Saujana itu Kelana 5 Hari Sepanjang 560 KM

Merunut Jejak Elang Timur di Bumi Papua (6)

Di hari ke empat, aku kembali membelah hutan belantara Papua dengan lembah dan tepian lautnya. Aku, masih ditemani Timur- menuju sebuah pantai berpasir sangat putih, Holtekamp. Lokasinya di arah tenggara Kota Jayapura, tepatnya di Distrik Muara Tami, Jayapura, Irian Jaya Timur.

Kembali suguhan hutan tropis terlengkap di Indonesia ini kutatap dengan indah. Kadang ada satu dua bus kecil sebagai moda transportasi penduduk menuju Jayapura berpapasan denganku. Hutan yang senyap, lengang dan rerimbunannya merangkul perjalananku.

Dalam perjalanan, kulewati kampung Abe Pantai dan Nafri yang mengelilingi Teluk Youtefa yang cantik. Kutelusuri jalan perdesaan Koya, daerah transmigran yang penuh dengan kebun dan sawah. Di bagian barat desa, Koya Barat, terdapat kolam pemancingan terkenal yang sering disinggahi para mancing mania.

Saat memasuki Koya Timur, aku kaget. Aku berasa ada di Jawa Timur saja, karena banyak terdapat gerbang jalan bergaya khas seperti gapura candi. Namun ada juga rumah-rumah penduduk bergaya Bugis. Ahai, ternyata mereka para transmigran dari Jawa dan Bugis.

Perjalanan yang penuh gambar bicara itu pada akhirnya mencapai jalan yang bercabang. Jika kiri ke arah Pantai Holtekamp, ke arah kanan ke Skouw, yaitu perbatasan darat antara negara Indonesia dengan negara Papua Nugini (PNG) yang terletak di sisi paling Timur Jayapura.

Sebenarnya aku ingin ke Skouw, Desa Wutung, namun aku tak membawa paspor. Sayang memang. Tapi ya sudahlah. Kuikuti Timur menuju Pantai Holtekamp yang bertarif Rp 25 ribu untuk satu mobil dengan seluruh penumpangnya dan Rp 10 ribu untuk motor. Seperti pantai-pantai lainnya, Holtekamp memiliki pasir yang putih lembut, sangat bersih, tidak ada satu sampah pun yang ada di sepanjang pesisirnya.

Banyak anak-anak senang sekali membangun istana pasir di tepi pantai. Aku menatap lepas lautan biru yang terbentang di depan mata, saujana! Ya, sejauh mataku memandang, sejauh itulah harapan cinta dan citaku di ranah Papua.

Embusan lembut angina dari lambaian kemayu pohon kelapa yang berbaris dan bergoyang-goyang dengan indahnya, membuat hati semakin teduh. Nyatanya Papua tak segarang yang ada dalam bayang! Ternyata sangat ramah nan bersahabat.

“Duduk di sana, biar kamu semakin bisa merasakan saujana! Hahaha!”, Timur meledekku dengan meminjam istilah yang aku pakai selama ini, saujana, seperti judul lagu KLA Project. Aku memilih santai sebentar di sebuah pondok terbuka, semacam gazebo yang biasa disebut honai dengan harga sewa Rp 50 ribu.

papua 1pantai holtekam
Pantai Holtekamp

Beruntung aku membawa bekal minuman karena di pantai romantis ini tak ada penjual makanan atau minuman. Untuk yang tak bisa berenang, namun ingin menikmati lautnya, bisa menyewa ban karet dengan tarif Rp 20 ribu. Siapa yang tak bisa berenang? Ya aku, hahaha.

Holtekamp berombak sangat besar. Meski ada sekat pembatas, bagiku itu tetap mengerikan. Maka cukuplah sudah berada di Holtekamp. Sebab untuk sampai ke sana, perjalanan agak tersendat karena lokasinya cukup sulit dijangkau mobil. Maklum jalannya belum terlalu terarah; naik turun dengan jalan tanah sebagian, berlubang.

Makanya meski untuk ke salah satu ‘neverland’ di Papua itu ditempuh dengan jarak 39 km saja, aku perlu waktu 1 jam perjalanan. Namun setika pai di pantai yang benar-benar bersih dengan lautan birunya itu, terbayarlah susahnya perjalanan tadi. Kulihat pantulan cahaya sang bintang raksasa dari birunya laut dan putihnya ombak.

Ditambah kicaun burung, membuat betapa sangat mewahnya pantai putih ini. Hati kotor terasa tersapu bersih, jiwa terasa murni karena hilang sakitnya. Ah betapa agung ciptaan Sang Maha! Aku makin tenang dan tentram berada di ranah Papua yang memang benar-benar megah dari semua sisi!

Usai puas menikmati keindahan Holtekamp, Timur mengajakku menjelajah Koya Timur, untuk mencari makan siang. Aku melintasi jalanan beraspal yang lumayan bagus. Di kanan kirinya terdapat hamparan sawah yang seperti permadani hijau polos, menjanjikan ketentraman yang melihatnya.

Di sepanjang jalan tampak rumah para transmigran dan berjejer penjual keripik singkong, ubi, pisang aneka rasa. Rasanya sangat lezat dan begitu alami di lidah. Itu karena keripik-keripik itu katanya dibuat tanpa bahan pengawet apalagi pewarna. Aku coba satu persatu semua jenisnya. Kubeli juga 4 jagung rebus manis dan 2 ikat kacang rebus hangat, semuanya Rp 35 ribu.

Sampai di ujung Koya Timur, sebenarnya aku makan siang di sebuah rumah makan ikan bakar langganan Timur. Siang itu entah kenapa, beberapa resto yang menjadi incaran tutup. Akhirnya mobil putar balik dan bertemu dengan sebuah rumah makan Theresia yang berkesan hommy.

Rumah makan asri ini berada di antara hutan belantara. Makanya sangat sepi, namun bersih dan menunya lumayan enak. Layanannya pun cepat dengan harga murah. Aku tetap dengan menu andalan ikan bakar bubara, cah kangkung bunga pepaya, dan tahu tempe goreng.

Tak terasa hari telah menjelang sore, mobilpun bergerak kencang menuju Hotel Matoa. Tubuh mulai terasa penat. Terbayang berendam air hangat di bath up dengan aroma therapy bunga mawar merah lagi. Namun sebelum ke hotel, aku beli kue khas Papua, atau masyarakat bagian Timur; bagea.

Bagea merupakan kue kering berbahan utama sagu dengan tambahan kenari, gula, kayu manis dan berbagai rempah-rempah. Siapapun yang datang ke Papua, wajib makan Bagea. Setidaknya harus atau membawa oleh-oleh bagea yang dibungkus dengan daun enan atau daun lontar yang semakin memberi aroma khas.

Satu pak mika bagea berharga kisaran Rp 20-25 ribu tergantung jenisnya. Selain bagea, sebenarnya ada roti bolu gulung abon. Itu khas Manokwari dengan beberapa pilihan rasa sapi, ayam, tuna, keju dan coklat yang dijual Rp 10 ribu per potongnya. Namun sayang kue itu tidak tahan seharian, artinya tidak kondusif jika aku bawa terbang ke Jakarta dengan penerbangan sekian lama.  Selesai salat Maghrib, Timur mengajakku makan malam.

papua 6tea time - b one resto dg latar belakang teluk hambold
B One Resto & Karaoke dengan latar belakang Teluk Hambold

Pilihannya di sebuah resto yang lumayan mewah, di mana sering digelar jamuan tamu-tamu gubernur. Hanya butuh waktu sekitar 10 menit dari hotel, aku sampai di B One Resto & Karaoke di Jl Koti Jayapura. Kuambil duduk di sisi pandang air laut di Teluk Humbold (Yos Sudarso) agar bisa melepas pandang jauh kepada keheningan air Samudera Pasifik.

Pramusaji melayani kami dengan ramah. Sajian menu yang menggiurkan membuatku bingung. Kupilih udang lada hitam, udang saos Singapore, jus tomat, plus brownies ice cream dessert. Sementara Timur memesan cumi goreng, dan cah kangkung bunga pepaya, jus sirsak serta secangkir teh manis hangat. Lagi-lagi, harga yang ditawarkan sangat murah, mengingat makanan yangd isajikan sangat memanjakan lidah.

Belum lagi kalau ditambah dengan layanan mata yang mendapatkan kepuasan menjelejah luasnya teluk yang terbentang di depan, maupun sisi kiri. Tampak di sekitarku para tamu lain mulai dari kalangan birokrat, pengusaha, eksekutif muda, datang menikmati beragam sajian kuliner berkelas dan bercita rasa lokal, nasional, maupun internasional.

Mereka ada yang sekadar hang out menikmati alunan musik syahdu dipadu dengan suasana malam Teluk Humbold. Sepulang dari makan malam aku pindah hotel yang mendekati Bandara Sentani mengingat jam terbangku ke Jakarta esok harinya adalah pukul 8 pagi WIT.  Hotel Sentani Indah yang tampak tersisa gapura megah itu pernah mengalami masa-masa kejayaannya. Itu sebelum ada banyak hotel, turis asing maupun awak maskapai penerbangan yang menginap.

Lokasi hotel bintang tiga itu paling dekat Bandara Sentani, hanya sekitar 5 menit. Jika diamati, hotel ini berada di tengah antara Tugu Mac Arthur dan Danau Sentani. Hotel di Jl Raya Hawai Sentani ini memiliki 100 kamar tipe suite, deluxe, superior, dan standard bertarif Rp 630 ribu-Rp 2,5 juta per malam.

Meski masih lumayan bagus, hotel ini mulai kurang terawat. Padahal dari unsur etniknya yang sangat kuat melekat, seharusnya hotel ini dipertahankan. Fasilitasnya pun sebenarnya lengkap dengan ballroom, meeting room, restoran, dan kolam renang, serta parkiran cukup luas.

Semalam di Hotel Sentani Indah cukup membuatku melepas lelah dan mengendap segala yang telah aku dapat selama di Papua. Keesokan harinya, setelah berkemas-kemas dengan bawaan satu kopor penuh serta beberapa tas tangan, Timur tahu aku kangen masakan Jawa.

Sebagai pamungkas, ia mengajakku sarapan soto ayam di sebuah rumah makan milik orang Jawa,  tak jauh dari hotel. Di Bandara Sentani, seorang porter telah menunggu untuk mengurus semua barang sekaligus urusan check in-ku. Aku menunggu jam terbang di sebuah kafe milik orang Papua asli yang menjajakan kue basah khas Papua; kue lontar (pie susu). Oh rasanya umami! Lezat!

Meski puas, kurasakan, berat sekali meninggalkan ranah Papua yang elok untuk kembali Jakarta. Bagiku tak akan pernah cukup perjalanan dengan Timur sepanjang 560 km di bumi belahan timur Indonesia ini. Ini baru awal dari semuanya! Dan gunungan rinduku pada ranah Papua nan elok semakin tinggi. Berikutnya, Timur menjanjikan Raja Ampat! Siapa takut? (naskah dan foto/Kirana Kejora/Heti Palestina Yunani/selesai)