh bagi orang jahat yang meninggal’ dan biasa disebut pula ‘danau sihir’.

Sedikit bergidik ngeri apalagi warnanya yang hitam, meyakinkan saya bahwa cerita tersebut memang benar adanya. Danau terakhir yang letaknya di belakang ini berwarna biru tua, ‘Tiwu Ata Mbupu’. Oleh masyarakat Lio dipercayai sebagai ‘tempat orang tua yang telah meninggal’.

Ende-Danau ‘Tiwu Ata Mbupu’- Kelimutu, EndeSetelah merasa badan cukup hangat, saya berjalan menuju danau yang  berwarna hitam. Berdiri di sekitar pagar pembatas, saya menatap air danau berwarna hitam pekat ini. Air danau terlihat tenang, sesekali terdengar suara burung.

Saya masih asyik membicarakan bagaimana danau ini bisa berwarna hitam dan ternyata warna danau satu ini tidak selalu hitam, terkadang berganti menjadi warna merah pekat. Jadi, ternyata danau-danau yang berada di Kelimutu ini sudah mengalami perubahan warna berkali-kali. Unik bukan?

Yang sempat membuat kami tertegun adalah cerita bahwa perubahan warna air di ketiga Danau Kelimutu ini oleh masyarakat lokal dijadikan penanda peristiwa besar yang terjadi di Indonesia. Seperti, gempa, tsunami di Maumere, bahkan hingga masalah pemerintahan.

Boleh dipercayai atau tidak ya kembali ke pribadi kita masing-masing ya, yang jelas masyarakat setempat lebih mengetahui apa yang berada di daerah mereka pastinya. Untuk mengunjungi danau tiga warna-Kelimutu waktu terbaiknya adalah di antara bulan Juli dan Agustus, karena Kelimutu biasanya diselimuti kabut.

Selain itu, berkunjunglah pada dini hari seperti yang kami lakukan agar tidak ketinggalan momen matahari terbit yang sangat menawan. Untuk penginapan dan transportasi sebaiknya direncanakan terlebih dahulu sebelum berkunjung, karena letak Kelimutu yang cukup jauh.

Pilihan akomodasi di Moni cukup bervariasi, seperti The Kelimutu Crater Lakes Ecolodge, Flores Sare Hotel, Estevania Lodge dengan harga yang bervariatif. Sebagai penutup kunjungan saya di Ende, saya ke Taman Renungan Bung Karno. Sayonara. Sayonara dari sana saya lakukan karena tempat ini bagian dari sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Letaknya di tengah Kota Ende.

Mengapa taman ini bernama Taman Renungan Bung Karno? Sesuai namanya, taman ini adalah tempat Bapak Proklamator kita Ir. Soekarno merenungkan dan menemukan nilai-nilai dasar bangsa Indonesia yang saat ini kita kenal dengan sebutan Pancasila. Patung Bung Karno tampak duduk di sebuah kursi di bawah pohon Sukun sambil menatap laut. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani)